Pendidikan adalah proses pembentukan cara berpikir. Di mana setiap peserta didik memiliki kognisi yang perlu diulik – kembangkan sebagai wujud proses perekembangan. Proses perkembangan ini berkaitan dengan respon terhadap kompleksitas lingkungan di sekitarnya.
Filsafat adalah cara berpikir yang sepatutnya diperkenalkan sejak dini. Mengapa? Kembali kepada premis bahwa pendidikan adalah proses pembentukan cara berpikir, sedagkan filsafat adalah keragka dari beragam pola pikir.
Penasaran dan kecerdasan alami anak-anak
Berpikir epistimologis adalah sebuah keniscayaan. Disadari atau tidak rasa penasaran yang dimiliki oleh anak-anak besar potensinya. Pertanyaan seputar di mana Tuhan berada? Dari mana kita lahir? Mengapa harus hormat terhadap orang lain? Mengapa harus sekolah? Mengapa harus membaca? Adalah sebuah kesadaran alamiah bagi seorang anak yang sedang menuju fase-fase pertumbuh – kembagan.
Aliran pendidikan behaviourisme dan kognitivisme selalu bertentangan terkait kemampuan fitrah anak-anak. Secara alami anak-anak dibekali kemampuan dan kecerdasan yang hanya perlu diberi stimulus untuk memantiknya. Hal ini masih bisa diterima oleh kedua beah pihak.
Tetapi pada bagian pembiasaan dan praktik pemantikanya kedua belah pihak bertentangan. Menurut pandangan filosof Amerika B.F. Skinner (1904-90) mengatakan bahwa pola sikap dan pola pikir anak dapat dibentuk dan dirubah melalui rangsangan-rangsagan yag diatur secara tertentu.
Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dirumuskan oleh Jhon Locke, di mana pengalaman dan lingkungan merupakan factor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Rangsangan yang dimaksud oleh Skinner terwakili oleh kompleksitas sosial anak, bukan bentukan berbentuk pembiasaan-pembiasaan.
Kebiasaan sebenarnya dapat dibentuk atau terbentuk dengan sendirinya. Anak-anak memiliki cara berpikir yang menyerupai puzzle. Ia akan menemukan apa yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan. Dan inilah yang nantinya akan membentuk pola pikir.
Berikir epistimologis adalah sebuah keniscayaan. Jika mengutip pandangan kognitivisme bahwa anak-anak lahir dengan kemampuan dan fitrah kecerdasan yang berbeda-beda. Dan oleh karena itu perlu ada pemantik – yang menurut behaviorisme adalah ragsangan-ragsangan. Ketika dipadukan maka yang muncul adalah kontruksi-kontruksi pola pikir dan pola sikap.
Penugasan dan evaluasi hanya akan membentuk kebiasaan-kebiasaan kompetitif. Apa buktinya? Tidak sedikit yang hanya focus pada perbaikan nilai (angka) ketimbang pembentukan karakter dan pengetahuan substansial.
Sigmund Freud dalam ceramahnya megatakan bahwa psikoanalisis tentang anak-anak yang – pada dasarnya memiliki pengaruh terhadapa pembentukan pola sikap orang dewasa adalah sebuah kecerdasan alami yang dimiliki oleh setiap anak. Hal ini diperkuat degan tingkat penasaran seorang anak yang sangat tinggi.
Berpikir epistimologis adalah berpikir tentang bagaimana menemukan sebuah kebenaran. Proses pencarian, akumulatif, pertimbangan bahkan penentuan sikap adalah bagian dasar dari berpikir epistimologis.
Thomas Likcnoa brcerita tentang karakter pendidikan anak-anak itu dapat melalui proses internalisasi. Internalisasi yag dimaksud adalah mendialogkan pola-pola sikap dengan kecerdasan bawaan yang dimiliki seorang anak.
Tentu hal ini akan merevisi klaim behaviorisme ataupun kognitivisme tertang pandagannya terhadap anak. Hal ini diperkuat oleh temuan Satrock terkait rentang hidup atau proses perkembangan anak-anak menuju kedewasaan; Perkembangan seumur hidup, multidimensional, multidireksional, keturunan, keterlekatan historis, mutidisiplin, dan kontekstualisme.
Santrock ingin menunjukkan bahwa kecerdasan alamiah yag dimiliki seorang anak dapat mengidentifikasi pola-pola perlembangan kehidupannya. Sehingga yang diperlukan adalah pembentukan kerangka berpikirnya. Pembiasaan berpikir epistimologis akan memacu dan mendukung kecerdasan alami yang dimilikinya dalam proses penentuan.
Pembacaan kembali terhadap kecerdasan alamiah
Manusia adalah hayawān al-nnātiq, dalam keragka logika dikatakan bahwa manusia adalah hewan yag berpikir. Hewan adalah sifat yang mewakili kebutuhan biologisnya, sedangkan berpikir adalah kecerdasan alamiah yang diberikan oleh Tuhan.
Sehingga wajar jika manusia dikatakan sebagai mahluk yang paling utama. Alasan mendasaranya karena cara berpikirnya, karena konsep intektualitasnya, pola pikir spiritualitasnya, dst.
Wa ‘allama ādam al-asmā’a kullahā tsumma ‘araḍahum ‘ala al-malā’ikati……. Adalah bentuk hakikat manusia pada dasarnya memiliki kecerdasan alamiah yang – karena itu ia lebih utama dari makhluk yang lain.
Bagi orang yang beriman tentu tidak menafikan isi ayat di atas. Dengan kata lain setiap manusia memiliki keerdasan yang – hanya memerlukan rangsangan baik pengetahuan atupun lingkungan, untuk menumbuh – kembangkan kecerdasan tersebut.
Menurut Imam Jalaluddin al-Suyuti tafsir dari kata “al-asmā’a kullahā” adalah kesemua nama-nama benda, sampai-sampai pada pinggan kecil, penyauk air dan lain-lain dengan jalan memasukkan ke dalam kalbunya pengetahuan tentang benda-benda itu. Dan tampaknya bukan hanya benda-benda mati, tetapi juga benda-benda yang berakal.
Maka perlu penekanan terhadap konsep dasar pengetahuan tentang manusia, dalam hal ini anak-anak bahwa ia memiliki kecerdasan alami sejak lahir. Ukuran perkembangannya adalah kemampuan membaca dan menghadapi kompleksitas kehidupannya.
Oleh karenanya jika pengetahuan ini lalu diperkuat oleh kesadaran filsafat atau pembentukan cara berpikir epistimologis bagi anak-anak, maka pendidikan dasar menjadi ruang pengayaan terhadap cara berpikir epistimologisnya. Sedangkan pendidikan selanjutnya adalah fase untuk memilih dan menentukan sikap. Di mana penentuan ini adalah hasil dari pembiasaan pola pikir epistimologis.
Karena sekali lagi, anak-anak bukan ajang kontestasi ataupun terselenggaranya kompetisi intelektual. Karena kesiapan mental dalam menghadapi kehiduan nyata adalah bekal utama dari pendidikan.[]

Tinggalkan Balasan