polemik teori pendidikan dengan perkembangan serta tantangan zaman era globalisasi
“Bagaimanakah peran pendidikan sebenarnya? Apakah hanya kemampuan yang bersifat intelektual yang dikembangkan? Untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang dinamis, sehingga mengenyampingkan kemampuan seseorang secara lahir (fitrah)?“
Dalam sesi diskusi di warkop tetangga kemarin, pertanyaan diatas menjadi bahan pembahasan oleh beberapa teman dari beberapa kalangan yakni aktivis, akademisi sampai beberapa kawan yang hanya memiliki legalitas masyarakat biasa (bukan berarti tanpa kemampuan), saur-manuk beberapa teman aktivis memiliki pandangan bahwa pendidikan saat ini seharusnya mengedepankan pada solusi tantangan zaman, di mana pendidikan harus menyesuaikan dengan kemajuan zaman, hal ini pernah disampaikan oleh Jhon Locke (1632-1704) sebagai penggagas aliran pendidikan Empirisme bahwa stimulasi ekternal (rangsangan) di luar kemampuan seseorang memiliki peranan yang sangat besar dalam mengembangkan pribadi peserta didik, dengan kata lain bahwa kemampuan seseorang sejak lahir dikesampingkan, karena mereka (peserta didik) berkembang ketika ada stimulus dari luar yang kemudian direspon oleh pendidik atau peserta didik, dalam hal ini proses membangun pribadi peserta didik ditentukan dengan stimulus ekternal yang muncul saat itu.
Seorang teman dari kalangan akademisi membenarkan bahwa teori Empirisme mempengaruhi terhadap proses pendidikan saat ini, dengan alasan bahwa “buktinya banyak para peserta didik yang memiliki kemampuan di bidang tententu faktanya tidak-kemudain mempraktikan kemampuannya dalam kehidupan social karena iming-iming system pendidikan saat ini.” Karena lembaga pendidikan formal saat ini selalu melakukan pembaharuan terhadap sisitem pengajaran terutama, agar merangsang peserta didik untuk menjadi jawaban atas tantangan zaman yang muncul, walaupun tidak disangsikan bahwa ada campur baur kebutuhan hidup peserta didik yang sudah tertanam sejak ia kecil, dimana ketika besar nanti harus mampu memenuhi kebutuhan primer maupun scunder, hal ini seperti yang disampaikan oleh Abraham Maslow (1908-1970) “bahwa kebutuhan dasar seseorang menjadi wajib untuk dipenuhi karena sudah tertanam sejak manusia itu dalam masa pertumbuhan bahkan sejak lahir, dalam hal ini ada proses penanaman secara terus menerus (continuitas) oleh lingkungan terdekat, yang kemudian menjadi kebutuhan Homeostatis yang berisikan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan rasa cinta, hormat dan kasih saying, kebutuhan untuk dihargai dan kebutuhan aktualisasi diri.” Alih-alih sebagai actor aliran pendidikan Nativisme yang memiliki keyakinan bahwa peserta didik sudah memiliki kemampuan dasar yang baik, namun bisa berubah dengan lingkungan yang ada, tapi Maslow memegang prinsip kebutuhan dalam proses pendidikan.
Namun ada pertanyaan sederhana dari teman saya yang statusnya hanya sebagai masyrakat biasa, bahwa bagaimana pendidikan atau aliran-aliran pendidikan ini membangun moral dan etika peserta didik jika yang ditanamkan sejak lahir adalah kebutuhan-kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan atau solusi dari problem perkembangan zaman? Padahal etika atau moral sangat penting untuk kemajuan hubungan social kemanusiaan. Dari pertanyaan di atas menekankan bahwa sesungguhnya seseorang memiliki kemampuan dan pembawaan yang baik sejak lahir, sehingga ketika ada perubahan yang datang kemudian menjadikan lingkungan dan perubahan sebagai pengaruh yang merubah pembawaan dan kemampuan itu, indikatornya adalah etika serta sikap sosialnya, ya memang jika dilihat pada masa sekarang, semakin banyak lembaga pendidikan yang berdiri dengan penawaran-penawaran yang menggiurkan dari visi dan misi yang ditampilkan oleh lembaga tersebut, namun secara praktis tidak mampu pengatasi polemik pada etika dan moral peserta didik,
Padahal ditegaskan oleh Ki Hajjar Dewantara bahwa pendidikan adala proses wiyata (ajaran, tunutunan) yang menghantarkan peserta didik untuk mengetahui jati dirinya, bukan hanya sekedar menyelesaikan tuntutan dari sistim pembelajaran atau pendidikan yang ada.
Dan ini diwakili oleh penggagas aliran Natularisme (J.J. Rosseau), di mana proses pendidikan sebagai proses pembimbingan, menuntun peserta didik untuk menemukan siapa dan harus bagaimana mereka menjalani hidup, pandangan seorang budayawan dan pemuka agama Romo Mangun Kusumo bahwa “hidup itu perjalanan maju kedepan dan proses control terhadap ego manusiawi.”
Dari sekelumit urun rembug diatas tidak bisa kita salahkan satu sama lain, karena setiap faham memiliki indicator tujuan yang harus dicapai, namun di luar itu semua kita bisa melihat bahwa poros tengah dari setiap aliran pendidikan adalah pembinaan bukan bidikan seperti halnya menyiapkan pistol dengan pelurunya untuk membidik hewan buruan, tapi menyiapka pemburu yang memiliki ide dan sikap yang sesuai dengan moral konstruksi sehingga mampu menciptakan alat pelatuk untuk mendapatkah hewan buruan tanpa menyakiti hewan buruan itu atau sebaliknya.
Dalam hal ini proses pendewasaan pendidikan masyarakat yang notabene sudah terpengaruh dan tergiring oleh keadaan jaman global yang secara tidak langsung mendewasakan masyarakat dalam pola pikir kehidupan sosial, namun satu hal yang selalu menjadi tinjauan ulang adalah sikap atau etika manusia itu sendiri yang lambat laun mulai terberangus, alasannya adalah pendidikan saat ini benar-benar membina dan menuntunkah, atau hanya membidik agar peserta didik menjadi, atau sesuai dengan tujuan lembaga pendidikan bukan sesuai dengan siapa sejatinya peserta didik itu, hal inilah yang jika kita lihat dalam pentas persaingan lembaga pendidikan saat ini. Sehingga apakah pendidikan sudah kehilangan ruh pendidikannya yakni sebagai proses penyampaian wiyata itu sendiri? Allahu A’lam
Luhurian.com 2018
Tinggalkan Balasan