Belajar Bersama 3

IMG_20181019_204818
Ahmad Dahri

“Saat seseorang mulai berkomitmen, maka belajarlah kepada orang lama.”
Ungkapan ini pertama kali saya ketahui saat mendengar siaran di salah satu stasiun radio. Saat itu acaranya adalah bincang tokoh perempuan masa kini. Karena memang bertepatan dengan hari kartini. Stasiun radio yang dipancarkan dari kota Batu itu mengundang seorang tokoh perempuan: Feminisme. Walaupun sampai detik ini masih banyak sekali perdebatan terkait feminitas dan feminisme. Kabarnya ia mendalami gender. Yang saya garis bawahi dari penyiar perempuan itu adalah “Saat seseorang mulai berkomitmen, maka belajarlah kepada orang lama.” Bisa jadi yang dimaksud “orang lama” adalah generasi terdahulu.
Generasi terdahulu diceritakan di berbagai literatur bahwa memiliki komitmennya yang kuat. Memiliki visi dan misi yang teguh. “Orang lama” walaupun tidak semua. Tetapi perhelatan pentas kehidupan saat ini memiliki cita rasa yang beragam. Sehingga tidak jarang bagi generasi Z tidak memiliki kedisiplinan yang kuat. Sekalilagi tidak semua.
Menurut tokoh perempuan di atas “Jika ingin melihat kesungguhan seseorang maka lihatlah kedisiplinanya dan hal itu ditunjukkan oleh orang lama.” Mengapa orang lama? Apakah dalam setiap aspek? Jika demikian, mengapa? Karena pernyataan dari tokoh tersebut secara langsung menggeneralisasikan satu golongan, yakni golongan lama. Dengan begitu secara tidak langsung menilai bahwa generasi Z begitu sembrono, ugal-ugalan dan menganggap remeh setiap tanggung jawab yang diembannya.
Walaupun pernyataan tersebut tidak tersurat, cukup memberi tamparan keras terhadap generasia Z, itupun saat diterima dengan perenungan yang mendalam. Apalagi pernyataannya disertai data yang kongkrit. Contoh kecilnya adalah membaca. Berapa persen generasi Z yang begitu suka membaca, dibanding dengan mereka yang lebih suka melihat video-video dengan durasi singkat. Atau lebih suka membaca kata-kata mutiara, motivasi, dan kalimat-kalimat baper.
Dengan begitu tidak ada sikap salah benar dalam hal ini. karena kedua genarasi memiliki sikap yang wajib dirembug dan dipelajari bersama. Mengapa? Karena di satu sisi generasi lama memiliki tanggung jawab atas generasi penerus, dan di sisi lain generasi Z memiliki wadah yang harus selalu diintrospeksi, disadari dan dipelajari terus menerus. Agar akal budi yang menjadi fitrah setiap manusia menempati pada ruang atau potensi manusia pada hakikatnya. Yaitu pada ranah potensi dan tanggung jawab sebagai manusia.

Surabaya, 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *