Catatan “Jangan Dibaca!”

20190128_143321
Foto : by Ld

Pohon dan kese(jati)an
Sarwono, Hutan, Laut, Gunung dan Batu Karang

**

Pohon besar dan keramat, dari jenis apapun yang seringkali diperbincangkan pasti pohon Bringin, Gondang, Loh, Asem, dan sono. Ini yang memiliki karakter mistik (warisan unen-unen dari nenek leluhur). Tetapi ada juga atau mungkin banyak juga yang menilai bahwa mistis adalah ruang kedap suara yang biasanya para psikolog menyebutnya alam bawah sadar.

Alam menyediakan itu, jadi jangan sekali-kali memejamkan mata sebelah atau menutup telinga akan hal itu. Dipaksakan? Tidak juga. Kalau mistisisme adalah warisan leluhur apakah kemudian akan ditiadakan? Alasannya tidak sejalan dengan era industri 4.0.

Tidak begitu, kita ini kan tahu bahwa mistisisme hanya akan menggagu peran logika, tidak berpikir sewajarnya akal sehat. Akal sehat? Lah…kayu ditebang seenaknya, gunung digerus diambil bebatuan marmernya, sawah dan ladang gurbis dijadikan pemukiman-pemukiman berjuluk perumahan elit, kemudian hutan kering kerontang dan air hilang menyerap ke dasar bumi karena enggan. Apakah itu akal sehat?

Kenapa engaku sewot? Kaau memang mistisisme berjalan sejajar dengan positivisme dalam hal ini perkembangan jaman, berarti manusianya juga berkembang, apa buktinya? Kau tidak bisa menjawabkan? Sebentar, kita kembali ke pelajaran IPA di sekolah dasar, oksigen itu disediakan oleh alam, diwakili oleh tumbuh-tumbuhan, baik rumput dan pepohonan, fotosintesisnya memberi kesan kerjasama yang baik, hubungan yang raket dengan seluruh isi alam, termasuk dirimu. Lantas apakah kita sebagai manusia diam saja, ketika kawan karib yang selalu bekerjasama dengan baik, hilang dirusak oleh tangan begajulan? Tidak toh. Emangnya kawan macam apa kalau diam saja.

Tetapi yang engkau jelaskan itu adalah sain, ilmu pengetahuan, sedangkan mistis? Ya ilmu pengetahuan juga. Mereka atau dirimulah, menganggap mistis karena memang tidak tampaknya kerjasama saling membahu antara alam dan manusia. Andai prosesnya disimbolkan dan terlihat mungkin dirimu akan teriak-teriak sambil ninju-ninju udara, kampanyenya “Go Green, Go Life, Go Go Go….”

Mengapa pohon besar menjadi simbol mistisisme? Ini di kalangan masyarakat desa lho.. Kalau masyarakat kota biasanya bagian meneliti. Karena kerjasama yang dibangun itu sangat karib, alam menyediakan jembatan untuk berbagi kebaikan, berbagi udara dan air, kemudian berbagi rasa cinta menyianginya dan merawatnya.

Perihal keinginan, kalau belum tidur atau mati pasti masih memiliki keinginan. Jadi wajar, cuma bisa atau tidak mengontrol keinginannya? Termasuj menjaga kelestarian alam. Termasuk pula menjaga mistisisme.

Pojok Rumah, 2019

***

Catatan “Jangan Dibaca!”
9319

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *