Menarik Diri

‪+62 838-1711-1112‬ 20190115_103422
Ahmad Dahri

Mengapa saya sering menyendiri? Karena Saya ingin melihat diri saya dari luar saya sebagai manusia. Entah mungkin dengan kontemplasi atau hanya diam saja. Yang terpenting adalah menyendiri. Saya masih tak karuan ajeg melakukan apapun. Komunikasi saya ngosngosan. Belajar saya berujung keterbengkalaian. Sehingga ada inisiatif untuk menarik diri dengan cara sering menyendiri.

Saya sering bertanya-tanya mengapa orang dulu memiliki bilik tersendiri untuk dirinya sendiri, entah di dalam hanya tidur, membaca, merenung, yang jelas membebaskan diri. Dan ternyata setelah beberapa kali mendengar ceramah salah satu Gus Dari Tuban, bahwa jawa mengenal istilah

“kosong adalah isi, dan isi adalah kosong.”

Saya tidak begitu maksud akan ungkapan ini, tetapi sejurus dengan bilik di atas, agaknya memang ada ruang tersendiri bagi setiap manusia, yang seharusnya dijadikan tempat untuk mulat sarira, mawas diri, agar senantiasa memahami dirinya, dan tahu bahwa dirinya belum tahu. Para ulama’ sufi mengatakan man arafa nafsahu arafa rabbahu.

Senyampang saya menarik diri, ternyata ibarat bercermin, ada saja kesalahan dalam diri saya yang — agaknya harus selalu diintrospeksi.

Dan syarat utama menemukan diri sendiri adalah harus terus belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *