Memeluk Kegembiraan

1557122716_5-org
Sumber: Google

Puasa di bulan ramadhan sudah hampir pulang. Ada yang riang gembira menyambut hari raya. Ada yang kian bersedih merasa diri penuh dosa berjibun-jibun meninggi. Dan ada yang biasa-biasa saja. Mungkin itu yang kurang mengenal diri.

Bulan Rasul Muhammad, bulan wahyu diturunkan oleh Tuhan, bulan ampunan, bulan penuh kegembiraan, kegirangan mendekat sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Mengarungi samudera cinta-Nya. Tiada bertepi di bulan suci. Segala doa terdengar dan terpuji. Dari sudut-sudut ruang sepi. Tangis membanjiri keluh kesah di dalam dada. Di bulan penuh cinta dan kegembiraan bersama-Nya.

Saya berbisik kedalam relung sepi. Di sana ada suara yang memantul menggema seperti di dalam gua.

Socrates berkata, ada penyakit dalam diri yang bisa sembuh hanya dengan berpuasa, yaitu penyakit ketidakseimbangan.

Ketidakajegan saya ini menjadikan saya ragu, jangan-jangan saya belum dikatakan berpuasa. Karena saya masih sering terombang-ambing. Oleh segala rupa kesenangan dan kegalauan dunia.

Dunia bersifat mimpi fatamorgana. Bahkan kata Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah dikatakan bahwa duniawi itu hina tak terkira. Dan sayangnya, saya masih serius dan kadang penuh semangat mengejarnya. Mengejar bahagia di atas fatamorgana. Dan ternyata sesaat saja.

Puasa hampir pulang meninggalkan kita. Jika sesal hanya diucap, semoga tiada enggan untuk berbenah sikap, baik jiwa maupun raga. Dan benar kata Mbah Nun, saat kita sudah bersyahadat kepada Tuhan dan Nabi-Nya, maka saat itu juga awal kita berpuasa.

Maka mari bergembira merayakan puasa sepanjang masa. Yang penuh cinta dan berkah cahaya Mahacahaya.

Menuju idul fitri 1440

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *