Penjara Hati

images (5)
Sumber: bebaskanaku.blogspot.com

Siapa yang tidak bangga dengan dirinya sendiri? Sekecil apapun di dalam hatinya pasti bersemayam rasa bangga atas dirinya sendiri. Hasil dari usahanya tercapai. Dan lain sebagainya. Dan bisa jadi ini adalah pemicu awal eksistensi diri. Menyatakan diri agar diakui keberadaannya.

Perihal di atas ada yang mengatakan wajar-wajar saja. Manusiawi banget. Tapi bagaimana dengan keterkaitan dan keberlangsungan. Jika begini maka konsekuensi. Jika A maka B. Dan lain sebagainya. Jika menginginkan kebaikan maka berbaik dirilah terlebih dahulu. Ini kata para arif dan bijak. Sebagian besar ulama’ juga demikian. Bahwa sebelum mewacanakan kebaikan kepada orang lain. Maka ia lakukan kebaikan itu terlebih dahulu, kemudian ia syi’arkan.

***

Bagaimana mungkin saga terlepas dari penjara hati. Yang kian sesak dengan segala iri dengki. Rantainya membelenggu. Mengikat segala peluh risau atas kebahagiaan di luar mata saya.

Kebahagiaan yang bersifat sementara. Bukan ketenangan jiwa yang kiat tumbuh subur dikelilingi savana kesadaran yang luas. Cakrawala yang membiru meraya seperri lautan lepas. Begitulah dada saya. Penuh sesak dengan segala rasa. Tiada tenang melanda dada. Mencari cinta ke Sebermula.

Hanya cinta-Nya yang tiada bertepi. Bersama nikmat yang selalu terberi. Dari pelupuk mata awal ia terbuka, sampai tertidur pulas mengistirahatkan jasad. Bagaimana hati menampung semua kegundahan? Bagaimana pula menempatkan ketenangan agar bermurah diri mengusir kebingungan? Karena hati adalah samudera yang menampung segala.

Hati seperti penjara bagi mereka yang tiada sadar bahwa anugerah Tuhan selalu terpancar.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *