Langgar R.M. Bagus Burhan dan Wajah Jalan Sunyi

IMG_20200104_060230

Langgar pada umumnya adalah bangunan kecil yang digunakan untuk aktivitas ibadah. Sebagian masyarakat menggunakannya untuk menyambut tetamu dari jauh, atau sekedar tempat untuk berbincang dengan sanak kadang.

Langgar juga menjadi ruang untuk mendialogkan penghetahuan, ngaji, dan pendidikan lainnya.

Langgar tidak terbatas oleh aktivitas ibadah formal saja. 

Seperti halnya langgar warisan R.M Bagus Burhan di Komplek Rumah ndalem Kyai Khasan Besari Tegalsari. Memang tampak hanya seperti langgar pada umumnya.

Tetapi lain dari pada itu tercermin bagaimana kondisi intelektual kala itu. Bagaimana fungsi langgar kala itu. Bukan masalah sejarah yang lama, tetapi tata letak dan fungsinya. Fungsinya tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran, ruang diskusi, ruang jagong maton dan lain sebagainya.

Langgar tidak sama sekali mempengaruhi jalannya aktivitas masjid utama. Justru menjadi penopang. Jika di masjid kebanyakan orang sungkan untuk cangkruk sambil menghisap rokok. justru di langgar tersebut orang bisa bebas memposisikan dirinya. Sembari menunggu sholat berjamaah, atau sekedar membahas kondisi sosial saat itu.

IMG_20200104_060003

Tegalsari dikenal sebagai pesantrennya para putera raja, sebagai tempat berlatihnya para kesatria, sebagai ruang kontemplasinya para sufi dan ulama’ jawa. Ruang belajar mengenal diri. Mengenal sangkan paraning dumadi. Mengenal cahaya di atas cahaya. Mengenal segudang pola aktivitas kehidupan sosial kemasyarakatan.Mengenal situasi dan kondisi perkembangan kearifan lokal.

Salah satu wajah jalan sunyi (samadi, tafakkur, taqarrub ila Allah, dll) yang tergambar di Tegalsari adalah langgar R.M. Bagus Burhan atau akrab kita dengan dengan Ranggawarsita. Hal ini menjadi cerminan bahwa setiap manusia sama di mata Tuhannya, yakni sebagai hamba atau abdi. Kawula yang senantiasa berusaha mengabdi kepada Tuannya.

Jalaluddin Rumi dalam salah satu syairnya berujar “Aku telah berdosa, aku juga lah makhluk pendosa itu, wahai sang Raja nan Pemurah, jika buka Engkau yang menerimas sesuatupun selai mereka yang baik, maka kemanakah seorang pendosa sepertiku memohon? Kepada siapakah ia merintih?” Hamba hanya akan menjadi hamba sampai kapanpun, tidak merasa memiliki apapun kecuali pemberian darinya, tidak merasa mampu kecuali lantara la haulaNya.

Maka seorang hamba hanya akan mencari jalan pulang, mengenal sangkan paraningdumadi. Langgar R.M Bagus Burhan itulah wajah dari jalan sunyi. Aktivitas yang dibangun di laggar hanya karena berusaha mencintaiNya.

Dengan menghargai siapapun yang datan dan singgah di Langgar, kemudian menyuguhinya makanan adalah bentuk kecintaan kepadaNya. Atas dasar perintahNya maka menghormati siapa saja.

IMG_20200104_134116

Hal seperti itulah yang hari ini sudah terkikis di langgar-langgar di sekitar tempat kita. langgar terlihat seperti tempat yang tertutup. Langgar hanya sebatas ruang untuk menunaikan sholat dan aktivitas ibadah formal lainnya.

Langgar bukan lagi wajah kemesraan, langgar bukan lagi tempat untuk tapa ngrame, langgar bukan lagi menjadi bagian dari kemesraan sesama manusia.

Langgar terbangun melalui epistimologi kekancan, saling santun, persaudaraan antar sesama manusia. Laanggar bukan ruang ibadah pribadi.

Langgar adalah ruang persetubuhan antara kasih dan sayang sesama manusia.

Sejalan dengan pesan Nabi Muhammad, bahwa saling mencintai (membangun hablum min annas) sesama manusia adalah salah satu indikator keimanan kita kepada Tuhan.

Tradisi langgar, surau atau yang lain adalah tradisi kemanusiaan. Karena bukan masalah bagaimana bentuk ibdahanya tetapi aplikasi dari ibadah atau pengabdian kepada Tuhan itu yang perlu direnungkan. Aplikasi kekancan itulah yang menjadi landasan utama kasih dan sayang. Seperti halnya Tuhan yang selalu mencintai manusia dan makhluk lain tanpa syarat apapun.

Rumah jaga kali, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *