Syabakah al Bashriyah

 

Saudari dari laki-laki yang ahli wira’i[1] ini adalah seorang guru. Di rumahnya beberapa orang belajar padanya. Ia mengajarkan cara untuk bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu dan beribadah.

Menurutnya menyucikan hati dari nafsu itu dengan riyadlah[2]. Karena hati yang suci akan membimbing nafsu untuk selalu beribadah kepada Tuhan. Pada dasarnya nafsu mencegah kita untuk beribadah kepadaNya, maka hati harus disucikan dari nafsu, sebagaimana uraian Abu Sa’id bin al-A’raby dalam kitab Thabaqah[3].

[1]  Wira’i adalah sikap seseorang yang berhati-hati terhadap hal yang makruh dan syubhat (belum diketahui kehalalan dan keharamannya), seperti pada umumnya orang yang memiliki sikap wirai akan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangannya. Perintah Nabi untuk bersikap wirai tersirat dalam haditsh berikut;

“perkara yang haram dan halal diantaranya sudah jelas, tetapi diantara keduanya ada barang yang menyerupai (samar-samar), tidak diperhatikan oleh umumnya manusia, maka orang yang memlihara dirinya dari syubhat, berarti bersih agama dan kehormatannya, sedangkan yang terjerumus kedalam perkara syubhat, berarti terjerumus pula kepada perkara yang haram, seperti orang mengembala domba di sekeliling tempat larangan, mungkin lama-lama ia akan melanggar larangan tersebut.” HR. Bukhari.

[2]  Adalah usaha untuk seseorang agar bisa mengendalikan hawa nafsunya. Seperti membiasakan diri berdzikr secara samar, kemudian selalu berfikir positif dan lain sebagainya.

[3]  Abu Sa’id ibnu al A’raby menjelaskan bahwa, sesungguhnya Tuhan memunculkan ma’rifat (mengenal, mengetahui dan memahami) di atas lautan intuitif qalbu, dan kemudian Dia memuliakannya memalui perbendaharan pengetahuan yang tak terhingga, pancaran cahayanya tak pernah padam, tali menuju kepadaNya tak pernah putus, dan Tuhan selalu membimbingnya dalam keadaan lelap atau terjaga. Sehingga nafsu yang menghalangi cahaya itu harus dihilangkan, nafsu akan menjadi baik kala manusia mampu membimngnya, mampu mengendalikannya, karena nafsu memiliki kecenderungan yang sangat kuat, tak akan ada cinta jika tak berlalu bersama nafsu, bagi makhluk. Cinta akan menjadi sempurna kala nafsu menjadi cenderung bersyukur kepadaNya, tidak ingin berpaling dariNya, menyandarkan apapun kepadaNya, dan melakukan segala sesuatu hanya karenaNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *