Wanita Sufi dari Damaskus, seorang ahli filsafat, ayah al Azdy suatu hari bercerita tentang Mu’minah, ia pernah berkata, “Tidak akan baik dunia dan akhirat jika tanpa Tuhan atau tanpa angan-angan bahwa semua itu adalah ciptaan dan kuasaNya. Barang siapa yang enggan berangan-angan akan segala sesuatu yang ada adalah ciptaanNya serta terlena akan kenyamanan yang mereka rasakan niscaya mereka tidak akan mengingat Tuhan apa lagi merasakanNya.”
“Dari mana anda memperoleh dan merasakan faedah akan apa yang anda lakukan?” tanya ayah al Azdy.
“Dari mengikuti apa yang diperintah oleh Tuhan, melaksanakan Sunnah Nabi Muhammad SAW, menjadi muslim sejati yang patuh, dan mengikuti apa yang pernah dilakukan orang-orang shalih[1] terdahulu,” jawab Mu’minah.
Mufaddal as Sibyan tokoh penggerak kebijaksaan pernah mendengar bahwa Mu’minah adalah Wanita yang zuhud dari damaskus.
“Tenangnya hatiku adalah tiada lebih bagus dari dunia dan akhirat kecuali engkau Tuhanku, maka jangan engkau kumpulkan aku dengan kesepian dariMu dan siksaMu,” pinta Mu’minah.
[1] Orang yang mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya. Salih secara etimologi berarti baik, merujuk pada isi Surat Ali Imran ayat 113-114 yang berbunyi,”mereka itu tidak sama; di antara Ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurusm mereka membaca ayat-ayat Allah pad beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud shalat malam. mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, mereka menyuruh kepada kebaikan, mereka mencegah dari perkara mungkar, dan melakukan pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shalih. (Qs: Ali Imran, ayar 113-114)
Pun juga keriteria ini perlu adanya tafsir, yang kemudian merujuk pada inti dari apa yang dimaksud dengan shalih?, dari ayat di atas Shalil memiliki kriteria; membaca alQuran, membaca berarti bukan hanya melafalkan tetapi juga merenungkan dari apa yang dibaca. Sholat malam, ibadah ini digunakan untuk merenungi segala kehendak Tuhan, begitujuga untuk mengadukan kesalahan-kesalah sehingga mendapatkan ampunan dariNya.
Beriman kepada hari akhir, percaya sepenuhnya akan adanya akhir dari perjalanan kehidupan (dibaca: yakin). Amar ma’ruf nahi munkar. Dan melakukan pelbagai kebajikan, baik memang subjektif, akan tetapi baik akan benar-benar baik saat dilakukan dan ditujukan kepada perkara yang tepat, dari uraian ini penekanan kriteria shalil lebih merujuk kepada moral atau akhlak yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan