Ummu Sa’id binti ‘Alqamah an-Nakha’iyah
Sebagaimana wanita sufi yang lain ia adalah wanita ahli zuhud dari Bashrah.
Ishaq bin Mansyur al-Saluli[1] menceritakan saat Ummu Sa’id mendengarkan ucapan Dawud at-Thai,[2] “terimakasih, Engkau selalu menemaniku dan menghilangkan prihatinku. Kegundahanku di batas tidurku. Aku rindu padaMu sehingga mengacaukan kesenanganku (syahwatku).” Ummu Sa’id melaya
Tweet
Kurdiyah binti ‘Amr
Wanita sufi ini adalah penduduk desa al Ahwaz yang berada di kota Basrah. Ia adalah khadim[4] Sya’wanah.
“Setiap malam aku berada di Rumah Sya’wanah. Saat aku tertidur, Sya’wanah menggerakkan kakiku sehingga aku terbagun. Dia mengatakan, “wahai Kurdiyah, dunia ini bukan hanya sebagai tempat tidur, karena waktu tidur adalah saat di dalam kubur,” ucap Kurdiyah.
Tweet
Demikian besarnya rasa ta’dimnya[5] kepada Sya’wanah. Bagi Kurdiyah ada keberkahan dan kebaikan dalam melayaninya. Keberkahan yang dimaksud adalah adanya ilmu pengetahuan yang bisa diterima olehnya.
“Aku tidak mengagumi bahkan terlena oleh dunia, semenjak aku melayanimu (Sya’wanah). Aku juga tidak memperhatikan rizqiku, tidak mengagungkan orang yang berharta karena aku takut mengharapkannya, dan aku juga tidak merasa hina karena tidak memiliki banyak harta,” ungkapan Kurdiya
Tweet
[1] Adalah ahli Hadits.
[2] Dawud at Thai adalah tokoh Zahid yang dikenal dengan kesederhanaan dan hidup yang sangat mempihatinkan, ia dikenal dengan wali Allah, dikisahkan sebelum memakan roti ia masih sempat membaca lima puluh ayat al Quran. baca keteladanannya di https://kisahteladan.web.id/kisah-sufi/riwayat-daud-ath-thai/
[3] Dalam tradisi ta’lim mutaalim, seorang Guru merasakan kegundahan seorang murid, sebaliknya murid yang benar-benar setulus hati belajar kepada gurunya akan memiliki rasa yang sama, dan berbeda bagi yang hanya lalu saja. Bisa juga dikatakan al ilmu la yanfa’
[4] Pelayan, memulyakan karena ilmunya atau karena ia sebagai budak.
[5] Rasa hormat.

Tinggalkan Balasan