Mbah Sikah

Oleh: Ahmad Dahri

 

Pagi ini tidak seperti biasannya,  tangan-tangan tertelangkup dihimpit oleh selimut tebal, enggan rasanya beranjak dari perapian apalagi dari tempat tidur.  hujan dua hari ini menyita waktu para petani untuk menyapa ladangnya.  Aroma kopi dan singkokng bakar menari-nari di ujung hidung.  Mbah Sikah duduk bersila, ia mengalungkan sarung di lehernya sambil menyempulkan asap rokok dari sela bibirnya yang sedikit terbuka, tak seperti biasanya ia tersenyum padaku agak lama, mungkin karena selimut putih dengan motif garis hitam yang ku jadikan pembungkus badanku,  sehingga terlihat seperti ulat bulu.

 

Setiap pagi Mbah Sikah mampir di rumahku dan langsung menuju dapur, apalagi pintu belakang dapur di rumah menghadap langsung ke jalan tikus menuju ladang sebagian besar orang di kampungku. Ia pergi ke ladangnya setelah menikmati secangkir kopi buatan emak.  Emakku adalah keponakannya,  jadi secara langsung aku adalah cucunya.  Mbah sikah sering bercerita tentang perjalanan Bramakumbara,  dulu didengarnya di radio.  Ia selalu berpesan padaku agar aku menjadi pengembara seperti Pangeran Kidang Kencana,  “pengembara iku pengalamane akeh le,” (pengembara itu banyak pengalamannya) katanya, sambil melahap singkong bakar yang masih hangat, Mbah sikah bercerita tentang perjalanan di waktu mudanya, temannya di mana-mana,  mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk menceritakan satu persatu tempat dan orang yang pernah ia temui.  Memurutnya pejalan itu seperti kupu-kupu yang terbang bebas, belajar bertapa ketika menjadi ulat dan kepompong,  kemudian menjadi kupu-kupu yang terbang menghiasi pandangan setiap orang. Pejalan juga seperti halnya angin yang kadang berhembus menyejukkan tetapi, juga mampu mengobrak abrik bangunan-bangunan dan pepohonan.

 

Setiap bercerita ia akan didengarkan oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Terkadang sampai lupa berangkat ke ladang karena  terlalu lelap dalam cerita perjalanannya, sehingga tidak tersadar bahwa waktu sudah siang. Aku melihat reraut wajah orang-orang yang mendengar cerita dari Mbah Sikah kadang memancar cahaya semangat,  tetapi juga terlihat resah gelisah saat mendengar kesulitan dalam menjalani hidup sebagai pengembara.  Pagi itu ia menutup ceritanya bersama melayangnya puntung rokok kobot dari tangannya, “lek pas melaku ojo dangak ae,  mundak kesandung.” (kalau jalan jangan mendongakkan kepala,  takut tersandung batu kakinya)

 

Di pojok kiri dapur emakku.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *