Saya dan Muktamar NU ke 35 di Jombang

Nerassuara.com – Di pesarean KH. Romli Tamim beserta dzurriyahnya; pesarean KH. Asy’ari beserta dzurriyahnya; pesarean KH. Hasyim Asy’ari beserta dzurriyahnya (dalam foto ini); dan semalaman di pesarean KH. Wahab Hasbullah beserta dzurriyahnya, saya baca tawassul dan sholawat burdah.

Entah mengapa, inginnnya bersama beliau-beliau, apalagi di pesarean yang ada almaghfurlah Gus Dur itu, sholawatan. Tidak Yasin dan Tahlil. Bahkan di salah satu pojok yang aman dari pergeseran para peziarah itu, saya tuntaskan Maulid Diba’ genap dengan mahallul qiyam yang tak begitu keras amat suara saya.

Apa memang begini nuansa Ziarah dan hadir di tengah lokasi Muktamar NU ke 35 di Tambakberas di bulan Maulid ini?

Menghadirkan Kanjeng Nabi dalam hati dan Muktamar. Bahwa ‘man ana laulakum’ (Nabi).

***

Roihan Rikza. Dok.pri Nerassuara.com

Di sebelah timur pagar pesarean, saya mendapati tempat duduk. Cukup untuk dua atau tiga orang. Tapi saya sendirian. Tempat itu mungkin sekali baru ditinggal peziarahnya. Sedangkan disekeliling lainnya penuh. Sampai ke area dalam pesarean. Saya baca tawassul, Budahan awal-akhir, do’a, dan sejenak merenung.

Saya tidak tahu, apakah setiap harinya, pesarean Desainer/Konseptor awal-awal cum Muassis NU, Mbah Wahab ini, silih berganti tamu-tamunya atau tidak yang ziarah. Saya baru pertama kalinya duduk disini. Setelah puluhan, mungkin juga ratusan buka lokasi pesarean–juga notif dan informasi digital melalui smartphone. Yang jelas, kali ini yang ngalap berkah lebih kompleks. Dari seorang bule hingga pejabat negeri. Dari pengurus PBNU hingga anggota kultural aktif NU tingkat anaknya anak ranting. Dari aktivis muda NU hingga para sesepuh pengamal thariqah. Dan, dari seorang pengagum Mbah Wahab melalui karya monumentalnya “Panyirep Gemuruh”.

Semoga Allah paring ridho, melalui Mbah Wahab. Semoga Muktamar NU ke 35, sukses.

***

Ba’da Isya’ saya menyusuri Pondok Tambak Beras yang ternyata belasan, mungkin lebih, jumlahnya. Saya belum tahu pastinya. Yang menjadi tujuan saya adalah lokasi makam Mbah Wahab Hasbullah. Lumayan jauh jaraknya. Motor saya, saya parkir di perkampungan sebelah barat Kampus UNWAHA. Dan kutempuh dengan berjalan kaki karena macet. Lumayanlah buat olah kaki.

Begitu masuk gerbang entah ke berapa. Jelasnya bukan gerbang utama, menuju makam. Pada tiap ada pertigaan atau perempatan sepanjang jalan yang sesak oleh muktamir-in dan muktamir-out, aku bertanya kepada seseorang, tentang lokasi makam tersebut.

“Masih jauh, Pak. Disana, arah sana. Jalan kaki tah Pak? Gak capek?” tanya seorang anak muda di pinggir jalan, berkerumun, saya duga mereka santri disini.

“Ndak papa. Seneng kok. Sambil lihat-lihat lokasi Muktamar ini,” jawab saya.

Sepanjang jalan macam-macam orang bergembira berjualan apalagi sampai dibeli. Aksesoris, kitab, buku, sarung, pakaian, kaus, kuliner dadakan, dan berbagai aneka oleh-oleh kenangan Muktamar NU ke 35, ini tentunya.

***

Beberapa menit sebelum memasuki halaman lokasi pesarean Mbah Wahab yang disambut dengan puluhan galeri foto. Di jalanan depan ada macam-macam penjual.

Di sebelah selatan makam, setelah warung kopi yang cukup luas, ada panggung konser. Di belakang panggung ada bazar yang bisa terbilang elit. Mulai lukisan, sarung BHS, sarung batik Juwani, dan beberapa produk lainnya. Aku hanya lihat-lihat saja.

Lalu benar-benar bergeser ke area makam Mbah Wahab. Saya ambil tempat di sudut bangunan yang menghadap ke selatan. Melihat lalu lalang orang-orang yang keluar masuk pesarean. Yang mau mau masuk, mencari tempat sandal yang aman. Sedangkan yang baru saja keluar bingung nyari pasangan sandalnya.

Beberapa rombongan datang, lalu berfoto. Ada sepasang kekasih satu anak masih bayi, berfoto. Meminta tolong orang lain untuk ambil gambar, dengan background foto-foto salah satu Muassis NU itu. Aku juga sempat abadikan situasi di depan bangunan pesarean itu.

“Mas, boleh minta tolong fotokan kami,” kata seorang pemuda dengan jas hijau GP Ansor yang baru saja keluar dari pesarean, kepadaku.

“Agak rapat. Foto agak resmi. Klik. Tangan mengepal, sahabat. Klik,” lalu aku duduk kembali pada sebuah pojok yang bersandar di sampingku satu ransel dan satu kresek. Lalu aku melihat satu sudut banner dan ada tanda panah sebuah arah. “Cafe Slow. Link” => (pojok arah utara/ belakang gedung.)

***

Sebelum saya mengetikkan tentang kelanjutan sebuah warung kopi Slow Link. Sebelum saya lanjutkan hal lain yang belum ingin saya tuntaskan. Saya ingin berhenti sejenak. Sejeda. Mengalihkan tentang sebuah residu Muktamar pada diri dan efek pasca ditentukannya Rois Am dan Ketua Umum PBNU. Yang seakan, waktu berkehendak dihentikan. Ada gejolak lain.

Bahwa, arus informasi deras tak terhentikan di media sosial saya. Mengenai Muktamar NU Ke 35 di Jombang itu. Terutama sekali setelah beredarnya dua sosok yang akan menahkodai organisasi besar dengan puluhan, bahkan ratusan juta pengikutnya itu.

Bahwa sejak Muktamar NU ke-35 selesai, saya justru merasa perlu sedikit menahan diri untuk banyak menulis tentang NU. Bukan karena tidak punya pendapat, bukan pula karena tidak mengikuti bagaimana dinamika muktamar berlangsung. Justru karena terlalu banyak hal yang bisa dikatakan, saya khawatir setiap kalimat yang ditulis terburu-buru hanya akan menambah riuh yang sebenarnya sudah cukup ramai. Setelah muktamar, kita melihat beragam opini bermunculan. Ada yang puas, ada yang kecewa, ada yang membela, ada yang mengkritik, dan ada pula yang memilih berdiri di tengah sembari mengingatkan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Saya sendiri mencoba menikmati suasana itu dengan lebih banyak membaca daripada berkomentar. Di media sosial, sekali lagi, narasi tentang NU pasca-muktamar bergerak begitu cepat. Satu pendapat segera dibalas pendapat lain. Satu kritik dianggap sebagai serangan, sementara satu pembelaan kadang dibaca sebagai sikap membenarkan segala sesuatu. Padahal NU terlalu besar untuk hanya dipahami dari satu sudut pandang. Di dalamnya ada kiai, santri, akademisi, aktivis, pengurus, warga nahdliyin biasa, bahkan mereka yang mungkin tidak terlalu aktif dalam struktur tetapi merasa NU sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Mungkin karena itulah hati ini ingin berhati-hati. Menulis tentang NU bukan sekadar menulis tentang sebuah organisasi. Ada sejarah panjang, ada tradisi keilmuan, ada pesantren, ada para ulama, ada jutaan warga yang menggantungkan harapan kepadanya. Kalimat yang bagi kita mungkin hanya sebuah kritik ringan, bisa saja dibaca berbeda oleh orang lain. Sebaliknya, pujian yang kita maksudkan sebagai penghargaan bisa pula dianggap sebagai pembenaran. Di tengah suasana seperti ini, saya merasa bahwa memilih kata bukan hanya persoalan estetika tulisan, tetapi juga bagian dari menjaga adab.

Saya tidak ingin menjadi orang yang tergesa-gesa menentukan siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah. Muktamar adalah ruang musyawarah, dan musyawarah selalu menyisakan perbedaan. Ada keputusan yang menggembirakan sebagian orang, tetapi mungkin tidak memenuhi harapan sebagian lainnya. Itu sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pilihan dan pandangan dibawa terlalu jauh hingga membuat kita lupa bahwa setelah semua proses politik organisasi selesai, kita tetap berada di rumah yang sama. Kritik tentu diperlukan. Bahkan NU membutuhkan kritik agar tidak kehilangan kemampuan untuk melakukan evaluasi. Tetapi kritik yang baik semestinya lahir dari kepedulian, bukan dari keinginan untuk menjatuhkan.

Saya juga belajar bahwa bersikap netral bukan berarti tidak memiliki sikap. Kadang netral adalah cara seseorang memberi ruang agar semua pihak bisa didengar sebelum sebuah kesimpulan dibuat. Begitu pula mereka yang mencoba menengahi bukan berarti tidak memiliki keberpihakan. Bisa jadi keberpihakannya justru kepada NU agar tidak terseret terlalu jauh dalam pertengkaran internal yang melelahkan. Dalam situasi seperti ini, barangkali kita membutuhkan lebih banyak orang yang mau menjadi jembatan daripada menjadi pengeras suara.

Pada akhirnya, Muktamar bukan garis akhir perjalanan NU. Ia hanyalah salah satu persimpangan penting dalam perjalanan panjang organisasi yang telah melewati begitu banyak zaman. Setelah spanduk diturunkan, panggung dibongkar, para muktamirin pulang, dan perdebatan di media sosial perlahan mereda, pekerjaan besar NU tetap menunggu: pendidikan, pesantren, ekonomi warga, dakwah, kebangsaan, kemanusiaan, hingga bagaimana NU menjawab perubahan dunia yang semakin cepat. Rasanya sayang jika energi besar warga nahdliyin habis hanya untuk memperpanjang perdebatan tentang siapa menang dan siapa kalah.

Maka untuk sementara, saya ingin menulis dengan lebih pelan. Tidak setiap hal harus segera diberi penilaian, tidak setiap perbedaan harus segera dicari pemenangnya. Barangkali ada waktunya kita berbicara, ada waktunya mendengar, dan ada waktunya diam untuk memberi kesempatan kepada hati agar lebih jernih. Saya tetap mencintai NU dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sebagaimana mencintai sesuatu yang tidak pernah sempurna. Dan mungkin, setelah Muktamar ke-35 ini, salah satu bentuk kecintaan yang paling sederhana adalah berhati-hati dengan kata-kata—agar tulisan kita tidak menjadi api di tengah rumah yang seharusnya kita jaga bersama.

***

Apa yang akan Anda terjemahkan jika Anda membaca tulisan Slow Link? Jika Slow diartikan lambat dan Link adalah jaringan atau sambungan, saya juga sekilas mengartikan demikian. Jadi, frasa slow link bisa dimaknai keterlambatan jaringan atau lambannya sebuah ketersambungan. Ini makna gatuk matuk.

Saya coba tanya ke Syekh Google. Ia menjawab bahwa dalam dunia jaringan, slow link merujuk pada saluran komunikasi yang memiliki kecepatan transfer data (bandwidth) rendah, atau memiliki latensi yang sangat tinggi.  (Ref. Telkom Indonesia).

Tapi tulisan itu jelas. Pada sebuah papan di salah satu sudut utara pesarean Mbah Wahab Hasbullah, berukuran kira-kira satu meteran yang dibubuhi gambar gelas kopi. Di bawahnya ada penunjuk arah ke warung kopi tersebut.

Jika langsung noleh mengikuti tanda panah, tentu tidak ada tanda kalau di pojokan adalah warung kopi. Selain sebuah meja bundar dan satu bangku. Namun, begitu sampai di pojok itu, Anda akan menemui pintu yang ternyata ada sebuah warung kopi sederhana, sunyi, seperti sedang melambankan sesuatu yang terkesan tergesa-gesa, di dalamnya.

Pintunya sedikit terbuka. Saya memberanikan masuk. Ada seorang yang berjaga. Sedang bercakap melalui handphone, merespon pesanan minuman.

“Bisa pesan kopi mas? Kopi susu campur. Tanpa gula,” pesan saya.

“Baik mas. Silahkan duduk dulu,”

Saya mengambil tempat duduk pada salah satu bangku terbuat dari bambu. Ambil Smartphon, rokok, korek, lalu scrol-scrol. Tak ada teman ngobrol. Melepas penat, setelah seharian kelilingi Jombang.

Di sudut lain, tersedia ruang untuk ngopi dengan mode lesehan. Beberapa meja mini terhampar. Sedang sisi lain ada meja besar dan bangku besar. Cukup 3 sampai orang ngopi sambil bersandar pada tembok.

Asap mulai mengepul sambil mbatin. Ini mungkin makna Slow Link. Memperlambatkan diri dalam berjejaring, sebelum akhirnya menuju ruang Fast Link, dengan memasuki ke dalam pesarean, Mbah Wahab itu.

Atau boleh bagi seseorang untuk melakukan hal sebaliknya. Fast Link dulu yang secara harfiah berarti tautan cepat atau jalur cepat di dalam pesarean Mbah Wahab, lalu menetralisir ke ruang Slow Link. Untuk memaknai kembali apa yang telah dijalani di pesarean tersebut.

Bukankah merenung itu cenderung bergerak lambat? Dan merenungkan Muktamar NU ke 35 di Jombang kali ini adalah cara bersyukur, karena bisa hadir, meskipun bukan sebagai Romli (Rombongan Lillahi Ta’ala). Tapi Senli, Sendiri Lillahi Ta’ala.

***

Kamis malam. 27 Agustus 2026. Sesudah duduk di timur pagar pesarean KH. Wahab Hasbullah, tawassul, baca Burdah, tengadah tangan memohon kepada Allah dengan tawassul kepada Muassis NU itu, saya undur diri. Bertemu dengan dua senior PMII dengan dua teman lainnya yang masih tahlil. Lalu saya duduk disampingnya. Bercengkrama sejeda. Berpisah dengan simbol jabat tangan.

Lalu saya ambil posisi di pojok timur-selatan. Disana ada colokan yang saya manfaatkan untuk isi baterai handphone. Merebahkan tubuh yang hampir satu jam saya beristirahat disitu. Dengan suara dan doa-doa yang tak berhenti dari silih bergantinya yang datang ke pesarean itu.

Sekitar jam 11 malam lalu saya keluar dari pesarean. Ambil air dari sumur di depan pesarean dengan menimba langsung. Memasukkan ke dalam gentong, lalu saya pindah ke botol, untuk saya minum dan bekal perjalanan.

Tak berselang lama, Haji Andik Wahyudi, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kepanjen berjalan memasuki halaman depan pesarean. Mesti dengan rombongannya. Saya membatin. Bergilir saya seakan menyambut, bersalaman bergantian, dan saling respon. Ada Rois Syuriah, Gus Aminudin Kholis (Gus Udin); Katib Syuriah, H. Moh. Muslih; Wakil Ketua, H. Nahkrowi; Wakil Ketua, M. Iswahyudi; Sekretaris MWC NU, Pak Eka Chanani Bahri; dan Wakil Sekretaris, Ahman Amin Suudi atau yang akrab dengan panggilan Cak Suud.

Lalu kami ambil gambar pada background galeri KH. Wahab Hasbullah yang menghadap ke arah selatan itu. Meskipun saya tidak bisa ikut rombongan MWC Kepanjen itu, saya sudah matur duluan, bahwa saya akan berangkat terlebih dahulu ke Lokasi Muktamar NU di Jombang. Untuk menemui Ibunda saya yang hadir rombongan bersama pengurus Muslimat dari Lampung. Tak nyangka jika takdirnya bertemu di depan halaman pesarean itu. Allahu yuwafiquna ila sabilir rosyad. Amin.

Dan kemudian saya meneruskan perjalanan saya. Di malam itu. Beliau-beliau ke dalam pesarean dan saya kelilingi Pondok Pesantren Tambakberas.[]

Avatar Roihan Rikza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *