kurikulum dalam kacamata santri

  1. Kurikulum klasik dan kontemporer.

Kurikulum atau manhaj memiliki peranan yang mendalam terhadap proses pendidikan, kurikulum sebagai acuan proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara nasional, konstitusional atau institusi, mangacu pada pendapat Harold B.Alberty bahwa ” curiculum is all of the activities that are provided for the students by the school “, dalam artian bahwa kurikulum itu sebagai acuan kegiatan pembelajaran disekolah terlepas secara praktiknya sentralisasi atau disentralisasi[1].

Kurikulum yang muncul sejak tahun 60 an atau kurikulum 1975 sampai sekarang dengan adanya kurikulum 2013 atau lebih terkenal dengan K13 ini menunjuk konsistensi pemerhati pendidikan yang mana berupaya mencapai tujuan pendidikan yang berlandaskan pada pembukaan undang-undang yang berbunyi “ mencerdaskan kehidupan bangsa” salah satunya, dengan tujuan tersebut memberi motivasi terhadap pemangku pemerhatipendidikan secara konstitusi diisi oleh Menteri Pendidikan dan secara praktek yang diisi oleh pelaku pendidikan yaitu semua warga negara, apa lagi masa Orde lama dan Orde baru menyisakan sebongkah sejarah yang secara keadaan negara dan zaman selalu menyesuaikan. Dengan semikian ada konsep yang selalu berubah-ubah dengan mempertimbangkan kemajuan zaman, maka pertanyaan yang muncul biasanya “apakah dengan pergantian menteri atau pergantian kekuasaan suatu negara harus pula berganti konsep kebijakannya dalam hal ini pendidikan dan itu adalah kurikulumnya? “, jawabanya iya karena jika kita memandang itu sebuah perjalanan misi dan visi yang bertujuan memberikan kesejahteraan maka perubahan konsep pendidikan dengan tujuan yang baik adalah sebuah keniscayaan.

Jadi menurut saya kurikulum klasik dan kontemporer adalah jawaban atas permasalah pendidikan yang muncul pada masa-masa itu sehingga setiap kebijakan baru maka akan memunculkan inovasi atau pengembangan dari pada kebijakan yang lama. Kurikulum klasik pengembangannya disesuaikan dengan keadaan negara dan peserta didik dalam artian masyarakat saat itu begitu juga kurikulum kontemporer juga menyesuaiakan dengan keadaan warga  negara sebagai peserta didik. Dengan kemajuan tekhnologi misalnya maka kurikulumnya mengharuskan pemakaian tekhnologi yang ada dalam proses pembelajaran dengan tujuan yang mengacu pada kurikulum yang ada atau disepakati oleh semua pihak.

Perbedaan dan persamaan kurikulum klasik dan kontemporer salah satunya adalah sama-sama memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ingin mempermudah para pendidik dalam menyampaikan bahan ajar sehingga peserta didik dapa memahami dengan mudah isi dari bahan ajar, sama-sama bertujuan mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui pendidikan, sama-sama mengatur proses pembelajaran akan tetapi perbedaannya adalah proses dan standar yang harus diicapai itu menyesuaikan dengan keadaan masyarakat pada masa tersebut sebagai peserta didiknya, hal ini lah yang kadang menjadi perdebatan panjang dengan dalaih mengapa tidak menggunakan kurikulum satu saja namun sesuai dengan semua masa.

Untuk lebih awal pengertian kurikulum secara umum adalah komponen utama dalam pembelajaran dan proses pengembangan sistem pembelajaran di institusi pendidikan. Yang mana kalo menurut pandangan Hilda Taba, kurikulum adalah sebuah rancangan atau sebuah sistem yang tersusun secara beralur dari sebuah pembelajaran, dengan mempertimbangkan segala hal baik dari proses pembelajaran serta mengenai perkembangan individu. Beda lagi pandangan Romine Kurikulum adalah bagian dari pendidikan yang mencakup semua aspek dan titik temu dari pembelajaran, aktivitas belajar, dan juga pengalaman yang diikuti oleh para peserta didik dengan bantuan berupa arahan dari pihak sekolah, baik di dalam kelas maupun diluar kelas, sedangkan menurut Murray Print Kurikulum dapat didefinisikan sebagai sebuah ruang pembelajaran yang terencana, yang diberikan secara langsung kepada siswa oleh sebuah lembaga pendidikan dan pengalaman yang dapat dinikmati oleh semua siswa pada saat kurikulum tersebut diterapkan.Kurikulum juga merupakan sejumlah mata pelajaran yang ada di institusi pendidikan seperti sekolah, yang juga harus ditempuh dan juga dipelajari oleh setiap siswa guna memperoleh sejumlah ilmu dan pengetahuan[2].

Dari pengertian diatas kesimpulan sementara atau hipotesisnya adalah kurikulum itu acuan dalam pendidikan. Kemudian ada pengertian secara tradisional dan modern, dalam artian pengertian tradisional itu seperti The curriculum has mean the subject taught in school or the course of study (Ragan, 1966) yang mana kurikulum itu hanya sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik disekolah agar mendapat ijazah[3]. Yang modern ya seperti pengertian diatas. Akan tetapi jika merujuk pada konsep kurikulum klasik dan kontemporer maka seperti yang dibahas di atas.

Jika difokuskan terhadap pembelajaran bahasa arab maka perbedaan Dalam buku bahasa arab untuk Madrasah Tsanawiyah berdasarkan kurikulum 1994 tulisan Chatibul Umam bahwa materi pelajaran didasarkan untuk model ‘fungsional-nasional’ harus berangkat dari kesadaran bahwa komunikasi harus diajarkan. Ini menunjukkan komunikasi merupakan tujuan terpenting. Begitupun juga dalam buku pelajaran bahasa arab untuk kelas I, II, dan kelas III Madrasah Tsanawiyah yang ditulis oleh D. Hidayat berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi yang lebih menekankan pada penguasaan kompetensi komuikatif. Materi-materi pelajaran komunikatif bukan berarti tidak diajarkan materi-materi yang berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa. Akan  tetapi kaidah bahasa diajarkan hanya mendukung kemahiran ketrampilan komunikasi atau dengan kata lain struktur-fungsional karena pada hakekatnya pendekatan komunikatif memiliki empat orientasi atau tujuan gramatikal, sosiolinguistik, wacana, dan kompetensi strategi[4]. Sedangkan untuk kurikulum kontemporer sebut saja kurikulum 2013 atau kurikulum KTSP lebih fokus pada pembelajaran bahasa arab sebagai pembelajaran agama dan mengaitkan dengan penerapan tingkah laku dan tanggung jawab.

  1. Pendekatan psikologi dalam pembuatan /pemilihan bahan ajar

 

Kurikulum sebagai acuan pembelajaran memiliki beberapa landasan salah satunya adalah landasan Psikologis yang mana kaitanya adalah dengan keadaan pribadi pelaku pendidikan dan peserta didik dalam artian pelaku pendidikan sebagai pemilih bahan ajar atau materi dan teknik dalam pembelajaran kemudian dikaitkan dengan latar belakang psikologis peserta didik, tujuannya memudahkan dalam menyampaikan materi pembelajarannya. Dalam bukunya Zainal arifin disebutkan bahwa “ karena apa yang disampaikan menuntut peserta didik untuk melakukan perbuatan belajar atau sering disebut proses blajar”[5]. Dengan begitu dalam pengembangan kurikulum membutuhkan dua landasan psikologi, yaitu psikologi belajar dan psikologi perkembangan. Kedua landasan itu dianggap penting dalam menentukan Tujuan, materi , proses pembelajaran dan evaluasi.

Dalam hal ini fokusnya dalam menentukan atau memilih materi pembelajan. Dalam kaitan ini kita singkronkan dengan psikologi belajar, dimana psikologi belajar berarti ilmu yang mempelajari tentang bagimana peserta didik melakukan perbuatan belajar[6]. Dimana membahas tentangperubahan tingkah laku atau sikap pengetahuan dan keterampilan yang berkembang atau mengurang dan lain sebagainya. Dalam hal ini banyak teori-teori belajar yang dianut karena beragam sekali definisi belajar iu sendiri seperti teori Disiplin mental behaviorisme yang mana mengutamakan stimulus dan responya kemudian ada teori gestalt atau teori lapangan.

Dalam psikologi perkembangan tujuan akhir pendidikan adalah agar peserta didik menjadi manusia-manusia terdidik, berpengetahuan dan bermoral. Dengan asumsi bahwa peserta didik dibimbing, dilatih dan dididik(proses Edukasi). Jika terjadi kegagalan maka asumsi awal adalah ini kesalahan guru, orang tua dan masyarakat, dan bukan kesalahan peserta didik karena tidak ada peserta didik yang tidak bisa diajar(Unteachable). Memang benar bahwa setiaporang itu bisa diajari bisa didik dan itu ada kaitanya dengan perkembangan  secara psikologis dan tingkat kedewasaan terlepas dari pengaruh pengetahuan dan lingkungan yang ada. Karena jika dintinjau lebih dalam lagi ada kaitannya dengan uangkapan jawa bahwa “ Guru iku digugu lan di tiru “, yang mana berarti guru itu di jadikan acuan atau patokan kemudian ditiru, Kaca mata psikologinya adalah manusia itu punya sifat meniru dalam artian peserta didik mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi akan melihat pendidik dan meniru beberapa tingkah dari pendidik.

Jadi dengan gambaran singkat yang mengacu pada teori Behaviorisme memberikan dasar bahwa landasan psikologis penting dalam pemilihan materi dalam penyusunan kurikulum dan pembelajaran, karena bersinggungan langsung dengan peserta didik dan pelaku pendidikan dan berbagai elmen pendidikan seperti orang tua dan Masyarakat.

  1. Keterkaitan Komponen kurikulum.

 

Komponen kurikulum yang terdiri dari Tujuan, materi, proses, dan evaluasi, pembentukan kurikulum dengan berlandaskan yuridis, filosofis, psikologis, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan budaya.  Program kurikulum berisi jenis-jenis mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tersebut dan berisi program dari masing-masing mata pelajaran yang berupa uraian dalam bentuk pokok bahasan yang dilengkapi dengan mengacu kepada tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam mata pelajaran bersangkutan. Isi dari program-program kurikulum ini disesuaikan dengan tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai melalui sekolah tersebut baik secara keseluruhan maupun dalam mata pelajaran. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, digunakan strategi pelaksanaan suatu kurikulum yang tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran, cara dalam menilai, dan cara dalam mengatur kegiatan sekolah secara keseluruhan[7]. Jadi, kesimpulannya isi kurikulum disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui sekolah tersebut dan untuk mencapai tujuan tersebut digunakan strategi pelaksanaan suatu kurikulum kemudian untuk mengetahui sejauh mana pencapaian maka membutuhkan evaluasi dalam kurikulum tersebut.

Dinamika yang ada dalam setiap komponen kurikulum ini menjadi hubungan yang erat dalam kesuksesan proses pembelajaran karena dengan demikian kurikulum sebagai acuan pembelajaran akan benar-benar dijadikan tolak ukur dan tuntunan dalam proses pembelajaran. Dari gambaran diatas intinya adalah salaing melengkapi dan saling mengisi antar komponen.

Contoh simpelnya adalah dengan adanya kurikulum 2013 dalam pendidikan agama dan bahasa arab dapat di akses di http://KurikulumMadrasah.Pma.912 , yang mana dalam kurikulum ini mulai dari tujuan dengan berlandaskan pada landasan yuridis, psikologis, filosofis, ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta budaya menghasilkan bahan ajar dalam bentuk buku pedoman yang sesuai deng K13 (kurikulum 2013), kemudian secara proses diatur dalam silabus yang berisi kompetensi isi(KI) kemudian diarahkan pada evaluasi-evaluasi yang sudah diatur dalam kurikulum tersebut.

  1. Implikasi Pendekatan Iptek dalam Kurikulum Bahasa Arab

 

Tekhnologi berasal dari kata tekhnik yang berarti cara yang kemudian menjadi ilmu yang memepelajari tentang cara untuk menemukan solusi jadilah tekhnologi, bentukan dari kata tekhnik dan logos ini sebenarnya adalah ilmu pengetahuan tenang cara yang kemudian dalam khalayak umum dengan pergumulan yang ada dan berkembang ini diartikan sebagai alat yang baru sebagai solusi atas masalah yang dihadapi, dalam pembelajaran misalnya munculnya komputer, slaid dan proyektor menjadi tanda bahwa tekhnologi itu diartikan sebagai alat saja dan berbentuk hardware padahal jika dilihat lebih lebih  jelas lagi papan tulis, kapur tulis, alat hitung dari potongan lidi itu termasuk tekhnologi.

Dengan gambaran diatas berarti harus ada peyatuan presepsi tentang teknologi ini sebagai alat atau sebagai ilmu?, asumsi tentang ilmu pengetahuan adalah seperangkat data yang disusun sistematis dari hasil riset atau penelitian, kemudian tekhnologi adalah wujud dari ilmu pengetahuan[8]. Dengan demikian theknologi menjadi seperti asumsi yang pertama yaitu tekhnologi hanya sebagai hardware dan software pengetahuan saja, padahal tekhnologi itu ilmu pengetahuan tentang cara.

Pengertian diatas sebagai gambaran bahwa tekhnologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan,

Teknologi banyak di gunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Tujuannya adalah untuk menciptakan suatu kondisi yang efektif, efisien, dan sinergis terhadap pola prilaku manusia. Produk teknologi tidak selalu berbentuk fisik, seperti komputer, televisi, radio, tape recorder, video, film dan lainnya, tetapi ada juga nonfisik seperti prosedur pembelajaran, sistem evaluasi, teknik megajar dan sebagainya. Produk teknologi tersebut banyak digunakan dalam pendidikan sehingga memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap proses dan hasil pendidikan[9].

Kaitannya dengan pembelajran bahasa arab, tekhnologi itu berbentuk hardware(perangkat kerasnya) seperti adanya pemanfaatan hasil tekhnologi yaitu laptop dengan softwarenya Ms Power Poin dalam pembelajaran menulis mufradat, atau jika terpencil dan belum memadai alat-alat seperti diatas memakai papan tulis dan kapur tulis,  dalam prosesnya menunjukkan cara penulisa ini ada proses visual yang tampak kemudian ditiru oleh peserta didik teknik penulisannya. Hal seperti ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan tekhnologi memiliki tujuan mempermudah peserta didik dalam membangun kemampuanny dalam semua bidang kalau dalambahasa arab ada bidang kalam, kitabah, qira’ah dan istima’.

Kurikulum tradisional sebenarnya sudah mengenal tekhnologi seperti pembelajaran kitab kuning, orang mampu menulis dan mengarang kitab kuning berarti dia sudah menciptakan tekhnologi, yang mana seiring berkembangnya masa kitab kuning itu dilengkapi dengan kampus bantu, semskin msjunys zaman pembelajaran bahasa arab dalam bidang qawaid wa tarjamah menggunkan komputer yakni softwarenya Mspower point atau Exel, dengan begitu tekhnologi itu sebenarnya sudah ada pada setiap kurikulum entah itu kurikulum klasik atau kurikulum kontemporer.

[1]  Zainal Arifin, “Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum”, Bandung, Rosda karya, 2011.  Hal. 2

[2]  http://www.informasi-pendidikan.com/2013/12/pengertian-kurikulum-berdasar-para-ahli.html.

[3]  Zainal arifin, Konsep dan model pengembangan kurikulum, Bandung Rosda Karya 2011.hal 03.

[4]  Syukur Ghazali, Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa Dengan Pendekatan Komunikatif-Interaktif (Refika Aditima, Cet. Kesatu, 2010), hlm. 75.

[5]    Zainal arifin, Konsep dan model pengembangan kurikulum, Bandung Rosda Karya 2011.hal 56.

[6]    Ibid. Hal. 56

[7]   https://elvaharya.wordpress.com/2013/03/02/definisi-kurikulum-dan-keterkaitan-antar-komponen-kurikulum/

[8]   Hamalik, O.. Pengembangan Kurikulum: Dasar-dasar dan Perkembangannya. Bandung 1990: Mandar Maju. Hal 56

[9]  Ibid.56


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *