
“ngebut benjut”, kecepatan dikurangi banyak anak kecil, yang kencing disini hanya anjing!!!!
Istilah-istilah diatas merupakan ungkapan yang bertujuan menyampaikan informasi lewat Bahasa tulisan, Bahasa baliho, iklan dan lain sebagainya. Paradigma setiap orang jelas berbeda, memahami tulisan seperti diatas juga pastinya memiliki sudut pandang yang berbeda, bisa jadi memiliki pemaknaan yang berbeda pula. Linguistic ( ilmu kebahasaan) melihat pada focus pesan yang disampaikan sebnarnya bukan pada bentuk dan gambar yang menawan, Oleh sebab itu tidak sangkal jika setiap orang berbeda-beda memahami makna atau pesan tulisan-tulisan tersebut. Dan sebenarnya disitulah peran perpaduan ilmu social dan Bahasa, ilmu social mewakili gambaran masyarakat yang ada danilmu Bahasa mewakili pesan yang disampaikan, dan adakalanya Bahasa pesan terbentuk oleh keadaan social yang ada dalam lingkungan social masyarakat tersebut. Jadi tidak salah jika Fendinan de saurssure mengatakan bahwa tingkat social akan mempengaruhi tingkat Bahasa yang diungkapkan.
Aspek social seperti apa, yang mampu mempengaruhi tingkatan Bahasa seseorang? Keadaan social yang seperti komunikasi social yang keras misalnya, lingkungan para petugas keamanan negara maka Bahasa yang muncul adalah bahas ayang tegas, kaum santri atau priyai maka akan cenderung lembut dan Bahasa yang diungkapkan cenderung halus, dan disinalah sebenarnya ungkapan “ Bahasa mencerminkan tingkah laku social” berlaku, jika menuurut imam Gozali “ tingkah social menunjukkan tingkah hati” maka kebahasaan itu tergantung pada social kultur yang terbentuk, Allahu a’lam.
Tinggalkan Balasan