korelasi 9 prisma pemikiran Gus Dur dan Ki Hajjar dewantara

​Prisma Pemikiran Gus Dur dan Pendidikan dalam pandangan Ki Hajjar Dewantara

Oleh : Achmad Dahri Ahr. (Lek Dah)*


Malang, jika bebicara tentang Gus Dur, dalam dunia akademisi pasti membahas tentang nilai pluralnya yang menjadi kajian diskusinya, berbeda lagi jika dalam dunia santri dan masyarakat luas, pasti tentang karomah dan kewalian beliau, jarang sekali yang focus kajiannya tentang bagaimana nilai pendidikan yang sejatinya dibangun oleh Gus Dur? Karena dengan pendidikan yang sekarang mulai trend dengan lembaga favorit yang menjajikan pekerjaan setelahnya, juga pun sebagai batu loncatan untuk menyandang jabatan pegawai negeri (bagi tenaga pendidiknya) padahal pendidikan dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah wiyata yaitu memberi tuntunan terhadap anak-anak yang sedang belajar, jika ditranformasikan dalam pandangan luas menuntun setiap manusia terhadap pendangan atau prilaku yang lebih baik.

Ya ,,,,pandangan Gus Dur yang kemudian dirangkum menjadi sembilan prisma pemikiran Gus Dur yaitu ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, keksatriaan, kearifan lokal selalu menjadi icon pembahasan atau diskusi santai diberbagai seminar atau dikedai-kedai kopi, namun ada pertanyaan sederhana yang  dalam hal ini apa sebenarnya tujuan Gus Dur dengan berfikir dan bertindak seperti itu sehingga khlayak umum mampu mensederhanakan pemikiran beliau? Karena Pancasila pun secara tidak langsung dengan penjelasan dalam butir-butirnya mengatur semua itu, UU di negara yang heterogen ini juga mengatur ke 9 nilai tersebut, justeru dalam islam khususnya sangat memerintahkan hal tersebut, walaupun ada oknum yang beragama islam secara langsung mengingkari beberapa nilai diatas dan menganggap bid’ah (mode baru) yang tidak mencerminkan ummat Sang pioneer Islam sayyidina Muhammad SAW,sehingga seharusnya jika memang mengaku ummat Nabi ya harus mencontoh Nabi,

Namun terlepas dari itu semua korelasi 9 prisma pemikiran Gus Dur dengan pendidikan yang ada saat ini yang penulis coba kaitkan yakni terhadap sikap moral masyarakat, karena faktanya banyak sekali orang berpendidikan menyandang gelar seperti rel kereta api panjangnya, cumloud peringkatnya, bahkan ya,,,,,disamakan tindakannya dengan para kholifah ar-Rasyidin, atau dianggap sebagai kyai yang mengikuti ajaran lurus, tidak mampu mengubah konflik-konflik kemanusiaan dalam hal ini yang berkaitan dengan prilaku atau nilai moral manusia itu sendiri, bercermin pada ungkapan Gus Dur (1998) terkait dengan mekarnya kembang kumpulan para cendekiawan islam, yakni “ islam pada dasarnya adalah konstruk moral yang berpijak pada persepsi rasional dan imbauan spiritual, bukannya system masyrakat yang semata-mata bertumpu pada kekuatan fisik”, dari sini poin terpenting yang penulis lihat adalah MORAL yang harus dibangun, moral terhadap Tuhan, moral sesame manusia, moral terhadap semua agama, moral terhadap perbedaan strata social, moral terhadap lingkungan yang ada, dan moral-moral yang lain, yang kesemua ini dalam pandangan Ki Hajjar Dewantara bertumpu pada pendidikan karena pendidikan berisi tentang tuntunan, berbeda dengan pengajaran yang bersifat fakultatif tuntunan terhadap kodrat seseorang yang dalam hal ini adalah watak manusia, keadaan sikologis manusia dan mental manusia. Jika salah tuntunannya atau lebih terabaikan (karena sibuk akreditasi misalnya) maka tidak nilai pendidikan yang tersampaikan pada peserta didik(jika lingkupnya lembaga pendidikan), sehingga ungkapan bijaknya adalah pendidikan bisa dimana saja (akan tetapi itu bagi mereka yang mampu berfikir dewasa, dalam hal pandangan dan sikap) lagi-lagi moral yang berpengaruh. 

Sehingga pendidikan menjadi pemicu kembang kempisnya moral seseorang, dalam hal ini Gus Dur mengemasnya bukan berbentuk teori yang berjubel-jubel namun dengan tindakannya pun yang bernilai persuasif mempu menyihir masyarakt luas agar bertindak lebih baik,,, dengan gaya khasnya ngunu ae kog repot (gitu aja kog repot) Gus Dur mampu mempengaruhi masyarakt untuk berperilaku layaknya manusia. 

Jika ada penistaan agama ya jangan dibalik menistakan ,,,,gitu aja kog repot, jika ada orang korupsi lantas dipenjara ya jangan dibully ,,,gitu aja kog repot, jika ada kiyai yang ceramah digereja jika tidak suka ya jangan dihina-hina,,,,,,gitu ajakog repot, jika ada orang yang tidak mau kumpul-kumpul tahlilan atau sholawatan ya jangan dianggap dia beraliran beda wong sama-sama muslimnya,,,,gitu aja kog repot, jika ada orang kesusahan ya di tolong dan nggak usah pamer-pamer,,,,gitu aja kog repot,,, dan banyak yang lainnya, dan bagi penulis inilah nilai moral yang sebenarnya dibangun secar tidak langsung oleh Gus Dur (yang menurut Ki Hajjar Dewantara adalah wiyata atau tuntunan). 

“maka ajaklah orang-orang itu dengan tanpa paksaan, atau jika bisa mereka tidak merasa diajak” 

Sehingga dalam memperingati Haul Gus Dur yang ke-7 ini, penulis berharap dari ke -9 prisma pemikiran Gus Dur diatas mampu mentranformasi pendidikan sehingga tumbuh moralitas seseorang dengan baik. Sehingga pendidikan benar-benar mampu membentuk moralitas peserta didik dan menjadi generasi penerus yang memanusiakan manusia dan bertindak bijaksana. 

*penulis adalah Ach. Dahri Ahr., seorang santri jalanan dan tukang sapu di STF Al-Faraby Kepanjen,,,,sekaligus penulis buku Pendidikan Multikulturalisme Gus Dur 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *