Oleh: Ahmad Dahri
Seperti biasanya, siang ini aku memperhatikannya dari kejauhan, bahkan saat ia mulai memegang sabit dan cangkul di pundak kirinya. Diam-diam aku membuntutinya, rasa penasaranku mengalahkan ketakutan yang selama ini diam-diam menempati rongga terdalam di benakku. aku berjalan sekitar 50 meter di belakangnya, jarak yang menurutku aman untuk sekedar mengawasinya dari kejauhan, agar ia tak curiga saat melihatku maka kubawa beberapa alat untuk mencari rumput, agar aku terlihat seperti benar-benar sedang mencari rumput untuk ternak di rumah. Kulihat ia menyiangi sawahnya dengan semangat, bongkahan demi bongkahan yang terkuak menandakan bahwa cangkulnya benar-benar tajam, bahkan terlihat dari kejauhan cangkulnya mengkilat berbekas air dan bertemu dengan cahaya matahari.
Ia memang terkenal gigih di desaku, bahkan ia mampu menggarap sawah sebanyak empat sampai lima petak dalam sehari, ia memiliki dua orang anak, anak yang pertama rupanya sudah berumah tangga dan anak yang kedua rupanya sedang menempuh pendidikan entah di mana? Karena orang-orang di desaku tidak tahu menahu tentang pendidikan anaknya. Namun begitu ia dikenal ramah oleh masyrakat sekitar, ia juga jamaah tahlil yang rutin, setiap ada salah satu anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan maka ia selalu hadir untuk membantunya. Perawakannya yang kurus, rambut putihnya yang panjang sebahu, wajahnya yang dihiasi oleh kumis dan jenggot yang rupanya sudah memutih, dan topi berwarna hitam dengan merk Eiger yang selalu menutupi kepalanya.
Angin mulia berhembus menyapaku, di bawah pohon mahoni yang rindang kucoba selendetkan badanku sambil melihatnya menyiangi sawahnya. Kulihat ia tak istirahat sama sekali dari tadi bahkan untuk sekedar meneguk air di botol yang menggantung di pokok pohon semanggi di pinggir sawahnya. Begitu bahagia istri dan anak-anaknya memiliki bapak yang sangat bertanggung jawab sepertinya, pagi-pagi istrinya selalu meyiapkan kopi hangat untuknya, ia suguhkan beberapa rebusan singkong sebagai sarapannya, sambil melihat istrinya sibuk di depan tungku berlobang doa yang terbuat dari tanah ia nikmati singkong rebus yang masih mengepul asapnya. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama, entah apa yang mereka perbincangkan, sebelum ia berangkat ke sawah istrinya sudah menyiapkan bekal untuknya makan siang. Begitu indah pemandangan yang terlihat dari gubuk tua berselimut tanaman kapulaga itu.
Rupanya siang mulai menuangkan terik yang menyekah tenggorokan dan di bawah pohon mahoni ku terlelap bersama hembusan angin dan entah, memimpikan keluarganya adalah mimipi yang paling indah dalam tidurku.
***
Suara gaduh mengganggu mimpiku, entah dari mana arahnya? Yang jelas aku mulai terjaga dan rupanya angin memelukku erat sehingga sejuknya menipu mataku untuk terpejam bersama berlalunya siang.
“Wes bacok en wae” suara dengan penuh penekanan rasa marah terdengar merapat ke telingaku.
“Gawa wae nang kelurahan” dari pihak lain meyakinkan.
“Laporke polisi cepetan” dari kejauhan terdengar seperti memerintah.
Kulihat orang-orang berkerumun di kejauhan, rupanya mengelilingi ladang yang ia garap. Apa yang terjadi kepada bapak dua anak itu? Pikiranku mulai kemana-mana, apakah kekhawatiranku selama ini terjadi? Padahal berita itu belum tentu benar adanya. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju ladang itu, di sana ada yang menangis, tapi entah siapa? Pikiranku hanya tertuju pada berita yang kuterima akhir-akhir ini, apakah benar bapak dua anak itu….? ah sudahlah lebih baik kulihat saja. Benar saja, sawah yang sudah kebak dengan air berubah memerah, bau anyir menyelimuti area tersebut, terlihat sebit dan cangkul penuh cipratan darah yang mulai mengering, kulihat ada yang tersungkur menelangkup ke tanah, dan ada yang terbujur lemas namun nafasnya masih teratur, tak jelas siapa mereka dan ada apa? Bagaimana bapak dua anak itu? Mungkinkah ia yang tersungkur? Atau ia yang terbujur lemas? Orang-orang rapat melingkar di area sawah itu, tak ada celah untuk sekedar masuk melihatnya.
“Ada apa kang?” tanyaku kepada salah satu orang yang datang di sana.
“Pak Kasiman carok” jawabnya singkat
“Dengan siapa?” tanyaku
“Lik Turiman, Lho awakmu lak anak e?” jawabnya kaget
Tubuhku lemas ambruk ke tanah, lantas siapa yang tersungkur dan siapa yang terbujur lemas? Bagaimana bisa ayahku tersulut fitnah yang belum tentu benar adanya, tidak mungkin rasanya pak de Kasiman ingin merebut tanah warisan yang diterima oleh ayahku, ia bukan orang seperti itu, sawah yang yang ia garap saat inipun adalah sawah dari hasil kerja kerasnya.
Bagaimana jika yang tertelungkup tadi ayahku? Dan bagaimana pula jika yang tertelungkup ternyata pak de Kasiman? Bagaimana kedua anak mereka? Bagaimana aku? Dan kulihat sekelilingku mulai gelap, badanku seperti melayang dan hilang seketika entah kemana? Bersama tangan-tangan yang membopongku.
Sumawe, 2018
Tinggalkan Balasan