1153594zona-otak780x390

Bagaimanapun idiom dalam komunikasi sangat dibutuhkan. Begitu juga untuk menunjukkan ekspresi dari situasi yang sedang dialami oleh seseorang. Dan hal ini menjadi bukti dari kekayaan simbol bahasa komunikasi. Karena komunikasi menjadi ujung tombak kehidupan. Oleh karenanya kaum behaviouristik mengidentifikasi bahwa manusia memiliki kecenderungan kebahasaan sejak lahir, dengan kata lain manusia memiliki kemampuan bahasa secara fitrahnya, di mana adanya stimulus dan respon menjadi bagian dari perkembangan pola sikap bahasa yang dimiliki oleh manusia. Berbeda dengan kognifistik, yang mana bahasa perlu dipelajari, sehingga manusia dituntut untuk mempelajari bahasa. Sehingga nantinya melahirkan komunikasi yang terbangun dalam lingkup masyarakat  tertentu. tidak – lebih ketika komunikasi memeliki fungsi yang sangat vital dalam kehidupan.

Begitu juga komunikasi-komunikasi transaksional yang diumbar di media-media saat ini. Seperti halnya idiom atau idhofah yang dikenal dalam sistematika bahasa arab agaknya harus menjadi titik balik untuk memahami pola komunikasi. Karena tidak seperti halnya kunci inggris. Berapapun ukuran bautnya maka kunci inggris mampu melonggarkan  dan merapatkannya. Karena idhofah bukan seperti halnya cucologi yang hari ini, era millineal ini, Generasi Z ini, pun jaman pop ini lebih digemari.

Seperti halnya Hizbun atau partai, partai yang berarti kelompok tertentu dengan visi dan misi yang dibangun dalam partai tersebut pastinya tidak luput dari hubungan komunikasi-komunikasi antar anggota partai, begitu – juga kepentingan partai, atau kepentingan oknum partai. Ada partai tuhan, berarti ada juga partai setan. bahkan nama-nama tokoh yang sedang populer di pasar politik saat ini, digembar-gemborkan memiliki ketegasan seperti para Sahabat Rasul. Bahkan gelar santri yang dulu menjadi identitas dari seseorang yang bernafas panjang  dalam berproses, menjalani kehidupan, menyeleseikan komunikasi dengan dirinya, kini sangat mudah diraih, cukup dengan rajin shodaqoh dan mengupload nominalnya. Seperti halnya mie instan rasa-rasa, jika ingimenikmati ayam sambal balado yang harganya cukup mengoyak kantong, maka cukup dengan mengeluarkan separuh harga bahan bakar motor untuk membeli mie instan rasa ayam sambal balado. Kemudian cerita kepada teman-temannya. Bahwa ayam sambal balado itu lezat, makanya kog mahal.

Bukan berarti partai tuhan dan partai setan seperti mie instan ras-rasa, namun jika demikian ya tidak masalah, lawong kenyataannya begitu, jika idhofah memiliki fungsi menyandarkan kalimat (isim) kepada kalimah lain, sehingga memiliki makna yang spesifik maka bagaimana dengan partai tuhan? Tidakkah kemudian mengecilkan kebesaran tuhan? padahal, mengecilkan tuhan berarti meniadakan kekuasaan tuhan, dengan kata lain, “ya bisa dinilai sendirilah.” Karena pentingnya memahami idiom atau idlofah untuk menunjang komunikasi, maka perlu dipahami bahwa “seinstan-instannya mie instan masih perlu dimasak juga.”

 

***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *