Aku menunjuk satu titik di tepian pandang, di sebelah mata, di ujung setetes tuangan.
Sedikit mungkin kucoba menahan ucap, sekian lama berkawan dengan ketidak sabaran.
Langkahku menetap di ruas sebatang siang.
Menancap sederet harapan, di ujung sajadah tertahan setetes air mata.
Engkau coba julurkan sepiring hidangan doa, kuterima sepuluk manisan berisi cita-cita.
Kau berikan segelas air dari sungai pedalaman hatimu.
Kuteguk sedikit demi sedikit pilu,
Mencoba melawan deru tanah berselimut debu.
Tanpa menyisakan jejak hentakan kaki, karena aku tak ingin mata yang terbuka,
Dikotori debu yang menyelip di ujung pandangannya.
Rumah kelahiran, 2018

Tinggalkan Balasan