Siapakah petani? Objek atau subjek?

“Sabar ya… Padi kali ini tidak bisa tiga kali panen seperti dulu.” sambil mengelus punggung Tirta. “Bagaimana kalau tahun ini kita menanam Jagung saja?” imbuh Bayu. Tirta masih tetap menunduk sambil memutar-mutar batang rokok, asapnya timbul tenggelam mengikuti gerakan jarinya. Ia lepas caping di kepalanya, ia letakkan di meja, batang rokok yang tadi diputar terselip di bibirnya yang kering, kumisnya seperti ikut menekan batang rokok menghisap senikmat-nikmatnya, kemudian asap yang pekat keluar dari hidungnya yang besar. “Yu… Nanam jagung atau padi itu sama saja, asal tanahnya benar-benar kita rawat, pasti bisa panen luar biasa.” ucap Tirta, sambil melihat cangkir kopi yang ia putar-putar dengan tangan kirinya, menurutnya ampas kopi akan segera mengendap dan bisa segera dinikmati sari kopi yang nikmat, apalagi dari hasil panen kebun sendiri (ssssstttt….tidak pakai pupuk kimia lho…).

“Ah… Ngomongmu kayak ngerti-ngertio endi pacul, endi ganco?”
“Hayo bedane nangka karo cempedak piye?”
“Terus bedane klue karo bendo piye?” sambil membetulkan Rokoknya, Tirta menggrutu tak jelas, blandrah ngalor ngidul.

 

images(15)
Google

Apalagi kemarin sore, saat penyuluhan tentang bibit padi dan cara pengairan yang kondusif di Balai RW, yang diadakan oleh kelompok tani setempat, dengan pemateri dari kampus ternama di Kota, tentunya memiliki gelar ahli pertanian. “Lah iya….aku itu tanya, cara mopog galengan yang benar itu bagaimana? Agar bisa ditanami pala wija, eh… Malah jawaban pematerinya ndak ngalor ndak ngidul.” tukasnya
“Lah paling kamu cuma niat ngetes toh?” sergah Bayu.
“Ndaklah…” singkat Tirta menjawab. “Gayamu Tir,” ejek Bayu.

Seperti halnya pematang sawah, ada galengan dan ada gulutan. Galengan berfungsi sebagai batas, sedang gulutan berfungsi sebagai media tanam. Begitulah Tirta, sebagai petani ia memiliki segudang praktis tentang pertanian, begitu juga panitia penyelenggara seminar yang berusaha menawarkan alternatif baru terkait cocok tanam. Memang tanggapan Tirta tidak bisa jadi tolak ukur dari pribadi petani di kampungnya, bahwa ilmu praktis yang sudah didapat turun temurun dari nenek moyang akan selalu diterapkan oleh masyarkat, salah satunya Tirta. Ia menyesal tanah sawahnya rusak akibat pupuk kimia yang dibelinya dari hasil seminar setahun lalu. Kadung menyesal, padi tak panen pula, inilah yang membuatnya pesimis akan inovasi-inovasi pertanian, terutama dalam hal pengelolaan. Ia yang buta akan zat-zat yang terkandung dalm pupuk, pun ia belum melek terkait inovasi-inovasi pertanian. Baginya semakin luas lahan yang digarap, maka semakin berbeda takaran pengolahannya. Hal inilah yang membuatnya sinis akan kegiatan-kegiatan seminar pertanian. “Lagi-Lagi perkara kesadaran Tir,” tukas Bayu. “Menurutmu aku kurang sadar, atau bagaimana?” sela Tirta.

“Jika saja engkau mau menerima masukan dari orang lain, mungkin akan berbeda lagi hasilnya, tetapi setiap manusia punya perlakuannya sendiri terhadap dirinya,” jawab Bayu sambil mematikan teggesan rokok samsunya.

#Ngarambes
#Titik #pokoknulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *