Menemani Sebuah Penantian

IMG-20180823-WA0017

Saat menunggu sesuatu yang diidam-idamkan, maka akan menemui berbagai hal yang terjadi, dada akan bergetar entah karena akan berjumpa dengan yang ditunggu atau karena terlalu lama menunggu, rasa was-was, dan rasa jenuh yang akhirnya terucap dari bibirnya atau tertulis dalam update statusnya di media social bahwa “Menunggu Itu membosankan.” Maka akan terlahir berbagai sarkasme yang melangit tentang penantian. Penantian-penantian yang memiliki harapan rasa bahagia biasanya sering – bahkan terus – menerus dilalui, tidak seperti kematian, yangmana dalam idiom jawa sering kita dengar “Mati kuwi pesti, dadi ora usah dienteni,” bahwa mati adalah sesuatu yang pasti maka tidak usah dinanti. Pertanyaannya adalah apakah sesuatu di dunia ini yang terjadi maupun yang belum terjadi adalah ketidak pastian? Mengapa harus mati, rejeki dan jodoh yang dianggap pasti.

Tuhan dengan Kemahakuasaannya harus diyakini, itupun tertanda pada syahadat yang sering kali terucap saat sholat. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa mati, rejeki dan jodoh itu pasti, tetapi dalam konteks kehidupan masih saja banyak yang mati-matian mencari rejeki, lari tunggang-langgang mengejar cinta dari bunga desa, atau mencari obat kesana-sini agar nyawa dari seseorang yang kita cintai dan yang kita sayangi tertolong. Jika demikian, maka pernyataan yang muncul adalah “itu bagian dari proses usaha, ini adalah perintah berusaha kemudian bertawakkal kepada Tuhan.”

Saat seseorang menyatakan bahwa ia beriman kepada Tuhan, sepatutnya ada praktis dari wujud rasa iman tersebut. begitu pula saat seseorang mengimani kuasa di luar alam semesta. Karena ketakutan dalam diri akan menjadi rasa was-was, bingung, ragu dan lain sebagainya. Rasa takut inilah yang kian muncul saat seseorang bertemu dengan kendala pada tiga hal di atasa, rasa takut akan kematian, rasa takut akan kekurangan rizki dan rasa takut menjadi jomblo seumur hidup, padahal Tuhan telah memastikannya. Lantas pertanyaan yang muncul adalah apakah kita harus menunggu saja tanpa berupaya sedikitpun?

Jika rasa iman memang sudah benar-benar tertanam dalam hati, maka rasa takut sedikit demi sedikit akan hilang, keculai takut kepada Tuhan. Bagaimana dengan perihal upaya? Bukti bahwa menunggu adalah proses upaya yang disandarkan kepada Tuhan adalah saat kita mengucapkan Bismillah, di mana sebelum melakukan sebuah pekerjaan fisik, ada upaya metafisik yang dilakukan, di mana kita mengimani hal itu. dengan kata lain sesuatu yang kita tunggu adalah rahmat dan kelancaran dariNya.

Pun begitu masih saja ada anomali-anomali dari makhluk yang namanya manusia ini. Bahkan untuk mengakui bahwa ini adalah kehendak dan kuasa Tuhan tidak sedikit yang meragukan, bentuknya adalah ungkapan bahwa “sebelum ditarik pada ranah Tuhan tidakkah kita lebih baik memikirkan dengan patokan logika?” bukankan logika adalah wujud dari kuasa Tuhan? Jika memang tidak ingin buru-buru menarik kesimpulan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Akhirnya klaim sepihaknya adalah mereka golongan jabariah, pendeknya apa-apa urusan Tuhan, ini – itu adalah urusan Tuhan, lantas apa tugas manusia yang menyandang Khalifah jika apa-apa dikembalikan kepada Tuhan? Tugasnya adalah mensyukuri kehendak Tuhan, mengamini KehendakNya dan menyandarkan potensi manusia kepada Tuhan. Karena dengan begitu penantian tidak akan membosankan.

Pun dengan begitu kerinduan tidak akan pernah menyiksa diri melainkan menguatkan diri agar mampu mengenali cinta yang hakiki. Wa Allahu a’lam.

Semoga kita semua benar-benar dalam pelukan cinta kasihNya, Wa’tasimu bi habblillahi jami’a.
Luhurian.com  2018


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *