Kemampuan dan Ketakutan

Dalam dunia pendidikan yang ditekankan pertama kali adalah kemampuan. Apa buktinya? Sejak pendidikan dasar (saat ini ada pendidikan anak usia dini)  diharapkan bagi setiap anak agar mampu menghafal apa yang diberikan oleh gurunya,  mampu membaca seperti apa yang diajarkan oleh gurunya,  mampu membedakan warna,  mampu ini dan itu. Penekananya adalah kemampuan. Bukan saja lembaga pendidikan yang menekankan tetapi harapan sebagian orang tua juga demikian.

Pendidikan formal akan dirasa cukup ketika anak atau peserta didik sudah dianggap mencapai harapan atau sesuai dengan patokan nilai yang diinginkan. Baik dari pihak pendidik atau orang tua. Jika belum, maka pendidikan tambahan di luar lembaga formal menjadi bidikan para orang tua. Dari sini agaknya pengertian pendidikan perlu dikaji kembali dan difahami pastinya. Harapannya adalah memberi ruang berfikir yang lebih luas terhadap guru atau−pun orang tua dalam mengembangkan potensi anak, baik dalam aspek spiritual, aspek intelektual dan aspek moral.

Masing-masing manusia diciptkan dengan potensi yang baik. Ini tercatat dalam QS: al-Tin ayat ke-4 yang menunjuk pada prinsip kausalitas. Jika manusia itu mengembangkan potensinya dengan baik, maka tempat yang sangat rendah tidak akan menjadi labuhan bagi mereka. Memiliki pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya adalah wujud dari

“laqad khalaqna al insana fi akhsani taqwim” bahwa sungguh telah diciptakan manusia dengan potensi (masing-masing) yang baik.

Dengan demikian, pendidikan sebagai proses pengembangan tidak hanya bergulat pada aspek kemampuan. Kata didik artinya lebih dekat kepada wiyata, ayom, among dan asuh bahkan sastra dalam bahasa sansekerta memiliki makna alat untuk mengarahkan, mengajarkan, membina, dan sebagai petunjuk. Seorang filsuf bermadzhab Pragmatisme kelahiran 1859 yaitu Jhon Dewey mengatakan, pendidikan merupakan proses membantu pertumbuhan batin manusia tanpa dibatasi oleh usia. Hal ini sejalan dengan konsep Amongnya Ki Hajar Dewantara diterapkan dalam Taman Siswanya. Dimana pendidikan berbicara lebih luas dari hanya sekedar kemampuan akademik lebih tepatnya.

Jika dulu kita mengenal istilah Saka Guru, yang berarti tiang pokok dalam sebuah bangunan maka pendidikan adalah Saka Guru dalam kehidupan manusia. Peradaban yang berkembang, juga terlihat dari seberapa berkembang pendidikannya. “Polah kang kelantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa katletuh, kapatuh pan dadi awon,” dalam Wulangreh Pakubuwana IV. Sikap adalah wujud dari ilmu pengetahuan yang dipraktikkan. Pemikiran adalah pola fikir yang berkembang dari ilmu pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan mengendapkan diri atau lebih mengarifkan diri adalah bentuk spiritualitasnya.

Istilah saka guru adalah fungsi dari pendidikan itu sendiri. Proses timbal balik menjadi fokus perhatian siapapun. Dan anehnya kesenjangan dalam lingkup pendidikan formal terjadi di antara elemen-elemen pendidikan itu sendiri. Terkait hasil yang tidak memuaskan, administrasi yang belum terekapitulasi, atau terkait moral peserta didik yang seharusnya menjadi pusat perhatian bersamam antara orang tua dan pendidik.

Bagaimana mungkin Ing ngarsha sung tuladha akan menjadi punggung acuan pendidik, atau ing madya mangun karsa menjadi jalan proses pendidikan? Jika kesadaran akan ketakutan yang entah diyakini berdampak atau tidak terhadap perkembangan peserta didik. Sehingga  menjadi pemicu untuk mencoba dan menekuni kemampuan yang bukan menjadi kemampuannya. Dengan kata lain ketakutan memaksakan peserta didik untuk memasuki wilayah yang tidak ditemukan stimulus untuk mengembangkan dirinya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana seharusnya mamahami posisi sebagai pendidik dan sebagai orang tua, agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuan yang sudah sejak lahiri ia miliki? Atau bagaiaman menyadari bahwa setiap anak yang lahir memiliki kemampuan yang melekat dalam dirinya? Jawabannya adalah, bagaimana anda menumbuhkan kesadaran akan hal itu? Kebanyakan orang enggan untuk mengakui bahwa ada kesalahan teknis dalam proses pendidikan atau proses pembelajaran. Yang pasti anak atau peserta didik akan menjadi sasaran dari kesalahan teknis yang terjadi. Hal inilah yang kemudian secara tidak sadar merenggut masa anak-anak untuk mengenal dunianya dengan memaksa masuk pada dunia lain yang seharusnya ia kenal saat memantapkan diri mengenal dunianya sebagai anak-anak. begitupun dalam pendidikan formal.

Pada hakikatnya pendidikan memiliki ruang yang lebih luas dibanding hanya membahas prestasi akademik. Kebanyakan orang mengira bahwa pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi atau prestasi yang diraih di sebuah lembaga pendidikan adalah kunci dari kesuksesan, minimal “mudah dalam mencari pekerjaan.

“Bahkan di era milenial ini, jaminan dari lembaga pendidikan adalah “lulus langsung kerja.”

Secara tidak langsung ketakutan-ketakutan sudah ditanamkan sejak dalam dunia pendidikan. Takut menjadi pengangguran, takut gagal, dan lain sebagainya. Tak ubahnya seperti doktrin yang sudah mengakar. pendidikanpun menjadi ajang ketakutan-ketakutan.

 

Terbit di Madura post  Desember 2017

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *