
“Jika ada pertanyaan, bagaimana anda menjalani hidup? Maka jabawlah jika tidak maju ya nge-rem”
Mobilitas pergerakan kehidupan akan menghadapi perancangan-perancangan dan perencanaan yang sangat beragam. Ibarat sebuah motor yang dinaiki oleh seseorang yang sedang buru-buru, entah apa yang mempengaruhinya, yang jelas ia akan sangat menarik gas sekuat-kuatnya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. karena yang terpenting dalam keadaan sangat terburu-buru bukan bagaimana pertimbangan-pertimbangan saat proses menjalaninya, tetapi bagaimana tujuan itu bisa diraih dan dicapai sesegera mungkin.
Manusia selalu memiliki potensi buru-buru,
bahkan untuk menunjang progresitas kemampuan diri yang dimiliki maka akan mengegas sekencang-kencangnya tanpa mempertimbangkan pedal rem dan gigi yang sedang digunakannya. Tentu tak jarang pula yang memprioritaskan keselamatannya.
Jika kehidupan memang sangat dibatasi di sisi lain namun dituntut di lain sisi maka, kehidupan hanya maju dan nge-rem. Hal ini tidak hanya terjadi dalam satu objek kehidupan saja,
secara general kehidupan diwarnai dengan pilihan maju sekencang-kencangnya atau nge-rem sepakem-pakemnya.
Apalagi kemajuan manusia secara peradaban atau kemajuan manusia yang sejatinya kemrosotan budaya sudah diwarnai oleh ngeblongnya rem-rem yang dimiliki. Rem seperti halnya upaya menjaga, memfilter dan mengontrol setiap potensi yang dimilikinya.
Dengan kemajuan teknologi yang tidak bisa dihentikan ini, banyak sekali bukti bahwa rem-rem yang dimiliki setiap individu perlu di reparasi. Tentu yang menjadi titik tolaknya adalah seberapa blong rem yang ia miliki, sehingga manusia terkesan sangat buru-buru menjalani hidup. Orientasi, tujuan, atau capaian seperti apa yang membuat manusia lebih mengedepankan tindakan buru-burunya.
Dalam kesusasteraan timur kita mengenal prinsip keberuntungan yang diidiomkan dengan kesabaran, salah satu mahfudzot atau kata-kata mutiara arab dikenal “Man Shabara Thafara” barang siapa bersabar beruntunglah ia. Adakalanya prinsip kesabaran akan muncul setelah melalui berbagai proses, namun masih tetap saja menemui kebuntuan, begitupun belum bisa dinamakan sabar, karena menerima hasil capaian dengan lapang dada adalah sebuah proses yang sulit untuk dilalui. Senyampang yang kita lihat saat ini adalah, pencapaian posisi terdepan menjadi sebuah cita-cita yang mutlak, dan itu terjadi di berbagai hal.
Bukankan semakin mengencangkan langkah atau ban motor yang kita naiki maka semakin lama pula pencapaiannya, apalagi saat di tengah jalan mulai blong remnya? Berapa lama waktu yang akan tersita, bahkan beralih kepada hal yang tidak masuk dalam sederetan agenda.
Saat ini atau sudah sejak dulu, keinginan yang kemudian dicapai dengan langkah yang terburu-buru juga akan menuai hasil yang tak maksimal pula. Dengan kata lain kita akan cepat capek saat memanjat pohon atau berjalan dengan buru-buru, sehingga akan banyak waktu yang tersita hanya untuk tiba-tiba berhenti minum air atau sekedar meluruskan otot yang kecapekan, atau ban motor yang tiba-tiba bocor.
Begitu juga dalam bersosialisasi, hubungan sesama manusia, terkadang warna interaksinya beragam. Budaya kritis memang seharusnya dikembangkan bahkan ditanamkan sejak dini, karena akan menjadi diri yang terisolir oleh keadaan. Jika kebanyakan orang mengikuti arus maka ada sebagian orang yang melawan arus.
Saat berinteraksi di dua jalur tersebut maka pilihannya adalah seberapa besar dan rapat filter yang dimiliki, lebih tepatnya adalah seberapa peka moral interaksi yang ia miliki. Jika komunikasi adalah motor yang digunakan untuk mencapai tujuannya, maka filter atau moral interaksi adalah remnya.
Moral interaksi bisa juga dikenal dalam istilah jawa adalah Unggah-Ungguh, memang bukan masalah menyakiti hati orang lain saja, tetapi tetap harus mempertimbangkan keramahan terhadap siapa yang sedang dihadapinya atau apa yang sedang ia kerjakan.
Dalam konteks pekerjaan misalnya, agaknya harus lebih mendekati kepada sikap professional, mengenal profesi dengan baik dan mendalaminya sebaik mungkin, sehingga outputnya adalah tanggung jawab.
Dan menumbuhkan rasa tanggung jawab, juga perlu menyadari adanya rem yang harus dichek tiap saat,
agar tidak blong dan menjadi sangat pakem saat menemui jalan terjal atau turunan yang menukik, pun saat berpapasan dengan kendaraan lain di jalan, itupun saat anda terburu-buru dan tiba-tiba menyalip dengan kecepatan penuh.
Luhurian.or.id
Kepanjen, 2018
Tinggalkan Balasan