Manusia dan Cintanya

Mahkluk itu hijabmu dari dirimu
dan dirimu hijab dari Tuhanmu

Syaih Abdul Qadir

Kecenderungan manusia terhadap apa yang dicintainya memberikan reaksi berlebihan, sehingga tidak sedikit yang berusaha mendapatkan apa yang dicintainya. Perihal bagaiman proses untuk mendapatkannya itu tergantung pada personalnya. Jika berbicara ruang, maka akan menampung segala hal yang ditemuinya, kemudian membangun bidang yang ditempati oleh penggolongan terhadap hal-hal tersebut.

IMG20181110114918
Lek Dah

Di saat menjadi ruang, maka tidak membedakan perihal pantas atau tidak sesorang memiliki kecenderungan. Di samping fitrah maka hal itu menunjukkan bahwa ia berpikir. Lantas bagaimana menempatkan kecenderungan di dalam sebuah ruang, agar tidak terjadi penilaian-penilaian sepihak? Belajar menjadi semurni-murninya diri adalah ruang muhasabah. Di mana mencintai sesuatu pun wajib hukumnya namun tidak lupa menyesuaikan dengan dirinya. Dari penyesuaian itulah terbangun ruang kesadaran.

Tidak sedikit yang memiliki kecenderungan dan bersikap upnormal dalam mencintainya. Keinginan yang menggebu-gebu, rasa yang membuncah tak berarah, gelora yang meradang adalah motivasi diri untuk mencapai sesuatu. Sehingga mencintai adalah proses yang sudah tercampur aduk oleh ambisi yang gagal dipahami. Pasalnya seseorang cenderung mencintai sesuatu yang memberinya keuntungan atas proses cintanya. Padahal mencintai adalah proses memberi.

“Mustahil seseorang mencintai tanpa ada stimulus yang mempengaruhinya.” Salah satu sahabat menyela. Benar adanya, jika tanpa nafsu maka tidak ada proses mencintai. Namun apakah mampu seseorang mengidentifikasi antara nafsu dan kecenderungan, nafsu dengan kesukaan, nafsu dengan keraguan, nafsu dengan kemauan. Ketidak tahuan inilah yang kemudian menyebabkan seseorang serampangan mengartikan cinta. Seseorang sembrono mengartikan proses menyintai. Dan lain sebagainya.

Oleh karenanya memahami peta dala diri, mengklasifikasikan kecenderungan dan kemudian membiasakan proses muhasabah atau introspeksi diri adalah proses pengenalan diri. Karena semakin dekat kita mengenal diri, maka semakin dekat pula dalam mengenal Tuhan. Minimal mensyukuri apa yang ada dan didapatkan dari luar kemampuan antropologi manusia.

Pojok Rumah. 2018

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *