Malam ini bising sekali, di luar sana air hujan beradu dengan atap gerbong eksekutif, sedangkan roda-roda tak mau kalah beradu dengan rel-rel yang entah di mana ujungnya dan di mana pangkalnya, orang bilang setiap ujung pasti ada pangkalnya, namun sudahlah aku tak mau pusing dengan hal itu, mungkin memang hujan mewakili semuanya, ia terpatri untuk kadar ungkapan sastrawi terdalam, tak kalah dengan senja dan mega-mega, atau angin, ia menempati posisi yang tak terduga, kadang tangis, kadang bahagia, kadang gundah tak terkira, atau letupan-letupan semangat yang menyala-nyala, namun begitulah hujan, di mana ujungnya? orang pintar bilang dari awan-awan yang beradu, namun ia bimbang agaknya hujan adalah uap dari bumi sebagai pangkalnya, ah…sudahlah aku benar-benar tak mau pusing dengan itu, dari dan di manapun hujan berhenti, di sanalah titik awal ia dilahrikan.
Tinggalkan Balasan