
Citra diri pastinya akan dibangun oleh setiap orang, bahkan perlombaannya pun sangat sengit. Di bidang apapun pastinya. Tidak jarang dalam panggung kemolekan para dai dan calegpun bersemi perlombaan-perlombaan citra diri.
Seringkali dijumpai sikap arogan dan membanggakan orang tua masih menjadi hidangan terlezat dewasa ini.
Mau bukti? Jika anda keluar rumah lihat samping kanan kiri, perhatikan banner-banner berjajar obral janji, kalau masih tidak ada jalan kakilah agak jauh dari rumah, ke pertigaan atau perempatan, jika kurang puas pergilah ke pasar, di sana pasti ada foto besar bertulis janji palsu yang menyoal kemajuan. Jika sudah ketemu renungkan, atau jadilah golongan cuek, yang penting anda sudah tahu bahwa mereka berusaha menampilkan ketidak wajaran yang bisa saja membuat anda terengah-engah demo di depan kantornya kelak.
Begitu juga dalam kontes-kontes mimbar dakwah, siapa yang tidak ingin diagung-agungkan, dibangga-banggakan bahkan tangannya dicium bolak-balik dan jungkir balik. Memang saat ini jualan motivasi dan dalil sedang ramai di pasaran, bahkan larisnya mengalahkan celana dalam duapuluh ribu dapat tiga. Menyoal hukum dan ibadah, merasa paling benar dan diterima. Seakan-akan Tuhan sudah menjadi teman karibnya, padahal berdoa menagi-nagih kasih sayang Tuhan tak beretika. La wong tanpa diminta Tuhan pasti memberi asal manusianya selalu ingat akan kelemahan diri, dengan sepenuh hati pastinya. Tidak percaya? silahkan tanya langsung kepada Tuhan.
Namun Lumrah memang, Konteksnya bukan lagi salah dan benar dalam melihat, karena jika demikian maka sama saja dengan apa yang dinilai dan dilihatnya. Lalu apa bedanya ? jika masalahnya Eksistensi maka siapa yang tidak butuh eksistensi, dalam kondisi tertentu memang butuh pemerapan teori kaum kontruktivisme, karena akan pemaknaan dan pemahaman yang berkembang ketika melihat dan menilai sesuatu, khususnya perihal di atas.
Kaum kontruktivisme memandang segala sesuatu dengan pemahaman yang berbeda, mereka mengimani akan perkembangan dan kemajuan, dengan dasar membangun kembali pemahaman atas objek tertentu. Pemahaman yang berkembang adalah proses penggodogan yang matang, jikapun ada kekurangan tidak masalah, karena dengan begitu evaluasi berfungsi dalam pengembangannya.
Lantas bagaimana dengan pemahaman esensial setiap objek pembahasan? karena tidak mungkin seseorang menilai tanpa memahami terlebih dahulu bentuk esensinya. Setiap personal berhak atas eksistensinya, hal ini tidak memandang usia muda atau tua, pasalnya eksistensi menjadi satu jembatan sebuah pengakuan. Namun begitu, kesadaran atas esensinyapun perlu diperhatikan, karena dengan begitu peta akan terbentang lebar sehingga tidak tersesat dalam ruang eksistensi.
Jika harus menyoal keburukan sebuah objek hanya demi mempertahankan eksistensi maka di mana letak nilai dan kontruksi atas kesadarannya?
krisis nilai dan etika memang menjadi pembahasan serius dewasa ini, namun apakah tidak tergerak untuk mencari sebab atas merosotnya nilai dan etika?
Jangan-jangan citra diri yang dibangun saat inipun berlandaskan krisis nilai dan etika setiap personal, pasalnya tidak sedikit yang lebih mendahulukan egosentrismenya ketimbang kesadaran budhi luhurnya, gampang sekali terbakar amarahnya, bahkan cenderung memunculkan sikap hewaninya, ketimbang memposisikan dirinya sebagai manusia dengan pangkat khalifah fil ard.
Sebagai Khalifah manusia memiliki sikap dan pola pikir yang bijak, khalifah tidak hanya sebatas sebagai seorang pemimpin suatu wilayah, tetapi pemimpin atas dirinya sendiri, atas hawa dan segala keinginanya, atas pola pikir dan segala keputusannya.
Jika memang manusia memiliki tempat paling mulia di antara makhluk yang lain, maka jangan lupa bahwa manusia akan menempati posisi lebih buruk dari pada hewan. Jika boleh dikatakan, bahwa manusia sendiri adalah hewan, namun memiliki kelebihan pola pikir dan pola sikap yang dinamis, sehingga saat kesadaran manusia hilang maka hanya sikap hewan saja yang keluar dari dalam hati dan mulutnya.
Oleh karenanya sebagai manusia perlu adanya kesadaran ruhani yang memantapkan diri agar citra diri terbangun dan berjalan apa adanya, sehingga bukan lagi berbicara dengan sangat lantang dan menegaskan keburukan objek lain, melainkan bersikap rendah hati dan memiliki kesadaran yang jernih.
Semoga selalu dalam naungan Akhlak al karimah. Seperti tugas Nabi Muhammad SAW diturunkan ke muka bumi dengan tujuan memperbaiki pola sikap dannpola pikir setiap personal.
Pojok Rumah, 2018
Tinggalkan Balasan