Omong Kosong

IMG-20181129-WA0014
Lek Dah

Omong kosong, adalah diksi dari mereka yang dirasa suka membual, kemprus, pengobral janji, apalagi suka dalil sana sini. apakah kosong itu ada? atau kosong itu tidak ada sebenarnya? Logikanya adalah kalau memang omongan itu dianggap kosong maka tidak akan ada bukti omongannya, padahalan omongannya ada dan terdengar oleh indera pendengar.

“Maksudnya adalah apa yang dibicarakan itu tidak terbukti adanya,” memang esensinya begitu, tetapi apakah harus dikatakan kosong? kalau kosong berarti tidak terdengar dan tidak ada ungkapan yang ditangkap oleh telinga.

Dengan kata lain “Ungkapan Omong kosong” bukan perihal esensi tetapi perilaku epistimologi, pendek kata “Omong kosong” adalah sebuah bangunan yang pasti memiliki ruang. jika kosong dianggap tidak ada lantas kenapa kita bisa mengatakan itu kosong? berarti ada sesuatu yang dianggap ada secara tidak langsung, dan ada itu adalah kosong itu sendiri.

“Ah jangan terlalu bingung dengan ungkapan yang rumit, buang-buang waktu saja!” ungkapan ini yang sering ditemui di khalayak umum. Entah karena memang malas belajar atau memang punya keyakinan atas pendapat dirinya sendiri. Jika masalahnya adalah malas, maka tiada kesimpulannya adalah tiada kemauan. Dan Hari ini tidak sedikit yang malas. Padahal Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang sempurna agar mau berpikir.

Ketika Bapak Adam belajar bersama di surga perihal istilah-istilah, maka otak yang memiliki fungsi berpikir, merekam semua apa yang didengar dan dilihatnya. Rahmat yang berupa kecerdasan akal inilah yang membedakan manusia dengan hewan, walaupun naluri hewaninya juga sangat buas. Oleh karenanya Tuhan memerintahkan setan untuk menghormati Bapak Adam, alasannya adalah keunggulan akalnya dan memiliki imbas terhadap pola pikir dan pola sikap.

Maka berpikir adalah proses yang abadi, seorang Filsuf Kenamaan Rene Descartes mengatakan “Cogito Ergo sum” aku berpikir maka aku ada. Dalam ritus islam kita mengenal Ibnu Arabi dengan pola emanasinya. muatan utamanya adalah berfikir dan memahami.

Karena yang tidak berpikir adalah ia yang sudah mati.

Lantas bagaimana bentuk ada yang sesungguhnya, Jika Jawabannya Tuhan, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang beragam terkait bagaimana bukti keadaannya, dalam ranah aqidah, adanya dikenal dengan akal, dalam ranah cinta adanya dirasa, lantas bagaimana menentukan jalan dalam kehidupannya? dengan Aqidahkah atau dengan Cinta? jawabannya adalah Berpikirlah!

Di satu sisi Iman perlu dibuktikan, atau patrapan dalam konteks jawa sanskrit, di sisi lain Iman adalah keluhuran rasa. Maka terseok-seok jika menjalin cinta tanpa logika, dan lumpuh tak berdaya jika logika tidak dilandasi cinta, ibarat kata seperti angka dan gambar dalam selogam uang koin.

Oleh karenanya bukan perkara kosong dan ada, tetapi berpikir atau tidak, dalam istilah jawa dikenal sarutama, seauatu yang saru, cenderung mendekati ketidak baikan justru menjadi modal awal belajar memahami, terutama memahami hak-hak orang lain, sehingga prosesnya adalah etis, moral, nilai dan budhi luhur.

Sehingga etika yang perlu ditanamkan adalah belajar mendengar, kemudian pola sikapnya adalah merenungkan dan memahaminya, karena dengan begitu akan ada ilmu pengetahuan baru yang didapatkan, yakni menghargai setiap hak-hak kemanusian.

Perkara berbicara menyisakan bekas atau tidak adalah seberapa giat kita belajar memahami. Mengapa penataan wayang ada golongan kanan dan kiri? singkatnya ada baik dan buruk, tetapi dalam tatanan baik pasti ada yang berhati buruk pun sebaliknya, dalam tatanan keburukan ada kebaikan yang bersarang dalam hati. Sarat untuk memahami hal tersebut hanya satu, yaitu belajar.

semoga senantiasa diberi semangat dan kesehatan, agar selalu belajar di setiap saat.

Pojok Rumah, 2018


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *