IMG20181207084904
Lek Dah

“Nganu…mak..mak…aku lahire mbiyen liwat ndi?” pertanyaan ini siapa yang tidak tahu jawabannya? pasti di benak sudah terbayang-bayang, apalagi yang suka poligami, pasti paling ahli untuk menyebut jawaban pertanyaan di atas. “Eits….sebelum anda menjawab pertanyaan di atas mari ngopi-ngopi dulu, itu ada samsu hisa disulut!”

Rasa penasaran seorang anak adalah bentuk perkembangan pola pikir, jika anak dianggap berimajinasi maka akan menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki daya tangkap yang berbeda-beda.

Segala macam teori sudah dihidangkan dengan topping yang menarik. tetapi tetap saja tidak sedikit orang tua yang tersedak karena persediaan air minum yang minim, mungkin terlalu lelah bekerja, menumpuk harta benda sehingga lupa bagaimana semestinya, jika pendidikan di sekolahan adalah ranah kognitif, maka di rumah adalah ruang yang lebar untuk mengembangkan psikomotor dan afektif. Yang jelas orang tua berperan atas hal ini.
Sepele memang, tetapi sulit untuk dijelaskan, semisal begini, ada anak kecil yang suka berkata kotor, jika misuh masuk lingkaran itu maka termasuk, tanpa disadari orang tua terkadang menyalahkan orang lain, karena anaknya suka berkata kotor, padahal jika dicermati, setiap anak memiliki memori yang luasnya bergiga-giga untuk merekam segala hal yang ia lihat, ia dengar dan ia rasa, apa buktinya? ketika proses menuju dewasa, anda sedikit demi sedikit akan terbawa ke dalam proses ziarah akal budi, ingatan-ingatan lama dan lain sebagainya yang kemudian menjadi perbandingan atas proses pendewasaan. Bagitu juga pada anak.

Seharusnya daya rekam inilah yang disadari oleh kebanyakan orang tua. lantas siapa yang salah ketika anak berkata kotor? tidak ada yang salah, mengapa? karena ini adalah proses pendewasaan anak, mereka akan memahami bahwa yang diucapkan tidak baik ketika mereka mengalami reaksi timbal balik yang bersifat melawan. Di sana mereka mendapatkan pengetahuan. Berarti harus dibiarkan? Tidak juga, setidaknya para orang tua mempelajari bagaimana mencari sela untuk memberi pelajaran terhadap anak. dengan kata lain baik anak ataupun orang tua belajar bersama. bukan saling menuntut satu sama lain.

Perihal di atas juga kadang kita temui ketika ada seorang anak kecil bertanya, Tuhan itu apa? atau bagaimana Tuhan itu? kafir itu apa? lalu dengan seenaknya sendiri menjawab “Suatu saat pasti kalian akan tahu sendiri, Kamu belum saatnya mempelajari hal ini,” dan alasan-alasan yang lain.

Dengan kata lain anggapan-anggapan “saru” memang sengaja ditutup-tutupi. Memang, tidak mungkin bayi langsung ongkang-ongkang dan menghisap rokok jisamsu, pasti ada prosesnya. Akan tetapi perihal penentuan pengetahuan yang baik, apalagi tentang moral pengetahuan seharusnya ditanamkan sejak dini. Ingat pembebasan berbeda dengan pembiaran.

Mengapa banyak anak di bawah umur sudah mengenal istilah pacaran, bahkan hamil duluan? rasa penasaran yang dipendam sejak lama menjadi salah satu alasan persoalan tersebut. Ada juga karena pendidikan keluarga yang ternyata masih kurang, atau bisa dibilang kepedulian terhadap budhi luhur seorang anak.

Prinsipnya adalah pengetahuan, tujuannya adalah berbudhi luhur, sesuai dengan ajaran dharma yaitu kebaikan. intinya adalah perihal kejujuran. Wanti-wanti dari nabi memiliki konsekuensi atas kejujuran itu, bahwa katakan atau lakukan kejujuran itu walaupun pahit hasilnya.

Oleh karenanya sinau bareng berlaku dalam mempraktikkan kejujuran, akan menjadi pendidikan timbal balik antara orang tua dan anak, di satu sisi anak belajar pun begitu juga orang tua. Karena kejujuran akan menghasilkan pemahaman, penghargaan dan penghormatan. Nilai dan etika dalam kehidupan adalah proses bagaimana anda memahami, bagaimana anda menghargai dan bagaimana anda menghormati.

hayo…. dulu lahirnya lewat mana?

Pojok Rumah. 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *