
Aku ingin memotong mega, yang memerah di pelupuk senja. Untukmu, Ya jelas! Untuk siapa lagi? Beberapa waktu lalu ia berdiri menjulurkan tangannya, agar pelangi bisa sampai di ujung matamu. Aku bukan manusia dengan segala rasa, aku hanya sebutir debu dari hempasan pasir pantai. Merendah? Tidak! Karena memang demikian diriku. Jika memang benar, matamu tidak seperti cermin yang memantulkan wajahmu, maka sepotong mega perlu aku raih untukmu, agar engkau tahu arti dari sebuah senja, yang selalu menyisakan rindu di penghujung matahari terbenam.
060419
Tinggalkan Balasan