
Di setiap malam hari raya pasti ramai, bising menyeruak di telinga. Sound-sound bertingkat di samping masjid dan muahola, ada juga yang dimuat truk dan pick up persediaan takbir keliling. Jalanan ramai lalu lalang kendaraan entah dari — mau kemana. Ada juga yang jalan kaki yang sedang takbir keliling dengan membawa obor.
Yang tak kalah ramai adalah pusat perbelanjaan. Baju baru dipajang dan ditawar. Berbagai model baju yang katanya islami juga tak mau kalah. Berjibun-jibun manusia memenuhi pasar, mall dan butik-butik.
Tetapi begitulah manusia, materialisme, eksistensi dan gengsi seperti menjadi penggerak setiap kepala. Bagaimana tidak. Di satu sisi sibuk menghias diri dan rumah, di sisi lain berharap pahala melimpah ruah.
Tetapi Tuhan Maha Pemurah. Jika pahala yang diminta pasti diberikannya juga. Atau surga yang dilomba-lombakan, pasti disediakan juga. Lantas bagaimana dengan ketenangan jiwa. Tidak ngosngosan harus seperti ini dan itu. Tidak kepalang tanggung meniru ini dan itu.
Justru ada segudang kesedihan jika hari raya tidak serba baru. Kepuasan seperti apa yang ingin dikayuh. Nikmat sehat seperti angin lalu, dan akan dicari ketika badan tak kuasa menahan panas dingin yang beradu.
Tapi Tuhan tetap Maha Rindu. Tiada lupa disuguhkan berbagai keinginan hambanya. Perihal bersyukur atau tidak bukan masalah bagi-Nya. Begitulah kebesaran-Nya. Tidak terukur dan tidak terkira. Hanya butuh kesadaran bagi manusia. Khususnya saya. Setiap saat luput dan tiada daya untuk memperbarui sikap agar berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Tuhan selalu memberi nikmat baru agar manusia selalu bersyukur atas itu. Oleh karenanya mari belajar selalu. Tulisan ini menjadi wejangan bagi saya pribadi. Agar tahu diri. Yang terpenting agar tidak lupa bersyukur setiap hari. Selagi hidup masih diberi. Oleh Tuhan Ilahi rabbi.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H.
Salim dari saya
Ahmad Dahri
Tinggalkan Balasan