Wanita Sufi (Rabiah Al-Adawiyah)

Rabi’ah al-Adawiyah[1]

Wanita penduduk Bashrah[2] ini adalah budak yang dimerdekakan oleh keluarga Atiiq. Sufyan ats- Tsauri Rahimahullahu Ta’ala acapkali bertanya, salah satu dari beberapa perkara itu berkaitan dengan keimanan dan keteguhan Rabi’ah. Sufyan menyukai cara bertutur dan himbauan-himbauan Rabi’ah al-adawiyah.

Ja’far bin Sulaiman adalah tokoh ahli hadits. Ia menceritakan bahwa Sufyan Athaury[3] pernah menangkupkan tangannya lalu berbicara pada diri sendiri wahai orang yang selalu menyemangatiku, engkau wanita yang mengajariku tentang moral dan etika, tidak pernah kutemui Wanita sepertimu, engkau menemaniku dalam mempelajari tata krama.  Seketika Ja’far bertanya tentang siapa Wanita itu? Kemudian Sufyan bercerita sambil mengangkat tangannya “Wahai Tuhanku, aku meminta padamu kesejahteraan tangis seorang Rabi’ah, apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Rabi’ah?

14850933775884ba019f968
NU Online

“Engkaulah penyebabnya sehingga aku menangis” jawab Rabi’ah.

“Bagaimana aku bisa membuat kau menangis?” tanyan Sufyan.

“Apakah engkau tidak mengerti, selamat dari perkara dunia adalah dengan meninggalkan sesuatu yang berkaitan dengan dunia, namun bagaimana engkau meninggalkan itu,  jika engkau sendiri adalah orang yang terlena dengan hal itu?”

Ahli hadits ini pernah pula mendengar bahwa Rabi’ah al-Adawiyah disapa oleh Sufyan Athauri.

“Perkara apa yang paling utama dan begitu membuat seorang hamba selalu dekat dengan Tuhan?” tanya Sufyan.

 “Mengapa engkau menanyakan itu sedangkan engkau sudah tahu sesungguhnya hamba yang benar-benar mencintai Tuhan tidak akan mencintai perkara dunia dan akhirat kecuali hanya cinta kepadaNya.” Sambut Rabi’ah, menangis.

Syaiban al-Abili, keturunan pejuang di masa Abu bakar pernah mendengar Rabi’ah mengatakan bahwa segala sesuatu melahirkan buah, adapun buah dari pengetahuan berupa pengabdian dan muwajjahah[4]  kepada Allah.

Imam Abu Bustham Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Warad al-‘Ataki al-Wasithi al-Bashri  yang berasal dari Basrah pernah mengatakan bahwa Rabi’ah selalu beristighfar[5] kepada Tuhan karena selalu merasa bersalah dan menyandarkan cintanya kepada Tuhan.

Pria asal kota Basrah tersebut pernah juga bertanya kepada Rabi’ah, “bagaimana kecintaanmu terhadap utusan Tuhan?”

 “Cintaku kepada Nabi Muhammad tidak menyibukkan cintaku kepada Tuhan sebagaimana cinta seorang mahluk,” jawab Rabi’ah

suatu hari, ketika angin berhembus dengan kencangnya Syu’bah bertemu dengan Rabi’ah, Syu’bah sedang mencium anak kecil[6].

Entah, karena penasaran Rabi’ah bertanya kepadanya, “apakah engkau menyukainya?”

“Iya, aku menyukainya,” jawab Syu’bah.

“Tak kusangka, ternyata masih ada ruang dalam hatimu yang tak kau isi dengan cinta kepada Tuhan,” ungkap Rabi’ah.

Di hari itu Syu’bah terjungkal kemudian pingsan, entah apa penyebabnya? Setelah ia tersadar dari pingsannya, ia mengatakan, “Tuhan telah menciptakan kasih sayang di hati setiap orang yang menyebahNya.”

Suatu ketika Syu’bah bercerita, Sufyan ats Tsauri menginginkan cinta Wanita sufi itu dengan mengungkapkan kesedihan dan kesusahannya.

“Jangan berbohong, katakan sedikit saja kesusahanmu, jika engkau adalah orang yang sedang kesusahan maka sesungguhnya di Sana ada kehidupan, ada kebahagiaan,” ujar Rabi’ah.

Dari kisah-kisah para bijak tersebut. Rabi’ah ingin mengatakan, “bila kita merasakan dan berfikir sehingga kita benar-benar susah, maka kita dibelenggu dengan kesusahan pula, namun di saat kita susah dan menyandarkanya pada Tuhan maka tidak ada kesusahan lagi bagiku.”[]

[1]   Cinta adalah ruang yang sangat luas untuk menaruh lukisan-lukisan yang indah, prabot-prabot yang bermanfaat dan barang-barang lain yang memiliki manfaat yang besar dalam kehidupannya. Cinta juga berarti semangat yang tinggi dalam menjalani proses-proses kehidupan, cinta juga seperti daun yang menangkap pelukan sinar matahari yang memnyuburkan pepohonan, cinta juga berarti hujan yang membasahi tanah karena kerinduannya tak tertahankan, cinta juga berarti hembusan angin yang menyejukkan, dan cinta (mahabbah) adalah kesejatian dari rasa syukur yang menumbuh kembangkan rasa ingin bersua denganNya.

Tasawwuf cinta yang dikenalkan oleh Rabi’ah al Adawiyah adalah Mahabbah al Ilahiyah, yaitu tingkatan yang dilalui oleh seorang salik untuk menempuh jalan ilahi. Rabi’ah lahir di Basrah pada tahun 105 H, kesetiaan Rabi’ah kepada Tuhan dibuktikan dengan pengabdian cintakepadaNya, ia menaburkan wewangian untukNya, menyerahkan dirinya kepadaNya dengan sepenuh hati, menyimpan rapat-rapat cintanya di dalam lubuk hati, sehingga dalam hidupnya hanya terpatri kuat cintanya kepada Tuhan, ia emban cinta itu sehingga mengalahkan duri-duri keduniawinyan bahkan cinta dari seorang ulama’ sufi ia tolak. Baginya tidak ada yang bisa menggantikan cintaNya. Menurutnya, “cinta yang murni, bukan hanya terbatas oleh keingina adalah cinta kepada Tuhan.”

Ia dilahirkan dilingkungan keluarga yang tidak berkeberadaan, ayahnya adalah Isma’il, ia hanya bekerja sebagai pengangkut penumpang yang menyeberangi sungai Dijlah. Namun begitu pantang baginya dan Rabi’ah untuk meminta-minta, mereka percaya kepada Tuhan, bahwa Rizki darinya tidak akan pernah salah sasaran, dan mereka percaya bahwa setiap makhluknya pasti akan diberi kenikmatan rizki atas sifat Rahman RahimNya.

[2]   Adalah kota terbesar kedua di Irak.

[3]   Sufyan ats-Tsauri lahir di Kuffah pada Tahun 96 H, ia memiliki nama lengkap Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin Habib bin Rafi’ bin Abdillah ats-Tsauri, ia adalah imam dalam bidang ilmu hadits, pun juga sebagai ahli Zuhud. Ia wafat di Basrah pada tahun 161 H.

[4]  Jika diartikan dalam bentuk lugas berarti bertatap atau bertemu muka, namun ungkapan ini lebih merujuk kepada ibdah sholat malam, kegiatan menyepikan diri dengan berdzikir.

[5]  Memohon ampunan dengan mengucapkan astaghfirullah al Adzim, isinya adalah memohon ampunan kepada Tuhan atas dosa yang disengaja maupun tidak. Dalam satu riwayat juga dikatakan bahwa jika ingin terbuka pintu rizki maka perbanyaklah membaca Istighfar.

[6] Mencium anaka kecil disunnahkan oleh Nabi Muhammad,diriwayatkan oleh Bukhari yakni “perbanyaklah kamu mencium anak cucumu, karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga,” (HR. Bukhari).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *