Nerassuara.com – Setiap kali Muharram tiba, mimbar-mimbar masjid dan linimasa media sosial serentak bergemuruh dengan satu kata: hijrah. Namun hijrah macam apa yang sedang kita rayakan? Jika kita jujur, sebagian besar narasi hijrah yang beredar tak lebih dari perpindahan kosmetik; ganti penampilan, ganti caption, tanpa menyentuh substansi. Yang adil luput dari muhasabah kolektif kita adalah institusi yang paling bertanggung jawab atas nasib generasi umat: lembaga pendidikan.
Kita dapat melihat kondisi pendidikan kita hari ini dengan seksama, bahwa terdapat sebuah ironi yang menyakitkan.
Jumlah madrasah terakreditasi, pesantren modern berfasilitas lengkap, dan sarjana pendidikan Islam terus bertambah. Gedung sekolah semakin megah. Koneksi internet semakin cepat. Namun angka dekadensi moral remaja, krisis adab terhadap guru, keterlibatan pelajar dalam perjudian online, dan pinjaman ilegal justru tidak menyurut. Ini bukan kebetulan statistik. Ini adalah gejala sistemik dari apa yang bisa kita sebut formalisme akademik : suatu kondisi di mana pendidikan telah kehilangan ruhnya, sibuk mengejar angka di atas kertas, lupa menanamkan tafaqquh fiddin yang sesungguhnya.
Formalisme bukan sekadar masalah sinkronisasi. Ia adalah masalah orientasi jiwa yang fundamental. Ketika ijazah formal dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan belajar, maka secara tidak sadar kita menggeser epistemologi pendidikan Islam dari tradisi yang dimasukkan ke dalam menuju pragmatisme yang dangkal.
Seyogianya menanamkan ilmu niat demi rida Allah, kebahagiaan akhirat, menghilangkan kejahilan dari dirinya dan orang lain, menghidupkan agama, dan melestarikan Islam. Jangan sampai niatnya adalah demi mendapat perhatian manusia atau menumpuk harta dunia.
Ketika orientasi ini bergeser, ilmu yang diperoleh pun berubah watak. Ia tidak lagi menjadi nurun ilahiyyun , cahaya ketuhanan yang berakhir di jalan. Ia menjadi komoditas yang diperjualbelikan di bursa tenaga kerja. Lulusannya tahu banyak secara teori, tetapi tidak terdorong untuk mengamalkannya. Mereka hafal dalil tentang kejujuran, tetapi bernegosiasi dengan kondisi. Mereka fasih bicara adab, tetapi menghardik guru di hadapan kelas. Inilah yang dimaksud para ulama salaf sebagai musikbah terbesar di dunia intelektual Islam.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin bahkan lebih keras lagi. Ilmu yang tidak memperbaiki hati dan tidak mengubah jiwa, kata beliau, bukan menjadi sebab kedekatan kepada Allah, malah sebaliknya:
وَعِلْمٌ لَا يُصْلِحُ الْقَلْبَ وَلَا يُغَيِّرُ النَّفْسَ لَا يَزِيدُ الصَّاحِبَ إِلَّا بُعْدًا عَنِ اللهِ، كَمَا قَالَ ﷺ: مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا .
“Ilmu yang tidak memperbaiki hati dan tidak mengubah jiwa tidak akan menambah bagi pemiliknya kecuali semakin jauhnya jarak dari Allah. serupa sabda Rasulullah ﷺ: ‘Barangsiapa bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuknya, maka ia tidak bertambah melainkan semakin jauh dari Allah’.”
Ini bukan metafora. Ini diagnosis teologis yang sangat konkret.
Yang lebih terpengaruh adalah merembesnya virus formalisme ini ke dalam institusi yang seharusnya menjadi benteng: pesantren. Ada kecenderungan sejumlah lembaga kepesantrenan yang mulai merasa rendah diri di hadapan sistem pendidikan modern. Akibatnya, waktu yang dulu dicurahkan sepenuhnya untuk pengkajian kitab turats melalui metode sorogan dan bandongan , kini harus dipotong demi memenuhi jam kurikulum dinas dan mencapai standar ujian nasional.
Ini bukan modernisasi. Ini adalah substitusi; membuang substansi untuk mencapai validasi dari sistem yang orientasinya berbeda secara mendasar.
Tradisi pendidikan Islam tidak pernah menjadikan ijazah tertulis sebagai indikator utama kelulusan seorang murid. Yang berlaku secara historis adalah ijazah syafahiyyah : pengakuan langsung dari guru atas kematangan ilmu sekaligus keluhuran akhlak murid. Seorang murid “lulus” bukan karena menjawab soal ujian dengan benar, melainkan karena gurunya menyaksikan sendiri bahwa ilmu itu sudah meresap ke dalam perilaku, bukan sekadar tersimpan di kepala.
Di luar soal iklim, ada kerusakan yang lebih halus namun lebih berbahaya: runtuhnya adab. Dalam sistem pendidikan modern, hubungan guru-murid sering tereduksi menjadi hubungan transaksional. Siswa merasa berhak bertindak semena-mena karena sudah membayar SPP. Guru kehilangan wibawa spiritualnya karena diposisikan sekadar sebagai tenaga pengajar bersertifikat.
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan betapa krusialnya memandang guru dengan pandangan penuh keagungan:
وَأَنْ يَنْظُرَ إِلَى مُعَلِّمِهِ بِعَيْنِ الْإِجْلَالِ , أَقْرَبُ إِلَى نَفْعِهِ بِهِ.
“Hendaknya seorang murid memandang gurunya dengan pandangan penuh keagungan dan penghormatan, serta meyakini kemuliaan sang guru, karena hal itu lebih mendekatinya pada manfaat ilmu.”
Tanpa adab, ilmu tidak mengalir. Ini bukan nostalgia romantisme. Ini adalah mekanisme epistemologi spiritual yang para ulama kita fahami secara mendalam: keberkahan ilmu bersumber dari ketulusan hubungan guru-murid, dan ketulusan itu mustahil lahir dari transaksi SPP.
Muharram yang kita rayakan seharusnya menggerakkan lebih dari sekedar seremonial. Berikut tiga langkah pemulihan yang perlu dilakukan secara serius:
Pertama , restorasi niat kelembagaan. Institusi pendidikan Islam harus menjadikan tafaqquh fiddin sebagai tujuan utama, bukan tempelan. Kelulusan santri diukur dari kedalaman pemahaman kitab turats, kematangan akidah Ahlussunnah, dan konsistensi akhlak dalam keseharian. Bukan dari berapa lembar ijazah yang terkumpul.
Kedua , mengembalikan marwah guru. Guru dalam institusi Islam bukan fasilitator teknis. Mereka murabbi ruh , penerus tugas para nabi. Posisi ini menuntut penghormatan yang tulus sekaligus kesejahteraan yang layak agar proses transfer ilmu berlangsung dalam keikhlasan yang utuh, tanpa terganggu tekanan ekonomi yang merusak niat.
Ketiga , menghidupkan budaya khidmah . Pengabdian kepada pesantren, guru, dan masyarakat adalah ruang tempat egoisme intelektual santri dirusak secara organik. Di situlah keberkahan ilmu dari para masayikh meresap perlahan ke dalam dada murid, bukan melalui ujian semester, melainkan melalui kerendahan hati yang dibor terus-menerus dalam kehidupan nyata.
Jika pendidikan kita terus berjalan dalam arus formalisme, kita sedang mencetak generasi yang tahu banyak namun tidak tergerak oleh apa yang mereka ketahui. Generasi yang lulus secara administratif namun gagal secara spiritual. Muharram bukan hanya pergantian kalender. Ia adalah undangan untuk memicu arah. Pesantren salaf harus tetap berdiri sebagai jangkar, bukan karena anti-modern, tetapi karena yakin bahwa ada sesuatu dalam tradisi keilmuan Islam yang tidak bisa digantikan oleh akreditasi mana pun.

Tinggalkan Balasan