Nila-nilai profetik

Nilai-Nilai Profetik

(Penegembangan SDM secara Normatif dan Edukatif)

Oleh: Ach. dahri

Profetik atau lebih cenderung pada profesi yang dikaitkan dengan kompetensi, profesi dalam artian pekerjaan yang mana jika profesi itu lebih dekat dengan pekerjaan maka tidak ada bedanya dengan pekerja-pekerja buruh jika dikaitkan dalam dunia pendidikan. Kemudian kompetensi, Chomsky mengatakan bahwa kompetensi itu kemampuan manusia secara fitrah yang muncul sejak lahir, islam sendiri mengatakan sebelum anak itu berbentuk darah daging dalam artian masih berbentuk ruh sudah melakukan kesepakatan dengan Tuhan mengenai semua yang terikat dengan ruh itu ketika terlahir menjadi manusia atau Homosapiens di dunia.  Dengan demikian kemampuan yang secara fitrah ini sudah ada tinggal bagaimana manusia itu memancing untuk memunculkan dan mengembangkan kemampuan itu yang mana jika mengambil faham Behavioursme harus ada Stimulus-Respon dalam memunculkan dan mengembangkan kemampuan itu.

Profetik atau kenabian, jadi nilai-nilai profetik ini mengaitkan dengan nilai kenabian yang empat yaitu siddiq, tabligh, fatanah, dan amanah. Nilai-nilai inilah yang kemudian dikaitkan dengan profesi dan kompetensi. Melihat sejarah bahwa Muhammad profesinya adalah pedagang terlepas dari bliau adalah seorang nabi namun untuk hal keduniawiannya adalah selain bliau sebagai pedagang bliau juga seorang penggembala dulunya. Hal itu menunjukkan bahwa kegiatan Muhammad pada waktu itu ialah perkerjaan atau memiliki profesi yang mananantinya dikaitkan dengan kompetensi yang secara fitrah terlapas dari pengetahuan-pengetahuan yang diterima.

Dengan gambaran tentang profetic yang dimaksud mengantarkan pemahaman pada sistim pemberdayaan sumberdaya  manusia yang dibangun dalam duni kerja kemudian disesuaikan dengan nilai-nilai Profetik yang melimputi 4 aspek yakni bertujuan pada kecakapan dan tanggung jawab. 4 aspek diantaranya adalah Siddiq yang diinterpretasikan dalam bentuk kinerja yang benar sesuai dengan aturan dan selalu menumbuhkan nilai dan moral yang baik, kemudian Tabligh diinterpretasikan untuk menyampaikan semua kekurangan dan kelebihan yang ada tanpa menutupinya, dan Amanah diinterpretasikan pada tanggung jawab ketika mengembang tugas sedangkan Fatanah diinterpretasikan pada kemampuan dan kecakapan yang terus dikembangkan melalui evaluasi kerja dan terus dikembangkan. Yang mana jika disimpulkan nila-nilai profetik yang di masukkan dalam dunia kerja menjadikan antara profesi dan kompeten itu bersinergi dan menghasilkan out-put yang benar, kemudian mengusung nilai moral yang di usung oleh Nabi Muhammad. Wallahu a’lam bi sowwab.

 

***

Batu, 12 Juni 2015(25 sya’ban 1436)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *