Nerassuara.com – Segala yang berkaitan dengan kehidupan adalah proses yang layak diperjuangkan. Sekalipun itu tentang masalah kebelet ke kemar mandi. Semua layak diupayakan, diikhtiarkan. Jagad sosial media ramai dengab visual pengupayaan itu, salah satu contohnya ada anak yang mengayuh sepedahnya untuk memperjuangkan kesehatan ayahnya.Ini tentang Firdaus, bocah asal Kabupaten Pidie, Aceh, yang diberitakan mengayuh sepeda sambil membonceng ayahnya yang sakit menuju rumah sakit.
Pengalaman ini menjadi momentum algoritmis di sosial media. Sehingga vidio yang diunggah di sosmed itu viral dan membawa respon yang beragam.
Di satu sisi, kita “mudah” tersentuh membayangkan anak kecil yang terus mengayuh demi membawa ayahnya berobat. Di sisi lain, kita kerap ingin memastikan kehadiran sosial atas realita seperti ini. Melihat pengalaman Firdaus ini, kita dapat melihat bahwa pengupayaan untuk kesehatan sang ayah itu lebih utama, ketimbang meraba ketidak pastian porsi pelayanan entah itu dari negara ataupun respon sosial secara kelembagaan pun kolektif.
Namun, ada ironi ketika tindakan luar biasa seorang anak dipuji sebagai kepahlawanan, sementara keadaan yang membuatnya harus bertindak demikian luput dari perhatian. Kita kerap mengagungkan ketabahan orang miskin, keluarga yang sakit, dan anak-anak yang menghadapi kesulitan. Semua itu layak dihormati. Namun, penghormatan dapat menormalisasi penderitaan, seolah-olah karena seseorang sanggup bertahan, keadaan yang memaksanya bertahan tidak perlu dipersoalkan.
Adik Firdaus memperlihatkan kasih sayang yang tak selalu hadir melalui kata, kalimat, atau poster sosmed sekalipun. Ia mungkin tidak memahami istilah tanggung jawab, tetapi tahu ayahnya membutuhkan pertolongan. Di sinilah kemanusiaan itu, bahwa seseorang bergerak karena orang yang dicintainya tidak boleh dibiarkan sendirian. Namun, anak seusianya semestinya juga punya ruang untuk belajar, bermain, dan tumbuh tanpa menanggung kecemasan orang dewasa.
Artinya, secara tidak langsung kisah ini menguji arti solidaritas. Masyarakat yang peduli bukan hanya membagikan video, mengirimkan doa, atau mengumpulkan bantuan setelah peristiwa viral. Solidaritas yang mendalam ialah mengenali kesulitan sebelum kamera menemukannya. Tetangga, komunitas, perangkat desa, organisasi sosial, dan lembaga keagamaan dapat menjadi jaringan pertolongan bagi keluarga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan. Kepedulian tidak seharusnya menunggu seseorang menjadi terkenal.
Dalam konteks digital dan sosial media, video seperti ini dapat melintasi wilayah dalam hitungan jam, mengundang empati, dan menggerakkan bantuan. Namun, perhatian digital juga mudah berlalu: kita terharu, membagikan, lalu melupakan. Kesedihan seseorang menjadi tontonan bersama, sedangkan penyebabnya tidak selalu menjadi urusan bersama. Karena itu, kisah Firdaus perlu diperlakukan lebih dari materi viral. Identitas, kondisi keluarga, dan rincian peristiwa tetap perlu diperiksa agar simpati tidak bertumpu pada informasi keliru.

Realitanya, kemampuan memperoleh pertolongan berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ongkos perjalanan, ketersediaan kendaraan, dan biaya berobat dapat bertaut menjadi beban. Ketika anggota keluarga sakit, orang lain mungkin harus meninggalkan pekerjaan atau menggunakan uang yang disiapkan untuk kebutuhan lain. Kemiskinan bukan hanya soal sedikitnya uang, melainkan sempitnya pilihan saat keadaan mendesak.Pada titik ini, tanggung jawab negara tidak boleh dihindari.
Akses kesehatan bukan sekadar keberadaan rumah sakit, dokter, atau jaminan kesehatan. Jarak, transportasi, kecepatan pertolongan, dan kemampuan keluarga menjangkau fasilitas turut menentukan apakah hak atas kesehatan dapat dirasakan.
Satu video tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh sistem telah gagal, dan kita belum mengetahui keadaan yang melatarbelakangi perjalanan Firdaus. Namun, kisah ini patut menjadi pertanyaan bagi pemerintah, apakah keluarga yang membutuhkan pertolongan memiliki jalan yang layak untuk mendapatkannya, terutama ketika tinggal jauh dari pusat pelayanan?
Mungkin kisah ini bukan semata-mata ironi. Di dalamnya ada pengupayaan: seorang anak berusaha menolong ayahnya, masyarakat dapat bergerak membantu, dan perhatian publik membuka jalan bagi pertolongan. Jika bantuan datang, itu patut disambut. Tetapi pengupayaan tidak boleh berakhir ketika video tak lagi ramai dibicarakan. Bantuan kepada satu keluarga perlu disertai usaha memperbaiki keadaan agar keluarga lain tidak harus menunggu kisahnya viral untuk memperoleh perhatian.
Kita tidak perlu mengurangi penghormatan kepada Firdaus untuk mempertanyakan keadaan di sekelilingnya. Justru dengan menghormatinya, kita perlu memastikan keberaniannya tidak menjadi alasan membiarkan anak-anak lain menghadapi beban serupa. Ada perbedaan antara memuji ketabahan dan menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang wajar. Yang pertama memuliakan manusia; yang kedua berisiko membiarkan ketidakadilan.
Kita mungkin tak pernah mengetahui apa yang dirasakan Firdaus ketika mengayuh sepeda. Kita hanya melihat sebagian kecil perjalanan, sementara kecemasan, kasih sayang, dan harapan di dalamnya lebih luas daripada yang ditangkap kamera. Kisah itu mengingatkan bahwa pertolongan kadang bermula dari kaki kecil yang terus mengayuh, dari seseorang yang menolak menyerah ketika orang yang dicintainya membutuhkan bantuan.
Kita boleh menyebutnya ironi, sebab seorang anak semestinya tidak perlu menghadapi beban sebesar itu sendirian. Kita boleh menyebutnya pengupayaan, sebab di tengah keterbatasan masih ada keberanian, kepedulian, dan jalan untuk saling menolong.
Namun, jika semuanya dipertemukan dalam satu pengertian, inilah yang paling mendekati kebenaran tentang perjuangan, ini adalah perjuangan seorang anak untuk ayahnya, perjuangan keluarga menghadapi keterbatasan, perjuangan masyarakat agar kepedulian tidak berhenti sebagai tontonan, dan perjuangan bersama membangun keadaan ketika kasih sayang tidak harus dibuktikan melalui kesulitan yang semestinya bisa diringankan.[]


Tinggalkan Balasan