Memaksa Pada Hati
(pendekatan pendidikan secara religi dan penerapan nilai)
Oleh : Achmad Dahri
Hati menjadi sumber penjelasan sikap yang ditunjukkan dengan interaksi personal atau komunal, hati yang menjadi sebuah pusat rasa munculnya intuisi yang kemudian di transformasikan kedalam otak dan dikembangkan dalam praktek kehidupan. Hati yang di janjikan sebagai pusat pemerhati untuk diketahui dengan melihat sikap ini pernah di ujarkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa Barang siapa sholatnya bagus maka hatinya juga bagus, barang siapa sikapnya (akhlaknya) bagus maka hatinya bagus jadi hati itu bisa ditunjukkan dengan sikap yang nampak pada diri seseorang.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dengan bentuk kepura-puraan yang dimunculkan selama ini oleh banyak orang? Seperti ada seseorang nampak selalu beribadah dan bersikap selalu baik namun secara hakikat dalam hatinya tidak baik? Entah dari niatnya atau dari apa saja. Akan tetapi jika kita sudah bisa mengetahui sikap seseorang seperti itu berarti pernahm mengamati atau merasakan sendiri sikap yang menunjukkan hatinya, disis lain dia sepertinya sholat jama’ah atau ibadah yang lain namun pada kenyataannya dia masih sering gibah dan kita mengetahuinya, maka dapat kita simpulkan bahwa hatinya yang sebnarnya ya seperti itu.
Jika kemudian menjawab pertanyaan diatas adalah sebuah keniscayaan seseorang itu melakukan khilaf karena sifat dab hakikat manusia sendiri adalah Al Insanu Mahal Al khata’ wa nisyan yang berarti memiliki kekurangan dan menjadi tempatnya salah dan lupa. Ya oke lah namun apa hubungannya dengan hati dan sikap apalagi kedua term itu berhubungan dengan watak, hubungannya dalah watak itu menjadi bagian out put dari ungkapan tentang hakikat manusia diatas. Jadi jika ditarik pernyataan adalah jika generasi penerus bisa di didika dengan pendekatan nilai-nilai yang uluhiyah tanpa mengenyampingan sifat manusia sendiri maka akan ada keseimbangan antra sikap dan hati yang memproses sehingga ada out put yang baik dan benar sehingga ada keterkaitan antara hati dan sikapnya. Jadi wadah apa yang bisa menampung dan mengolah permasalahan ini? Ya semua wadah pendidikan bidangnya adalah sekolahan, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Jadi menggalkakan pendidikan yang baik seperti pendekatan pesantren yang diusung oleh Wali-wali terdahulu merupaka sistem pendidikan yang tidak menerapkan sistim veodalis dengan melakukan pendekatan-pendekatan humanis terhadap peserta idiknya atau santrinya. Sehingga sekarang mulai bermunculan pendidikan dengan model pendidikan berkarakter, yang memiliki tujuan untuk menjadikan pendidikan sebagai wadah yang benar-benar membangun sikap yang kemudian dikontrol oleh hat itu sendirri. Wa Allahu a’lam bi sawab.
***
Pendem 14 juni 2015( 27 sya’ban 1436)
Tinggalkan Balasan