Rokok dan Pesantren

Ada kisah nyata yang entah saya sendiri sebagai santri atau kebanyakan santri mengalami hal tersebut, terutama perokok berat. Jika dulu ada kisah dari para sesepuh santri yang mengatakan

“dulu jika ingin merokok maka harus mengumpulkan teggesan, kemudian dijadikan satu dan dilinting dengan kertas”

sepele memang, namun ada sudut pandang ekonomis yang perlu diperhatikan, bahkan bukan hanya nilai ekonomis saja, ada nilai yang lain yang terkandung dalam cerita-cerita seputar anak pesantren.
Jika ada perbincangan tentang ekonomi maka yang terbesit adalah untung rugi, bahkan dinominalkan. Padahal ekonomi tidak hanya berspekulasi terhadap produk untung rugi. Semisal ada kisah tentang seorang kiyai sepuh yang membarter kitabnya dengan kitab lain yang ingin dipelajarinya, saya kira cerita ini sudah sangat popular di kalangan santri. Dalam cerita tersebut bukan menitik beratkan pada keuntungan nominal, tetapi keuntungan secara nilai.

Realisasinya adalah sebelum kiyai tersebut menukar kitabnya, maka ia pahami secara mendalam kitab tersebut, sehingga pelajaran di dalam kitab itu sudah tersimpan di laci pemikirannya. Nilai perjuangan inilah yang menjadi sebuah keuntungan ekonomis bagi kiyai tersebut.

 

Jika saat ini banyak pesantren yang memiliki badan usaha, adalah wujud dari pengembangan perputaran perekonomian di pesantren yang menjadi titik beratnya, santri-santi yang nantinya sudah tidak di pesantren akan mendapatkan pekerjaan di bidang badan usaha pesantrennya. Hal itu sudah banyak dikembangkan, Walaupun badan usaha itu dalam berbagai bentuk, bukan hanya bentuk koperasi, mini market atau pelayanan jasa, tapi juga dalam bidang-bidang yang lain yang memiliki nilai ekonomi secara nominal dan nilai.
Konsep bisyarah misalnya, idealisme pesantren mengatakan bahwa itu bukan gaji tetapi bentuk dari perhatian pesantren karena sudah meluangkan waktu untuk mengajar atau membantu di pesantren. Dan yang sangat membekas dari nilai-nilai ekonomi di pesantren adalah ketika tidak merugikan banyak pihak. Nilai yang sudah ditanamkan inilah yang mempengaruhi terhadap sikap santri atau pengurus pesantren saat mengembangkan bidang perekonomian yang berbentuk apapun.
Penekanannya adalah ada bidang ekonomi yang dikembangkan secara nilai dan secara nominal, dengan kemajuan zaman yang tidak terbendung, patut kiranya pesantren juga nimbrung di dalam kancah perekonomian, dan faktanya banyak pesantren yang sudah sukses mengembangkan bidang perekonomian tersebut.

Dari kegiatan ngecer rokok saja, pesantren lebih tepatnya santri sudah bisa mengembangkan sistim jual beli.

 

Sehingga pesantren juga memiliki sikap sadar akan perkembangan zaman dan perkembangan perekonomian, dan jika dikaitkan dengan kompetisi, pesantren juga mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan formal yang sudah sangat menjamur dan menuju perkembangan secara sistem. Wallahu A’lam

Luhurian. Com Juli 2018

IMG20180927211219

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *