Ransel Merah Maroon…

Sore yang berbalut cahaya matahari, memerah senja menyapa dedaunan yang mulai meringkukkan tubuhnya pada reranting yang rindang. Gegap gempita cembirit sayup menyapa dinginnya kampung Coban. Timbul tenggelam bersama desiran angin gunung yang datang tiba-tiba. Seperti biasa Mbah Sikah yang sudah 10 tahun terakhir kerap membersihkan serambi langgar kidul kampung coban mengayunkan sapu dengan lembut. Tampak bersemangat karena setiap malam Jum’at pasti ada rasulan di sana.
Cahaya lentera beradu dengan merekahnya merah matahari senja. Tampak dari arah timur bulan sabit menyapa merpati penduduk kampung Coban yang sedang terbang menuju kandangnya. Mbah Sikah tiba-tiba duduk menghadap ke Timur dan menyandarkan dirinya ke tiang panyanggah dari kayu jati, yang mungkin sudah puluhan tahun umurnya, namun tetap kokoh.
“Kemana ya Pak Mukidi? Sudah lama tidak mampir langgar kidul?” gumam Mbah Sikah.
“Siapa Pak Mukidi itu Mbah?” tanya Abi yang tiba-tiba muncul di hadapan Mbah Sikah, cucunya dari anaknya yang ragil memang kerap ikut Mbah Sikah ke langgar.
“Pak Mukidi itu penjual Obat keliling, ia kerap jalan kaki dari kampung ke kampung. Kalau di kampung ini langganan istirahatnya ya di sini, dan nanti bermalam di rumah Mbahmu Pak Silan.
“Lah sekarang apa sudah tidak pernah mampir ke sini Mbah?” Abi penasaran.
“Sudah hampir lima tahun lebih ia tak kelihatan batang hidungnya,” singkat Mbah Sikah
Malam semakin memekat, lantunan adzan maghrib juga mulai sayup terdengar melalui Toa-toa masjid dan langgar-langgar dari kampung tetangga. Rasa penasaran akan Pak Mukidi Si penjual obat terpotong oleh malam. Mungkin cerita tentangnya hanya akan menjadi bahan lamunan Mbah Sikah yang ditemani oleh erangan orong-orong dan jangkrik.

***
Gemericik hujan tiba-tiba mengantarkan harum aroma tanah, agaknya sudah beberapa hari mengering. Namun begitu Kampung Coban dikenal kesuburan tanahnya, bahkan air melimpah ruah. Tak jarang penduduk kampung sebelah menimba air di sumur langgar kidul hanya untuk memenuhi kebutuhan air di rumahnya. siang itu langit enggan bersahabat dengan matahari, mendung yang bergerombol seperti kumpulan kapas tebal. Anak-anak kecil gembira riang menyambut hujan datang, mereka seperti di bawah sepuyer raksasa yang menyemburkan air dengan lebat. Mbok Rami memanggil Galih dan mengacungkan kayu saman yang sudah kering, pertanda ia marah, segeralah Galih masuk rumah dengan terengah-engah.
“Jarne, kalau kamu tidak mau masuk biar aku panggilkan pak Mukidi, biar kamu di suntik.” Tukas Mbok Rami.
“Jangan mbok…” Galing menggigil sambil melangkah mundur ketakutan.
“Makanya jangan hujan-hujanan” Mbok Rami memperingatkan.
Teman-teman Galih yang juga termasuk Abi di sana, saat itu mendengar ucapan Mbok rami dan kemudian menyusul pulang kerumah masing-masing. Namun mereka menyisakan rasa penasaran akan Pak Mukidi. Ia tidak Nampak namun namanya mampu menakuti anak-anak. apalagi ancaman Mbok Rami pada Galih meyakinkan bahwa anak-anak yang nakal akan disuntik oleh Pak Mukidi. “siapa sih Pak Mukidi itu?” benak mereka seperti terhubung satu sama lain.
Keesokan harinya cerita tentang kemarahan Mbok Rami menyebar di seluruh sudut sekolah, anak-anak membicarakan Pak Mukidi dengan berbagai versi. Ada yang mengatakan pernah bertemu dan perawakannya tinggi besar dan mukanya menyeramkan. Cerita lain bahwa pak Mukidi pernah menginap di rumahnya, katanya ia membawa bermacam-macam jarum suntik dan obat-obatan. Mereka semakin waspada seperti sedang mamasang kuda-kuda saat akan berkelahi dengan musuh. Namun berbeda dengan dengan Abi, ia menceritakan kepada teman-temannya bahwa pak Mukidi itu orang baik. Ia mendengan cerita dari kakeknya, Mbah Sikah.
“Jangan salah sangka, pak Mukidi itu pejuang Lho…bayangkan ia berjalan dari Dampit dan menjajakan obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.” Sergah Abi
“terus-terus kata Mbahmu gimana?” Galih Penasaran.
“walaupun pak Mukidi hanya sebagai tukang Obat keliling, ia mampu menguliahkan anak-anaknya, kata Mbahku ia dulu pernah di Usir dari masjid kampung sebelah karena bertamu tidak lapor kepada Pak RT, ia juga pernah tidak diperbolehkan menginap di salah satu rumah warga, padahal hari sudah malam dan hujan pula. Namun begitu Pak Mukidi tetap semangat dan menerima perlakuan itu dengan tenang.” Lanjut Abi.
“Kata Mbahku kok Pak Mukidi itu Nyuntikan ya…” ungkap Galih.
“Aku juga tidak Tahu, aku hanya mendengar dari Mbahku kok.” Jawab Abi.
“Makanya jangan membuat cerita yang tidak-tidak kalau tidak tahu sendiri” lanjut Abi.

***

Lantunan ayat suci yang dibaca oleh Mu’ammar mulai terdengar di setiap toa masjid dan langgar di sekitar kampung Coban, begitu juga di langgar kidul, qari’ era 90an ini rupanya masih digemari oleh masyarakat, bahkan lintas genarasi. Tehnik pernafasan yang baik dan nafas yang tidak putus-putus menjadi ciri khas dari qari’ satu ini. Namun cerita ini bukan tentang Mu’ammar tapi tentang Pak Mukidi.
Bolehkan saya sulut satu batang rokok dulu? Nah begini kan enak, kalau boleh nambah secangkir kopi dong biar lebih hangat.
Sore itu anak-anak berkumpul di langgar Kidul untuk mempersiapkan sa’banan, setiap bulan sya’ban memang selalu ada kegiatan rasulan atau lebih dikenal dengan slametan. Sembari membersihkan seluruh ruangan langgar, Abi dan Galih menata dampar di serambi langgar. Mereka terkejut saat melihat ransel merah maroon bersandar rapi di tembok, baru kali ini mereka melihat tas ransel yang kelihatannya terbuat dari kulit asli. Mereka takut untuk memindahkan ransel tersebut, karena dampar yang akan mereka tata biasanya diletakkan di serambi langgar.
Abi melihat kakeknya sedang berbincang asyik dengan lelaki paruh baya berambut putih dengan hem dan celana rapi. Mbah Sikah menggandeng erat lelaki tersebut. bahkan sesekali mereka tertawa bersama-sama, namun tak jarang saling mengelus punggung satu sama lain. Dalam benak Abi apakah ransel ini milik lalaki tua itu? atau ini miliki kakeknya yang berisi makanan untuk sya’banan nanti malam? Tetapi abi tak pernah melihat kakeknya menggendong tas sebagus itu, atau jangan-jangan tas ini miliki lelaki paruh baya itu, atau mungkin ia adalah pak mukidi? Pertanyaan-pertanyaan yang timbul tenggelam seperti merangsek pada fikiran Abi. Saat lelaki tua itu menoleh dan melihat Abi sedang kebingungan ingin menata dampar namun terhalangi oleh ransel merah maroon di depannya.

images (2)

“abi ya,,,wah sudah besar ya” sapa lelaki paruh baya, sambil mengelus pipinya.
“hehehe…enggih saya Abi,” jawabnya malu.
“kelas berapa sekarang Le?” lanjut lelaki paruh baya itu.
“kelas enam SD” jawab Abi sambil berlalu menata dampar.

Abi berlalu bersama rasa penasaran, siapa lelaki paruh baya yang bersama kakeknya? Ia mengisyaratkan kepada Galih untuk segera masuk ke langgar. Menurutnya Galih bisa diajak membicarakan sosok paruh baya berperawakan tinggi dan ramah, apalagi akrab sekali dengan kakeknya. Ternyata ransel merah maroon itu milik lalaki paruh baya itu, kemudian pertanyaan-pertanyaan di benak abi mulai muncul kembali, siapakah ia, ataukah ia adalah saudara kakeknya dari Madura? Atau ia adalah teman karibnya yang sudah lama tak bersua? Namun tak satupun jawaban yang dapat Abi dapatkan dari obrolan bersama si Galih.
Malampun berlalu bersama rasa penasaran, karena sejak ada lelaki paruh baya itu, Mbah Sikah sepertinya tidak tidur di rumah, bahkan entah kemana ia? Saat Abi menanyakan ketidak pulangan kakeknya kepada ayahnya, dengan tenang ayah Abi menjawab “Mbah sedang bersama sahabatnya, mungkin malam ini tidur di langgar,” kemudian mengalihkan pandanganya pada televisi yang malam itu menyiarkan pertandingan bola antara Arema Fc dan Persipura. Malam itu benak abi dipenuhi rasa penasaran akan siapa sebenarnaya lelaki paruh baya itu dan siapa pula sahabat Mbah Sikah? Rasa penasarannya melebur dan mengendap sedalam-dalamnya bersama mata yang terpejam sedikit demi sedikit, kemudian menemui kegelapan yang berubah menjadi lanskap yang tidak bisa ditentukan dengan lanskap mana ia akan bertemu.

***

Sudut sekolah yang ramai, lalu lalang anak-anak berlarian bermain dengan girang, bahkan burung turut riang bernyanyi bersama nyanyian cublak-cublak suweng yang sedang dimainkan oleh sebagaian anak di pojok lapangan, syukurlah generasi ini masih mengenal permainan yang sudah hampir ditelan buaya itu.
Eh…saya lupa, rokok saya mati, boleh pinjam korek dan mungkin pisang gorengnya satu, biar lebih rileks.
Abi masih menyimpan rasa penasarannya, ia berencana ingin menanyakan siapa lelaki paruh baya itu kepada kakeknya sepulang sekolah. Namun di pertengahan rasa penasaran yang sudah hampir menemukan jalan terang itu, ia tiba-tiba teringat pada gumaman Mbah sikah di sore itu, apa mungkin lelaki itu pak Mukidi? Jika benar, Abi ingin menanyakan padanya bagaimana memunculkan rasa semangat yang dimiliki Pak Mukidi, agar seperti kebanyakan cerita penduduk kampung Coban, bahwa Pak Mukidi adalah orang yang semangat, demi anaknya yang sedang kuliah ia tetap berjalan menyusuri kampung-kampung dengan menyelempangkan tas ranselnya yang berisi obat-obatan. Bahkan kabarnya anaknya ada yang sudah menjadi guru di salah satu sekolah ternama di kota malang.
Bagaimana kedua kaki itu menapakai jalan yang terjal, curam, licin bahkan kabarnya lima tahun yang lalu kampung Coban baru menerima bantuan aspal. Bagaiman dengan keadaan jalan sebelumnya, dan bagaimana pak Mukidi melaluinya. Dampit dan kampung Coban bukan jarak yang hanya sepelemparan batu dari katapel. Bagaimana saat dingin mulai menyeruap dan menyelinap di antara pori-pori kulitnya kemudian menyapa tulangnya? Segudang pertanyaan itulah yang ingin disampaikan Abi padanya.
Saat Abi memasuki rumahnya, terdengar banyak orang yang sedang bersautan canda gurau, tawa yang timbul tenggelam, rupanya di ruang tengah sedang berkumpul banyak orang. Ternyata lelaki paruh baya itu ada di rumahnya lengkap dengan tas ransel merah maroon di sampingnya. Mungkinkah ia Pak Mukidi?
“Mbah, tadi malam tidur dimana?” tanya Abi sambil semlendet di bahu Mbah sikah.
“Mbah turu langgar dengan teman Mbah ini” jawab Mbah sikah sambil mengelus kepala Abi.
“Teman Mbah ini siapa? Dan dari mana? Mau menginap di sinikah nanti malam?” tanya Abi ndedes.
“Ini Mbah Muji, adiknya Mbah Mukidi.” Jawab Mbah Sikah.
Sambil membenarakan duduknya Abi seperti ingin menyimak lebih lanjut, “Lho Mbah Mukidi kemana Mbah?” lanjut ndedes.
“Mbah Mukidi sedang di rumah, beliau habis operasi mata, jadi belum bisa silaturrahmi ke kampung Coban le,” potong Mbah Muji.
“Lantas, apakah anak-anaknya menemani Mbah Mukidi? Dan bagaimana Mbah Mukidi itu?” Abi dengan rasa penasaran yang besar.

 

Mbah Muji menjelaskan bahwa Mbah Mukidi itu orangnya seperti tidak pernah punya lelah, anak-anaknya di rumah semua karena mereka tidak harus mengurus usahanya, sudah ada yang menjalankan, mereka hanya mengawasi sesekali kecuali yang sedang menjadi guru. Kalau sakit yang dialami Mbah Mukidi adalah katarak dan harus dioprasi, harapannya adalah segera sembuh namun ada gangguan lain di saraf matanya, sehingga harus dioperasi lagi. Imbuhnya, Mbah Mukidi sebenarnya masih ingin silaturrahmi dan berjalan menyusuri kampung-kampung bertemu dengan generasi baru, bertemu orang baru, karena dengan demikian ia bisa menambah saudara, toh silaturrahmi juga menjadi jalan untuk melancarkan rejeki, tentunya rejeki tidak harus berupa uang.
Mbah Mukidi terbilang orang yang sukses menyekolahkan anak-anaknya sampai di perguruan tinggi, bahkan sekarang anak-anaknya sudah memiliki usaha sendiri da nada yang jadi guru juga. Semangat Mbah Mukidi tertular kepada anak-anaknya. Harapannya juga tertular kepada anak-anak yang berada di setiap kampung yang ia singgahi. “Jadi Mbah Mukidi itu bukan Momok yang dibuat untuk menakut-nakuti anak kecil, hayoo aja nangis wae, tak celukke Pak Mukidi ben disuntik!, kamu pernah mengalami kan le?” gurau Mbah Muji.

“hehehe enggih Mbah” jawab Abi malu-malu.
“Le kalau besar nanti tiru Mbahmu dan Mbah Mukidi, mereka berdua adalah orang yang mau memberi dan enggan menerima imbalan, karena prinsip mereka berdua adalah Nandur sak akeh-akehe” imbuh Mbah Muji.

Siang itu rumah Abi penuh dengan tawa dan cerita bahagia, tentunya harapan dan doa agar Mbah Mukidi segera sembuh terpancar dari perbincangan mereka. Abi yang menyimpan rasa penasaran dalam-dalam akhirnya pecah juga wadahnya. Sangkaan-sangkaan akan Pak Mukidi dengan Tas ransel merah maroon itu akhirnya terjawab juga. Abi melenggan dengan tersenyum mengembang di wajahnya menyusuri jalan setapak menuju langgar, kemudian di sapa oleh Galih, “lapo senyam-senyum dewe iku? Koyok wong edan” sapa Galih
“Aku wes ngerti sopo Mbah Mukidi iku” jawab Abi bangga.
“ceritakan Bi… agea…!”
***
Kobis. 2018

Langgar : Mushala (tempat beribadah seperti masjid)
Rasulan dan slametan : seperti syukuran
Nandur sak akeh-akehe : menanam sebanyak-banyaknya
lapo senyam-senyum dewe iku? Koyok wong edan : kenapa senyum sendiri, seperti orang gila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *