Belajar Gila

FB_IMG_1543416836132

Gila adalah cinta yang berlebih, begitu kata Majnun saat ditanya mengapa dia selalu menyebut nama Laila, lalu menangis sedu sedan. Jika kebanyakan orang menilai gila adalah kelainan dari mental, maka akan berbeda ketika naluri ruhaniah yang menjadi titik baliknya. Adanya Akal, Hati, dan Ruh menjadi bukti bahwa adanya fase-fase sikap pikir akan cinta dan kecintaan.

Masalahnya hari ini tidak sedikit yang luput membedakan akan cinta dan kecintaan, atau luput menakar kadar cintanya, sehingga derai air mata hanya berlinang begitu saja, tanpa tahu ia mengalir untuk apa.

Apakah tidak boleh memiliki kecintaan? siapa bilang? manusia lahir atas dasar cinta, manusia hidup dan bersenda gurau atas dasar cinta, manusia berjuang dan berkorban atas dasar satu kata yaitu cinta, bahkan manusia berperang pun karena cinta, lantas apa yang kemudian menjadi alasan untuk manusia atau makhluk yang lain untuk tidak menyinta?

Secara tekstual Gila dalam bahasa arabnya adalah Majnun, asal kata Janna yang berarti menutupi, jika dianggap hilang akal maka ada sesuatu yang menutupi akal manusia sehingga kondisi tertutupi itu dianggap gila. Namun sebelum merujuk pada pengertian tersebut patut kiranya kita tahu apa sebenarnya yang menutupi akal tersebut? karena Jika Majnun adalah akal yang tertutupi, maka ada sebab dan komponen yang menutupinya.

Manusia adalah mahluk yang dilengkapi dengan daya pikir yang luar biasa, memiliki potensi yang cemerlang, puncaknya adalah akal budi yang praktiknya menjadi etika, di mana saat ini yang bernama etika telah pergi ke antah berantah, jikapun kembali mungkin manusianya sudah dalam kondisi kolaps. Sehingga manusia dengan daya guna yang luar biasa ini memiliki puncak kecemerlangan pola sikap yakni Etika. Maka pertanyaannya adalah Etika seperti apa yang kemudian menunjang daya guna akal dan pola sikap tersebut?

Tiada tujuan atas penciptaan manusia dan jin selain mengabdi kepadaNya, kepada Tuhan alam semesta, jika junun memiliki kaitan atau satu rumpun dengan Jin maka tanpa terkecuali jununpun beribadah kepada Tuhan. Perihal bentuk ibadahnya bagaimana, tentunya jangan disamakan dengan presepsi ke akuan.

Karena Ibadah adalah pengabdian, penghambaan, penyadaran bahwa tiada kuasa selain kuasa Tuhan. Maka setiap ciptaanNya yang iman kepadaNya diberi jalan tersendiri untuk menyatakan penghambaannya. Sehingga bukan perihal benar salah konteksnya, jikapun dipaksakan maka hanya akan saling menilai dan menghukumi saja, sehingga tiada kesejahteraan (Islam) yang menjadi tujuan kehidupan, di mana perintah Tuhan jelas bahwa “Udkhulu Fi Silmi Kaffah.” Dengan kata lain konteks tujuan hidup dalam tali kasihNya adalah kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan dan puncaknya adalah ketenangan.

pada akhirnya Manusia dengan cintanya menentukan pada siapa dan bagaimana ia mengabdikan diri, kecintaannya mendorong dan menjadi mobilisasi atas pencapaian-pencapaiannya. Di mana jika dengan cinta yang berlebeih menjadikan manusia gila, maka setidaknya belajar agar cinta yang berlebih ini tepat sasarannya adalah kunci kebahagiaannya, mengapa? karena banyak yang katanya cinta namun berahir dengan gelisah, banyak yang katanya cinta namun lupa pada apa yang dicintainya, cinta kepada ulama’ akhirnya fanatik tak terarah, cinta pada tanah air kadang diimbuhi harapan-harapan agar menyandang gelar pahlawan atau gelar sang penyelamat.

Maka bacalah!!! isi wahyu pertama Tuhan kepada Sayyidina Muhammad, di mana setiap melakukan apapun dituntut untuk mempelajarinya dengan sangat mendalam. pun perihal gila, di satu sisi gila adalah efek atas kecintaan, di sisi lain gila adalah pelajaran akan cinta yang semestinya.

Bandung – Surabaya- Malang, 2018

#LekDah
#Hitamkah_Putih_itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *