
Ketidakajegan saya selanjutnya adalah tidak kuasa menjaga penyakit hati. Iri terkadang dibalut dengan rasa tak kuasa, merasa tidak punya apa-apa, bahkan merasa disisihkan dan lain sebagainya. Tetapi begitulah kerja hati. Merasa bangga diri di satu sisi dan merasa rendah tiada kuasa apapun di sisi yang lain. Saya kira semua manusia memiliki rasa iri. Bagaimanapun ruang dan waktunya.
Karena dengan begitu manusia akan benar-benar paham bahwa manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Aspek normatifnya adalah latar pengetahuan setiap personal. Aspek pendalaman diri dari setiap apa yang ditemui dalam kehidupan.
Sering kali saya merasa iri, apalagi ketika ada sikap yang berbeda dari orang terdekat. Baik kolega, sahabat maupun orang tua. Dan pada posisi tertentu hanya menyerahkan segala keadaan kepada Tuhan. Kepada Yang Maha membolak balikkan tata ruang di dalam hati. Dan pada posisi itulah seperti mereguk nikmat yang luar biasa. Di mana Tuhan benar-benar menjadi tujuan utama kehidupan. Maka bukan seperti apa yang saya inginkan, tetapi lebih pada bagaimana agar hati menjadi tenang.
Dan dengan mengingat-Nya setiap saat adalah jalan menuju hati yang lebih tentram penuh temaram cahaya cinta.
***
Tinggalkan Balasan