Grayah-grayah Tradisi Pesantren

Nerassuara.com – Sebentar, ini bukan tentang Muktamar kemarin, muktamar telah usai. Hiruk-pikuknya perlahan mereda, tetapi ada satu hal yang justru menarik untuk direnung pahami lebih dalam, yaitu tentang apa yang sebenarnya diajarkan pesantren kepada kita?

Ini bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bukan pula tentang siapa yang paling kuat atau paling banyak mendapatkan dukungan. Peristiwa apa pun yang berlangsung dalam sebuah organisasi pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah.

Hikmahnya adalah apa yang kita pikir dan renungkan dari sebuah peristiwa. Sebab bagi orang yang tumbuh dalam tradisi pesantren, ada sesuatu yang semestinya tidak boleh kalah oleh hiruk-pikuk apa pun: adab kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu, dan lebih panjang pengabdiannya.

Pesantren sejak dahulu memiliki cara yang sederhana dalam menghormati kiai. Ketika seorang kiai sepuh berbicara, kita mendengarkan. Mendengarkan bukan berarti semua perkataannya pasti benar dan tidak boleh dikritik. Kiai juga manusia. Santri pun memiliki hak untuk bertanya dan berbeda pendapat. Tetapi pesantren mengajarkan bahwa sebelum merasa paling tahu, kita perlu memberi ruang kepada pengalaman.

Ada orang yang telah berjalan puluhan tahun, melewati berbagai zaman, mengurus umat, mendidik santri, menghadapi banyak persoalan, dan menyaksikan pergantian generasi. Perjalanan seperti itu memiliki bobot yang tidak selalu bisa diukur dengan kecerdasan, jabatan, popularitas, atau kemampuan menyusun strategi.

Karena itu, dalam kultur pesantren, manusia tidak hanya dilihat dari apa yang ia miliki hari ini. Ada ilmu. Ada pengalaman. Ada sanad. Ada keteladanan. Ada umur. Ada pengabdian. Ada ngalap berkah. Dan ada satu hal yang sering kali tidak tercatat dalam ukuran apa pun: rasa hormat.

Inilah salah satu kekayaan tradisi pesantren yang mungkin semakin penting untuk diingat ketika kehidupan kita semakin cepat. Seorang santri boleh berbeda pendapat dengan kiainya. Tetapi cara berbeda pendapat adalah bagian dari adab.

Kalau seorang kiai menyampaikan pandangan, lalu kita menjawabnya dengan argumentasi yang baik, itu musyawarah. Tetapi jika kita merasa perlu mengabaikan nasihat hanya karena tidak sesuai dengan keinginan kita, atau bahkan berusaha agar suara orang tua tidak terdengar, di situlah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: masihkah cara kita disebut cara orang pesantren?

Sebab adab tidak pernah berarti membenarkan segala sesuatu tanpa berpikir. Adab juga bukan mengkultuskan kiai. Justru dalam tradisi keilmuan pesantren, kritik dan perbedaan pendapat memiliki tempat. Yang dijaga adalah cara menyampaikannya. Ilmu boleh membuat seseorang berani berbicara, tetapi adab mengajarinya kapan harus menundukkan suara.

Ngaji kitab kuning dan ngaji kehidupan pesantren mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa. Ada ta’ammul, ada tatsabbut, ada tabayyun. Memahami persoalan kadang membutuhkan waktu lebih panjang daripada menyampaikan pendapat tentangnya.

Hari ini kita hidup dalam zaman yang berbeda. Informasi tumpah ruah, melimpah dann seabrek bertebaran di mana-mana. Pendapat bisa muncul dalam hitungan detik. Orang yang cepat berbicara sering dianggap lebih tahu. Orang yang cepat mengambil posisi sering dianggap lebih berani.

Tetapi pesantren memiliki pelajaran yang sedikit berbeda: Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang lambat itu tertinggal. Ada saatnya kita berhenti. Mendengar. Merenung. Bertanya. Kemudian mengambil sikap.

Di sinilah penghormatan kepada kiai sebenarnya bukan sekadar mencium tangan atau menundukkan kepala ketika berhadapan. Penghormatan yang lebih dalam adalah kesediaan untuk tidak menjadikan ego sebagai ukuran kebenaran.

Menghormati kiai yang mendukung kita itu mudah. Menghormati kiai yang pendapatnya berbeda dengan kita, itu baru ujian adab. Mencium tangan kiai ketika nasihatnya membuat kita senang juga mudah.

Tetap mencium tangannya ketika nasihatnya membuat kita harus mengalah, mundur, atau mengoreksi diri sendiri, itulah adab. Barangkali di situlah letak keramat yang sesungguhnya.

Bukan pada siapa yang paling banyak mendapatkan dukungan, tetapi pada siapa yang mampu menundukkan dirinya ketika berhadapan dengan ilmu dan pengalaman. Bukan pada siapa yang merasa paling mendapat tanda-tanda kebaikan, tetapi pada siapa yang setelah menerimanya masih sanggup berkata, “wallahu a’lam.”

Sebab sesuatu yang dianggap sakral semestinya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin yakin bahwa pilihan kita pasti mendapat restu langit.

Pesantren juga mengajarkan bahwa orang tua tidak selalu harus kita ikuti dalam segala hal. Tetapi mereka harus kita hormati. Santri boleh memiliki jalan pikirannya sendiri. Tetapi ia tidak boleh kehilangan cara memperlakukan orang yang telah lebih dahulu berjalan.

Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Kepandaian tanpa kerendahan hati dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan siapa pun. Bahkan pengalaman organisasi yang panjang pun tidak akan banyak berarti jika membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menghargai orang lain.

Rumah yang baik bukan rumah yang semua penghuninya selalu sepakat. Rumah yang baik adalah rumah yang masih menyediakan kursi untuk orang tua, meskipun anak-anaknya sedang berbeda pendapat.

Begitulah semestinya pesantren mengajarkan kita. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Bahwa kritik tidak harus disampaikan dengan merendahkan. Bahwa menghormati kiai bukan berarti mengkultuskannya. Dan bahwa menjadi santri bukan hanya soal pernah mengaji di pesantren, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa adab pesantren ketika berada di luar pesantren.

Para kiai sepuh tidak akan selamanya berada di sekitar kita. Mereka akan pergi sebagaimana semua manusia akan pergi. Disadari atau tidak, yang akan tinggal bukan sekadar nama, foto, atau cerita tentang mereka. Yang akan tinggal adalah cara kita memperlakukan nasihat mereka ketika mereka masih ada.

Mungkin suatu hari kita akan menyadari bahwa yang paling berharga dari pesantren bukan hanya ilmu yang pernah kita pelajari, tetapi cara pesantren mengajari kita menempatkan diri: kapan berbicara, kapan mendengar, kapan berbeda, dan kapan harus menundukkan ego.

Sebab jika seorang santri sudah tidak lagi merasa perlu menundukkan dirinya di hadapan ilmu, pengalaman, dan pengabdian orang yang lebih tua darinya, mungkin yang hilang bukan sekadar sopan santun. Mungkin juga sanad batinnya yang mulai putus.

Ketika sanad batin itu putus, seseorang bisa saja masih mengaku sebagai santri, masih membawa nama pesantren, masih hafal banyak kitab, tetapi perlahan kehilangan sesuatu yang paling menentukan dari tradisi pesantren; kesadaran untuk ziarah ke dalam diri, dan ini adalah bagian dari tradisi pesantren yang diwariskan hingga ke luar dinding pesantren.[]

Avatar Ahmad Dahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *