Segala peristiwa yang berputar di semesta berjalan di atas Sifat Kehendak ( Iradah ) Allah. Keinginan batin kita sering kali memberontak, menuntut dunia bekerja memuaskan hasrat egois kita.
Penderitaan batin muncul ketika kita bersikeras menolak kenyataan yang tak sesuai harapan. Akidah mengajari kita untuk melenturkan diri dan berserah ( tawakkal ).
Pemberontakan itu, pada akhirnya, hanyalah kelelahan yang sia-sia seperti ombak kecil yang berbusa-busa, mencoba menahan arus samudra yang maha luas. Kita sering terluka bukan karena tajamnya kenyataan, melainkan karena kerasnya cengkeram rasa memiliki atas apa yang sebetulnya tak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Maka, belajar melenturkan diri adalah belajar mengeja kembali rahasia kasih-Nya. Tawakkal bukanlah kekalahan yang pasrah tanpa daya, melainkan puncak tertinggi dari sebuah keberanian: menyerahkan kendali dari jemari kita yang ringkih ke dalam genggaman Sang Maha Mengatur.
Rebah di Atas Takdir: Melepaskan ingatan tentang bagaimana seharusnya dunia berjalan, dan mulai memeluk kenyataan tentang bagaimana dunia sedang disempurnakan.
Membaca Isyarat: Bahwa kekecewaan adalah cara lembut Tuhan memutuskan tambatan kita pada hal-hal yang salah, agar kita tak larut terjatuh lebih dalam.
Menemukan Kedamaian: Dalam setiap hembusan napas yang tak lagi menuntut, melainkan hanya bersyukur.
Ketika ego berhenti melolong, riak di dada perlahan surut menjadi telaga yang jernih. Di sana, di kedalaman hening yang paling pasrah, kita akan mendapati bahwa tak pernah ada takdir yang benar-benar mematahkanmu.
Yang patah hanyalah prasangka burukmu tentang Tuhan.Sebab pada akhirnya, setiap badai yang merobohkan rencanamu hanyalah cara semesta merapikan jalurmu memastikan engkau tak tersesat, hingga tiba dengan selamat di pelukan kasih-Nya yang abadi.[]

Tinggalkan Balasan