Nerassuara.com – Berjalan di tengah kampung yang padat dengan lalu lalang pejalan kaki, kendaraan roda empat, dan ojek-ojek dadakan. Satu keberkahan sendiri bagi warga setempat dengan adanya Muktamar NU ke 35 di Tambakberas Jombang ini.
Sesekali menghampiri stand bazar berwarna putih yang berjajar tak rapi itu. Membolak-balikkan kaus, sarung, buku, kitab, aksesoris, pipa rokok, dan lain-lain. Tapi berakhir pada pedagang cilok di salah satu gerbang depan, pinggir jalan raya. Setelah berjalan berpuluh, bahkan beratus meteran dari pesarean KH. Wahab Hasbullah menuju lokasi parkir motor.

Yang tak bisa saya nyana, adalah saat saya dapat ijin masuk dari bagian keamanan di gerbang Pondok Pesantren Tambakberas bagian induk. Gerbang tersebut dibuka dan ditutup dan menjadi area steril. Belakang hari berikutnya, baru tahu jika totak kaca berisi nama-nama calon Ahlul Halli wal Aqdi – bukan akhdi lhoo yaa – ada dalam area tersebut.
Tapi tujuan saya bukan soal kotak itu. Saya ingin tabarukan di Masjid yang ada menara Pondok Pesantren Tambakberas yang menjadi simbol pada salah satu bagian di logo Muktamar NU ke 35 ini. Mulanya saya was-was, apakah bisa memasuki area tersebut.
“Ijin pak. Saya ingin tahu lokasi menara yang jadi simbol di logo Muktamar, Pak,”
“Mas nya dari mana? Rombongan?,”
“Saya dari Malang. Sendirian,”
“Itu ada di dalam situ, mas,” jawabnya sambil menunjuk dan mengarahkan.
“Saya ijin boleh masuk ya Pak,”
“Silahkan, mas,”
Alhamdulillah dalam batin saya.
Saya berjalan perlahan. Setapak demi setapak. Menghirup udara dan mencoba merasakan getaran sebuah tempat yang penuh berkah. Bahwa dalam benak saya, dan yang diajarkan di pesantren, Islam itu akan selalu jaya dengan ilmu. Dan Tambakberas Jombang ini menjadi salah satu buktinya.
Begitu sampai di pelataran sebelah utara masjid, saya melihat masih terdapat beberapa orang, mungkin Kiai Muda atau Gus yang sudah terbiasa kongkow hingga larut malam. Saya menyapa dengan menganggukkan kepala.
“Nyuwun Sewu,”
“Nggih, monggo,”
Belasahan santri berada di serambi utara masjid. Salah seorang diantara saya hampiri. Menanyakan sesuatu.
“Mas, masjid yang ada tulisan ح ر ت م apa ada di masjid ini, ya?,”
“Ada di dalam sini, mas. Di bawah menara. Mari saya antar jika masnya ingin tahu,”
“Ndak papa ya mas saya masuk?,”
“Mari saya antar”
Dalam hati saya sangat bersyukur bisa memasuki area, bahkan bisa masuk ke lokasi di bawah menara yang dimaksud di atas itu. Seperti mendapat angin sepoi di malam itu. Lalu nikmat mana lagi yang saya dustakan?
Ransel saya geletakkan di samping. Handphone juga. Lalu saya sholat hajat dua rakaat. Tabarukan. Entah apa jawaban dari Allah. Ikhtiar syukur saya sampai disitu.
Sambil merenungkan bahwa ini tempat, bukan tempat biasa. Terbayang Kiai sepuh sedang balah kitab kuning di depan mimbar pengimaman, dan para santri berjejer ngaji. Inilah pesantren.


Tinggalkan Balasan