Ada raut tampak gamang dengan tangan bergetaran.
Ada wajah pucat pasi, mata menganga memandang ke langit-langit.
Di bawah lentera berjibun rasa, ingin kucatat namun tak kuasa, ingin kulupa tapi merayap disela-sela ingatan.
Entah apa yang engkau nanti? Kataku.
Biarkan saja ia melata dan pergi menjauh ke dalam relung hati.
Bibirmu komat-kamit menuai mantra, padahal semua recehan harapan yang kau sangka-sangka.
Pasti menyesal toh…? Tanyaku.
Kini ia melaju bersama angin, terkoyak tak karuan, terhempas tak berkesudahan.
Kau coba kaitkan kayu, tapi tak ada satu benihpun yang tumbuh.
Aku coba tawarkan besi, tapi tak kuasa menjulurkannya.
Ia semakin menjauh, menjauh, dan menjauh.
Suaranyapun mulai tak terdengar, apa karena bising yang menggunjing genderang telinga.
Andai tak kuasa menangkap suaranya, wajar.
Apalagi kian sulit menolehkan kepala hari ini.
Sakit?
Tidak.
Mungkin karena mereka sibuk mencari dedaunan untuk berteduh, atau sekadar menghangatkan badan, jika malam mulai mencekam.
Sesekali ingin meniru mereka.
Apa kamu tahan membungkam mulutmu?Tak bersuara, entah seberapa lama?
Oh….nirwana!
Engkau berjanji akan memberi cahaya, pada siapa saja yang tak pernah lupa.
Tapi aku manusia, aku khawatir, karena aku sedikit pelupa, apalagi kalau sedang bahagia.
Pojok Rumah. 2018

Tinggalkan Balasan