“Tahu” saja bid’ah

IMG_20181211_013611
Sumber : Google

Setiap golongan memiliki keunikan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi tidak ada gunanya jika kemudian yang dicari hanya kekurangan atau ketidak benarannya saja, apalagi benar yang dalam hal ini adalah ego dan cekaknya nalar. Karena pernah melihat tahu itu bentuknya bulat maka ditolak, soalnya yang ia makan tiap hari tahunya kotak. Mentok tanya “dalilnya mana?” atau “ini bid’ah, ente dosa, ini tahu kotak bukan bulat.”

Jika saja memang prinsipnya cinta, kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian, maka bukan saling tunjuk, saling sikut dan saling menyalahkan. Ajaran islam khususnya mengajarkan toleransi yang erat kaitannya dengan kebahagiaan. Jika secara fitrah sudah bermacam-macam suku bangsa, pun begitu tentang keyakinan dan agama. Dalam sudut pandang jawa dikenal dengan “Kalima Sadha” di mana setiap masa membawa ilmu baru, tujuannya adalah menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Oleh karenanya sangat sempit jika menganggap hal baru selalu berbau bid’ah dan dosa hukumnya.

Pertanyaannya adalah, siapa yang bisa keluar dari siklus perkembangan zaman? Apalagi efek sain sangat mengakar dalam keberelangsungan hidup. Buktinya adalah tidak sedikit yang memaksakan diri untuk memisahkan pengetahuan dan agama, atau pengetahuan dan nilai-nilai cinta. Setiap hidup punya aturan, setiap agama punya syarat dan syariatnya, tetapi tidak lantas mewujudkan kontestasi atau persaingan dalam hidup dan beragama. Masalahnya adalah pola pikir fakultatif, pola pikir yang terpecah-pecah sudah menjadi syarat hidupnya. Padahal manusia diciptakan dengan kemampuan sebagai khalifah, dengan kata lain sudah dibekali kesadaran yang waras dalam menyikapi kehidupan.

Mengapa tidak saling menyapa dengan baik, menebar senyum yang sangat menawan, bersikap santun dan ramah? Karena setiap apa yang di bumi tiada kecuali akan menjadi rizki (kebahagiaan) bagi siapapun. Sehingga untuk mencapai kebahagiaan dalam menjalani hidup adalah kesadaran. Lantas bagaimana pengetahuan membuktikan capaian seseorang tentang kebahagiaan? Dalam islam dijelaskan jika saja manusia selalu mengingat Tuhan dan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam hatinya maka kebahagiaan (ketenangan) akan menyelimutinya. Bukan berarti kemudian menggantikan tugas Tuhan, seperti menghukumi, menilai, dan mengecam. Anehnya dewasa ini banyak sekali yang gampang sekali tersinggung, sesak dada, libidonya muncrat-muncrat.

Kalau saja pengetahuan dipahami sebagai pola menumbuhkan kesadaran maka tidak sedikit manusia yang memposisikan dirinya sebagai orang baik. karenan tujuannya adalah cinta dan kasih, efeknya adalah kebijaksanaan. Kalaupun garis bersarnya baik, maka kebaikan yang menjadi prnsip kehidupannya, apalagi beragama. Oleh karenanya menebar kebaikan adalah satu kesadaran bahwa manusia diciptakan bukan untuk saling sikut, saling dorong, angakat bendera, atau angkat tangan terkepal ke udara. Karena prinsipnya adalah ku anfusakum wa ahlikum nara, di mana menjaga diri dan keluarga adalah perintah progresif, perintah yang tidak fakultatif, perintah yang universal, jangan dikira keluarga adalah ia yang saudara sedarah atau sesuku atau seras. Tetapi semua manusia. Dan nar sendiri tidak seharusnya diartikan secara tekstual saja, menjaga emosi, menjaga ego, menjaga nafsu juga termasuk penjagaan terhadap apa-apa yang bersifat api.

Dengan kata lain puncaknya adalah akhlak, moral, etika, irama, harmoni, dan keindahan. Adapun Tahu saat ini bentuknya bulat ya…jangan disalahkan, wong masih tetap tahu bentuknya. Tetapi rasa dan fungsinya tetap sama. Intinya adalah kebanyakan dari kita masih terlalu percaya diri dengan kebenaran sepihak, percaya diri dengan satu lokus pengetahuan, satu wadah kehidupan. Padahal di luar itu semua, yang senilai dengan itu masih banyak dan beragam.

Masalahnya hanya mau menyadari atau tidak? Mau mencari atau tidak? Mau berpikir jernih atau tidak?

 

*Ahmad Dahri atau lek dah adalah santri di Pesantren Luhur Bait al hikmah kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *