Nerassuara.com – Aku Tidak Penting, yang Penting Cinta-Nya Allah Kepadaku
Barangkali salah satu persoalan terbesar manusia adalah terlalu sibuk menganggap dirinya penting.
Kita ingin dikenang, dihargai, disebut, didengar, diakui. Bahkan dalam berbuat baik pun, diam-diam kita masih menyisakan ruang bagi diri untuk dipuji. Kita menolong, lalu berharap dikenang sebagai penolong. Kita berbicara tentang kerendahan hati, tetapi berharap orang lain mengetahui bahwa kita sedang rendah hati.
Begitulah AKU bekerja.
Ia begitu halus. Ia dapat menyelinap bahkan ke dalam ibadah, amal, ilmu, dan kebaikan. Kita mengira sedang berjalan menuju Tuhan, padahal sesekali yang kita bangun justru patung diri sendiri.
Tasawuf sejak lama mencurigai sesuatu yang bernama ego. Bukan karena manusia tidak berharga, tetapi karena manusia sering keliru menempatkan dirinya. Ia mengira dirinya pusat, padahal ia hanya satu titik kecil dalam keluasan ciptaan.
Kita datang tanpa membawa apa-apa.
Nama kita diberikan oleh orang lain. Tubuh kita tidak pernah kita pesan sendiri. Jantung berdetak tanpa kita perintah. Nafas masuk dan keluar tanpa menunggu persetujuan kita. Bahkan kesadaran tentang diri sendiri pun adalah sesuatu yang kita terima, bukan sesuatu yang kita ciptakan dari ketiadaan.
Lalu mengapa kita begitu sibuk berkata, “Aku”?
Di hadapan Yang Maha Ada, mungkin persoalannya bukan apakah kita penting atau tidak. Persoalannya adalah: untuk apa kita merasa harus menjadi penting?
Sebab cinta Allah tidak membutuhkan kita menjadi besar.
Allah tidak mencintai kita karena kita terkenal. Tidak karena jumlah pengikut kita. Tidak karena jabatan, gelar, kekayaan, atau betapa sering nama kita disebut manusia.
Dan mungkin di situlah letak kabar paling menenangkan sekaligus paling mengguncangkan bagi seorang pencari: nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh seberapa penting ia di hadapan manusia, tetapi oleh bagaimana ia berada di hadapan Tuhannya.
Maka kalimat “aku tidak penting” bukanlah penghinaan terhadap diri.
Ia adalah latihan untuk melepaskan diri dari kebutuhan menjadi pusat perhatian.
Aku tidak penting.
Aku tidak harus selalu menang.
Aku tidak harus selalu benar.
Aku tidak harus selalu terlihat baik.
Aku bahkan tidak harus dikenal sebagai orang baik.
Sebab ada sesuatu yang jauh lebih agung daripada penilaian manusia,yaitu cintanya Allah.
Jika Allah mencintai seorang hamba, apa lagi yang sebenarnya sedang dikejar?
Bukankah dunia ini pada akhirnya hanya tempat singgah bagi nama-nama yang sebentar kemudian dilupakan? Orang-orang yang hari ini dipuji akan digantikan oleh orang-orang lain yang juga ingin dipuji. Monumen akan lapuk. Foto akan memudar. Jabatan akan berpindah tangan. Bahkan nama kita, yang hari ini terasa begitu penting, kelak hanya tinggal beberapa suku kata dalam ingatan orang lain.
Tetapi cinta-Nya Allah tidak bekerja seperti ingatan manusia.
Ia tidak bergantung pada popularitas.
Ia tidak membutuhkan panggung.
Ia tidak membutuhkan tepuk tangan.
Karena itu, mungkin kedewasaan spiritual bukan ketika seseorang berhasil menjadi “seseorang” di mata dunia, melainkan ketika ia tidak lagi gelisah karena dianggap bukan siapa-siapa.
Ia cukup menjadi hamba. Dan menjadi hamba barangkali adalah kedudukan paling tinggi yang dapat dicapai manusia.
Sebab ketika aku mulai mengecil, Tuhan tidak menjadi lebih besar—Dia memang Maha Besar sejak awal. Yang berubah hanyalah pandangan kita.
Kita akhirnya sadar bahwa selama ini bukan Tuhan yang jauh.
Kitalah yang terlalu sibuk berdiri di antara diri sendiri dan Dia.
Maka bila suatu hari tidak ada yang mengenal namamu, jangan terlalu sedih.
Bila kebaikanmu tidak dicatat manusia, jangan terlalu kecewa. Bila perjuanganmu tidak dipuji, jangan buru-buru merasa sia-sia.
Barangkali memang sudah waktunya engkau berhenti mencari cinta manusia sebagai bukti bahwa dirimu berharga.
Pulanglah kepada sumber segala cinta. Katakan dalam diam: “aku tidak penting, ya Allah. aku hanya ingin dicintai oleh-Mu.”
Dan mungkin, pada saat itulah aku yang selama ini begitu berisik mulai kehilangan suaranya.
Lalu yang tersisa hanya seorang hamba dan Tuhan yang sejak awal tidak pernah meninggalkannya.


Tinggalkan Balasan