Santri Berdaya, Indonesia Berjaya: Merawat Ketahanan Nasional Dari Pesantren

Dr. Taufikurrahman, M.Pd.

Nerassuara.com – Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi ruang refleksi untuk memperkuat karakter kebangsaan, merawat persatuan, dan membangun ketahanan nasional di tengah perubahan zaman.

Pesantren memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Warisan tersebut mengandung pesan bahwa menjaga kemerdekaan, persatuan, dan martabat bangsa merupakan tanggung jawab bersama.

Kini, semangat perjuangan itu perlu diwujudkan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penguasaan teknologi, penguatan literasi, dan partisipasi aktif dalam kehidupan kebangsaan.

Pesantren dan Fondasi Ketahanan Nasional

Ketahanan nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, ketangguhan sosial, penguasaan teknologi, dan karakter bangsa.

Dalam hal ini, pesantren memiliki posisi strategis. Pendidikan pesantren menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting untuk membangun masyarakat yang tangguh dan menjaga persatuan.

Santri diharapkan tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga menerapkannya melalui tindakan nyata, seperti membantu masyarakat, menjaga kerukunan, menangkal informasi palsu, mengembangkan usaha produktif, dan menyelesaikan persoalan sosial.

Karena itu, pesantren perlu dipandang sebagai ruang pembentukan generasi yang religius, berpengetahuan, berkarakter, dan berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bela Negara sebagai Panggilan Santri

Bela negara bukan semata-mata berkaitan dengan pertahanan militer. Bela negara merupakan tanggung jawab setiap warga negara untuk menjaga keberlangsungan bangsa sesuai peran dan kemampuannya.

Bagi santri, bela negara dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, menaati hukum, membangun kemandirian, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Dakwah yang menyejukkan serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial.

Hal ini sejalan dengan Pasal 27 ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

Tantangannya adalah menjadikan bela negara sebagai praktik nyata, bukan sekadar materi ceramah atau slogan. Nilai cinta tanah air, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman harus tumbuh dalam kehidupan pesantren.

Santri yang menjaga persatuan, mengembangkan usaha, dan mengabdikan ilmunya untuk masyarakat sesungguhnya turut memperkuat ketahanan nasional.

Menghadapi Tantangan di Era Digital

Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi pendidikan dan komunikasi. Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, penipuan, dan polarisasi sosial.

Santri perlu memiliki literasi digital yang kuat, termasuk kemampuan memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini. Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan persaudaraan, memperkenalkan tradisi pesantren, menyampaikan pengetahuan keagamaan secara bertanggung jawab, dan menguatkan semangat cinta tanah air.

Pemanfaatan teknologi dapat diperluas melalui digitalisasi administrasi pesantren, pembelajaran daring, dakwah digital, dan pengembangan kewirausahaan. Dengan demikian, pesantren dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan tradisinya.

Namun, transformasi digital harus disertai peningkatan kapasitas sumber daya manusia, etika penggunaan teknologi, serta perlindungan data pribadi. Teknologi hendaknya menjadi sarana pemberdayaan, bukan sumber kerentanan baru.

Dari Santri Berdaya Menuju Indonesia Berjaya

Slogan “Santri Berdaya, Indonesia Berjaya” perlu diwujudkan melalui pemberdayaan nyata. Santri berdaya adalah santri yang kompeten, mandiri, berintegritas, dan mampu memberikan manfaat. Indonesia berjaya berarti Indonesia yang berdaulat, bersatu, makmur, dan tangguh menghadapi tantangan.

Setidaknya ada tiga agenda yang perlu diperkuat.

Pertama, meningkatkan kualitas pendidikan pesantren. Pendidikan agama perlu berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, literasi digital, kewirausahaan, dan keterampilan hidup agar santri mampu menghadapi perubahan zaman.

Kedua, memperkuat ekosistem pemberdayaan santri. Pesantren perlu berkolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan alumni untuk mengembangkan pelatihan, inovasi teknologi, pendampingan usaha, serta program pengabdian masyarakat.

Ketiga, menginternalisasi nilai bela negara. Cinta tanah air, Kesadaran Berbangsa dan Bernegara:, Setia pada Pancasila sebagai Ideologi Negara,  Rela Berkorban untuk Bangsa dan Negara, dan Kemampuan Awal Bela Negara: harus diwujudkan melalui pembiasaan dan keteladanan dalam kehidupan pesantren.

Nilai tersebut membutuhkan dukungan berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat menjadi mitra pengembangan ilmu dan teknologi, pemerintah memperkuat kebijakan pemberdayaan, sementara masyarakat dan dunia usaha membuka kesempatan bagi santri untuk berkembang.

Merawat Masa Depan Bangsa dari Pesantren

Menuju Indonesia Emas 2045, bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang unggul secara intelektual, matang secara moral, kuat secara spiritual, mandiri secara ekonomi, dan berkomitmen terhadap bangsa. Pesantren memiliki modal historis, sosial, dan kultural untuk turut mewujudkannya.

Hari Santri menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada agama dan bangsa dapat berjalan beriringan. Kesalehan tidak bertentangan dengan sikap kritis, produktif, dan bertanggung jawab sebagai warga negara. Sebaliknya, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi landasan etis dalam memperkuat kehidupan kebangsaan.

Karena itu, santri perlu didorong untuk berinovasi, menguasai teknologi, membangun kemandirian, menjaga kerukunan, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan bangsa.

Ketahanan nasional merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Pesantren dan santri memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dalam mewujudkannya.

Santri berdaya bukan sekadar santri yang mandiri, melainkan santri yang mampu memberdayakan sesama. Indonesia berjaya bukan hanya tentang kemajuan, tetapi juga tentang persatuan, karakter, dan pengabdian. Dari pesantren, semangat itu dirawat; melalui santri, pengabdian diwujudkan; dan untuk Indonesia, masa depan yang tangguh diperjuangkan bersama.

 

Taufikurrahman
Author: Taufikurrahman

Dr. Taufikurrahman, M.Pd. Alumni PPNK Lemhannas RI 2026 | Dosen Bela Negara UPN “Veteran” Jawa Timur

Avatar Taufikurrahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *