Nerassuara.com – Akhirnya, hari ini Indonesia menang atas Thailand, di ajang Asean Cup 2026. Lamat-lamat jadi ingat kata Mbah Nun, kita melihat Indonesia menang saja sudah bahagia, mosok gusti Allah gak ngijini Indonesia kali ini menang. Tentu kita bersorak, mungkin dengan sedikit olok-olokan dengan tetangga atau teman nobar kita, lebih-lebih status sosmed full ucapan syukur dan selamat.
Sebagaimana lazimnya pertandingan sepak bola di Asia Tenggara. Sepak bola memang punya cara yang sederhana untuk membuat sejarah terasa mudah ditorehkan. Dua kesebelasan bertemu, dua bendera berkibar, sembilan puluh menit berlangsung, lalu satu pihak pulang membawa kemenangan, dan pihak lain belum beruntung saja.
Nah, kira-kira benarkah Indonesia dan Thailand baru bertemu ketika sebelas pemain dari masing-masing negara berlari mengejar bola di lapangan? Tentu saja tidak.Jauh sebelum Indonesia dan Thailand menjadi nama dua negara modern, masyarakat dari kepulauan Nusantara dan daratan Asia Tenggara telah bertemu melalui jalur laut, perdagangan, agama, kesenian, dan pertukaran cerita. Mereka tidak mengenal batas negara seperti yang kita lihat di peta sekarang.
Para pelaut mengikuti angin musim, pedagang berpindah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, sementara para pendeta dan seniman menempuh perjalanan jauh dengan membawa keyakinan, pengetahuan, bahasa, dan kisah-kisah yang kemudian tumbuh di tempat baru.Sejarah Asia Tenggara, ya sejarah itu, dan sesungguhnya jauh lebih cair daripada peta politik modern.
Salah satu jejaknya dapat dilihat dari hubungan Sriwijaya dengan kawasan Thailand Selatan. Prasasti Ligor di Nakhon Si Thammarat menjadi salah satu bukti penting tentang hubungan politik dan keagamaan yang menghubungkan kawasan tersebut dengan jaringan Sriwijaya. Hubungan semacam ini tentu tidak sesederhana cerita tentang siapa menaklukkan siapa.
Di dalamnya terdapat relasi perdagangan, perjalanan keagamaan, kepentingan politik, serta hubungan antar masyarakat yang berlangsung melalui jaringan maritim.Tetapi mungkin yang paling menarik bukanlah prasastinya, melainkan apa yang terjadi dengan cerita-cerita yang ikut bergerak bersama manusia.
Taruhla kisah Panji, kita mengenal Panji sebagai cerita yang berakar kuat dalam kebudayaan Jawa, dengan tokoh Panji atau Inu Kertapati dan Sekartaji yang mengalami berbagai perjalanan, perpisahan, penyamaran, pencarian, serta pertemuan kembali. Cerita ini kemudian menyebar jauh melampaui Jawa dan dikenal dalam berbagai bentuk di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, bahkan Filipina.
Pada zaman ketika belum ada percetakan, televisi, internet, maupun media sosial, bagaimana sebuah cerita dari Jawa dapat menempuh perjalanan sejauh itu? coba bayangkan, jellu toh?Barangkali jawabannya adalah manusia selalu membawa cerita ketika mereka bepergian. Pedagang membawa cerita ke pelabuhan. Pelaut membawanya ke negeri berikutnya. Seniman mengubahnya menjadi pertunjukan. Penguasa mengadopsinya ke dalam lingkungan istana. Masyarakat setempat kemudian menafsirkannya kembali sesuai dengan bahasa, selera, kepercayaan, dan pengalaman mereka sendiri.
Karena itu, kebudayaan Asia Tenggara lebih tepat dibayangkan sebagai sungai yang bercabang daripada tembok yang memisahkan antar wilayah. Satu cerita dapat memiliki banyak muara, dan setiap tempat yang menerimanya dapat memberikan bentuk baru tanpa harus kehilangan hubungan dengan sumber lamanya.
Hal serupa terlihat pada kisah Ramayana. Di Thailand, kisah tersebut berkembang menjadi Ramakien, salah satu karya penting dalam kebudayaan Thailand. Di Indonesia, cerita yang sama berkembang melalui wayang, sastra, tari, relief, dan berbagai tradisi pertunjukan.
Ceritanya memiliki akar yang berhubungan, tetapi hasil akhirnya tidak identik karena masing-masing masyarakat mengolahnya melalui pengalaman sejarah dan kebudayaan mereka sendiri.
Hanuman adalah contoh yang menarik. Kita mengenalnya sebagai Hanoman dalam tradisi Indonesia, sementara di Thailand ia hadir sebagai Hanuman dalam Ramakien. Karakter dan kisahnya berkembang dengan penekanan yang berbeda, dan di Thailand kisah Ramakien juga menjadi bagian penting dari seni pertunjukan Khon, drama tari bertopeng yang telah menjadi salah satu bentuk kesenian khas negeri tersebut.
Kita tidak perlu sibuk menentukan siapa yang paling asli atau siapa yang lebih berhak memiliki cerita itu. Pertanyaan tersebut justru sering membuat kita gagal memahami bagaimana kebudayaan sebenarnya bekerja. Sebuah cerita yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu menjadi lebih buruk atau kehilangan identitas; ia justru dapat memperoleh kehidupan baru.
Barangkali seperti benih yang dibawa angin. Ketika jatuh di tanah yang berbeda, ia tumbuh menjadi pohon dengan bentuk yang tidak persis sama, tetapi masih menyimpan jejak dari benih yang sama.Kesadaran semacam ini penting ketika kita berbicara mengenai identitas Indonesia. Kita sering membayangkan kebudayaan sebagai sesuatu yang harus dijaga agar tidak tercampur dengan pengaruh dari luar.
Padahal sejarah Nusantara justru memperlihatkan bahwa kebudayaan kita terbentuk melalui perjumpaan yang panjang. Pengaruh India, Islam, Tiongkok, Arab, Persia, dan berbagai kawasan lain tidak sekadar datang lalu tinggal sebagai unsur asing; semuanya mengalami proses percampuran, penyesuaian, dan pengolahan sehingga melahirkan bentuk-bentuk kebudayaan yang kemudian kita anggap sebagai bagian dari identitas sendiri.
Nusantara tidak menjadi dirinya sendiri dengan menutup pintu rapat-rapat. Ia menjadi dirinya sendiri karena mampu menerima berbagai pengaruh, memilih, mengolah, dan menciptakan sesuatu yang baru.Dalam konteks ini, Thailand sebaiknya tidak hanya kita lihat sebagai negara yang kebetulan sering menjadi lawan Indonesia dalam sepak bola. Thailand adalah bagian dari lingkungan kebudayaan Asia Tenggara yang selama berabad-abad terhubung dengan dunia Nusantara melalui jalur perdagangan, agama, kesenian, dan cerita. Hubungan itu tentu tidak selalu sederhana, dan masing-masing masyarakat memiliki sejarahnya sendiri, tetapi jejak perjumpaan tersebut masih dapat kita baca sampai hari ini.
Karena itu, kemenangan Indonesia atas Thailand hari ini tentu layak dirayakan. Sepak bola memang membutuhkan rivalitas, dan rivalitas membuat pertandingan menjadi hidup. Namun setelah pertandingan selesai, mungkin ada baiknya kita mengingat bahwa hubungan Indonesia dan Thailand jauh lebih tua daripada persaingan di stadion.
Sebelum bendera kedua negara dikibarkan di lapangan, manusia dari wilayah kita telah lebih dahulu bertemu di laut. Sebelum pemain saling berhadapan, cerita-cerita telah menyeberangi batas yang bahkan belum ada pada zaman itu. Cerita Panji telah bertamasya jauh dari Jawa, kisah Ramayana telah menemukan bentuk-bentuk baru, dan tokoh seperti Hanuman telah hidup dalam imajinasi masyarakat yang berbeda-beda.
Di situlah kita menemukan pelajaran yang mungkin semakin penting bagi generasi sekarang dan seterusnya, bahwa identitas tidak selalu lahir dari jarak, melainkan seringkali justru dari perjumpaan. Kebudayaan yang hidup bukanlah kebudayaan yang tidak pernah berubah, melainkan kebudayaan yang mampu bertemu dengan dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang khas.
Jadi, ketika kita mengatakan bahwa Indonesia menang atas Thailand, itu adalah cerita untuk malam ini. Sedangkan, jika kita melihat jauh ke belakang, ada cerita yang lebih panjang dan berlapis-lapis, jauh sebelum kedua negara bertanding di lapangan, leluhur mereka telah lebih dahulu bertemu di laut, bertukar barang, gagasan, kepercayaan, kesenian, dan cerita.
Wis, artinya kita tidak selalu harus memiliki akar yang persis sama untuk disebut bersaudara dalam kebudayaan. Kadang-kadang cukup dengan melihat berapa banyak cerita yang pernah kita bagi, berapa banyak pelabuhan yang pernah mempertemukan leluhur kita, dan berapa banyak kebudayaan yang lahir karena manusia bersedia membuka pintu untuk sesuatu yang datang dari seberang.[]


Tinggalkan Balasan