Nerassuara.com – Ketika menulis novel Pintu Masuk, saya ingin menghadirkan sebuah cerita tentang anak muda yang sedang mencari tempatnya di dunia. Bagi saya, masa muda bukan sekadar perjalanan mengejar cita-cita, membangun persahabatan, atau menikmati kebebasan. Masa muda juga merupakan masa ketika seseorang mulai berhadapan dengan kenyataan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Ada ketidakadilan, ada kepentingan yang saling bertabrakan, dan ada kekuasaan yang terkadang lebih menentukan daripada kemampuan seseorang. Melalui kisah Fahriz, Tanio, dan Ribnu, saya mencoba membawa pembaca memasuki dunia mahasiswa yang penuh harapan, tetapi juga menyimpan persoalan sosial yang tidak sederhana.
Kampus dalam pandangan saya bukan hanya tempat untuk menimba ilmu dan mempersiapkan masa depan. Kampus adalah ruang perjumpaan berbagai latar belakang, gagasan, ambisi, dan kepentingan. Di dalamnya, mahasiswa belajar mengenali dirinya sendiri sekaligus memahami lingkungan yang membentuk kehidupannya. Namun, seperti ruang sosial lainnya, kampus tidak selalu terbebas dari persoalan kekuasaan dan ketidakadilan. Melalui konflik Dekan Cup, saya menggambarkan bagaimana sebuah kompetisi yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas dapat berubah menjadi arena pertarungan kepentingan. Kepanitiaan ganda, dugaan pengaturan pertandingan, dan tawaran suap menjadi gambaran tentang bagaimana aturan dapat kehilangan maknanya ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan tertentu.
Saya melihat persoalan tersebut dekat dengan kehidupan anak muda yang sedang belajar menyuarakan pendapat dan mempertahankan keyakinannya. Ketika kritik tidak mendapatkan ruang, kekecewaan dapat tumbuh menjadi konflik yang lebih besar. Sosok Pak Ardan, yang pada awalnya menolak kritik mahasiswa, menjadi bagian dari gambaran tentang birokrasi yang belum sepenuhnya membuka diri terhadap aspirasi. Bagi saya, kampus seharusnya menjadi tempat ketika perbedaan pendapat tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Di tengah situasi tersebut, persahabatan menjadi salah satu kekuatan utama dalam cerita ini. Pertemuan Fahriz dan Tanio memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia dapat tumbuh melampaui perbedaan latar belakang. Fahriz datang dari Jakarta untuk memulai kehidupan baru, sedangkan Tanio membawa pengalaman sebagai mantan buruh pabrik. Keduanya bertemu melalui futsal, sebuah ruang yang memungkinkan mereka saling mengenal, membangun kepercayaan, dan menemukan arti kebersamaan. Saya ingin menunjukkan bahwa setiap anak muda memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri, tetapi kesempatan untuk tumbuh seharusnya terbuka bagi siapa saja.
Melalui Lotusio FC, saya mencoba menggambarkan solidaritas sebagai kekuatan yang mampu menyatukan mereka yang berada di pinggir lingkaran kekuasaan. Tim ini bukan sekadar kumpulan pemain yang ingin memenangkan pertandingan. Ia menjadi ruang bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk saling mendukung dan membuktikan kemampuan. Berbeda dengan Cubera Snapper Fish FC yang digambarkan dikuasai ambisi dan arogansi, Lotusio FC berusaha mempertahankan integritas di tengah tekanan. Pertentangan kedua tim ini menjadi cara saya memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak seharusnya dibangun dengan mengorbankan kejujuran.
Sosok Ribnu menjadi bagian penting dari keyakinan tersebut. Penolakannya terhadap suap bukan hanya persoalan menang atau kalah, melainkan tentang batas yang tidak ingin ia langgar. Saya menyadari bahwa mempertahankan prinsip bukan perkara mudah, terutama ketika seseorang berhadapan dengan tekanan dan ketimpangan kekuasaan. Karena itu, keberanian Ribnu tidak berdiri sendiri. Dukungan Cici, peran Viza dalam merekam kecurangan, serta kebersamaan para pemain memperlihatkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan membutuhkan keterlibatan banyak orang.
Futsal juga menjadi medium bagi saya untuk membicarakan cara anak muda menghadapi kehidupan. Melalui Coach Mais, saya menekankan pentingnya kerja cerdas, kekompakan, pengendalian emosi, dan kesediaan mengevaluasi kekalahan. Kerja keras memang penting, tetapi seseorang juga perlu memahami situasi, menyusun strategi, dan belajar dari pengalaman. Dalam sebuah tim, kemampuan individu akan lebih bermakna ketika disatukan dengan tujuan bersama. Nilai-nilai ini, menurut saya, tidak hanya berlaku di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan mahasiswa dan masyarakat.
Pada akhirnya, Pintu Masuk adalah cerita tentang proses menjadi dewasa di tengah dunia yang tidak selalu adil. Saya tidak ingin menjadikan kemenangan Lotusio FC sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Lebih dari itu, saya ingin mengajak pembaca melihat bagaimana seseorang memilih bersikap ketika dihadapkan pada ketidakjujuran, bagaimana persahabatan tumbuh di tengah kesulitan, dan bagaimana solidaritas memberi kekuatan bagi mereka yang berusaha mempertahankan prinsip.
Bagi saya, pintu yang dibuka melalui novel ini adalah pintu menuju kesadaran bahwa masa muda bukan hanya tentang meraih mimpi pribadi. Ia juga tentang belajar memahami orang lain, berani mempertanyakan ketidakadilan, dan menjaga integritas ketika keadaan tidak berpihak. Sebab, pada akhirnya, kemenangan yang sesungguhnya bukan semata-mata tentang siapa yang mencetak gol terakhir, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk menjalani permainan kehidupan.


Tinggalkan Balasan