Kita Berubah, Tetapi Kemana?

Nerassuara.com-Dulu, ketika seseorang pulang dari bepergian, yang ditunggu di rumah mungkin bukan foto perjalanannya, melainkan cerita. Ia duduk di teras, membuka sandal, lalu bercerita tentang jalan yang rusak, orang yang ditemuinya, makanan yang dicobanya, atau kejadian lucu yang tidak sempat dicatat.

Sekarang perjalanan belum benar-benar dianggap terjadi sebelum sempat dipotret, diunggah, diberi keterangan, dan dilihat orang lain.

Bukan berarti dulu manusia tidak suka dipuji dan sekarang saja manusia suka dipuji, hanya saja teknologi telah memberi kita ruang yang jauh lebih luas untuk mempertontonkan kehidupan.

Perlahan-lahan kita tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga belajar memikirkan bagaimana hidup kita akan terlihat di mata orang lain.

Perubahan itu tampaknya kecil, tetapi sebenarnya membawa perubahan cara kita memahami diri sendiri. Dulu seseorang mungkin bertanya, “Apakah aku bahagia?” Sekarang pertanyaan itu diam-diam dapat bergeser menjadi, “Apakah hidupku terlihat membahagiakan?” Dulu keberhasilan cukup dirasakan oleh diri dan keluarga, sekarang keberhasilan sering membutuhkan penonton, angka, komentar, dan pengakuan.

Kita kemudian terbiasa mengukur diri dengan ukuran yang berada di luar diri kita sendiri, seperti jumlah pengikut, jabatan, pendapatan, jaringan, popularitas, bahkan seberapa sering nama kita muncul di percakapan orang lain.

Di tengah perubahan semacam itu, rasa cukup menjadi semakin mahal. Kita hidup dalam sistem yang hampir setiap hari mengatakan bahwa sesuatu dalam diri kita masih kurang, kurang kaya, kurang cantik, kurang terkenal, kurang pintar, kurang berpengaruh, kurang produktif.

Bahkan ketika seseorang sudah sampai pada tempat yang dahulu ia impikan, iklan, algoritma, dan percakapan sosial segera memperlihatkan tempat lain yang tampak lebih tinggi.

Keinginan manusia yang sebenarnya wajar untuk berkembang akhirnya bertemu dengan sebuah mesin sosial yang tidak pernah berkata cukup. Kita tidak lagi sekadar mengejar kebutuhan, tetapi mengejar standar kehidupan yang terus bergerak menjauh.

Barangkali perubahan budaya paling besar bukan terletak pada telepon pintar atau media sosialnya, melainkan pada perubahan cara manusia memandang dirinya sendiri.

Kita semakin terbiasa menjadi penonton atas kehidupan orang lain sekaligus menjadi pengelola citra atas kehidupan kita sendiri. Anak muda belajar sejak dini bahwa dirinya memiliki “personal branding”, orang dewasa belajar bagaimana tampak berhasil, bahkan kehidupan spiritual pun dapat masuk ke dalam logika yang sama.

Kesalehan tidak cukup dijalani; ia dapat dikemas. Kebaikan tidak cukup dilakukan; ia dapat didokumentasikan. Nasihat tidak cukup dipahami; ia dapat diproduksi menjadi konten.

Dan Agaknya, agama sedang berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana. Teknologi sebenarnya hanya alat, tetapi alat yang terus-menerus digunakan akhirnya ikut membentuk kebiasaan, dan kebiasaan perlahan membentuk watak.

Ketika segala sesuatu mudah dipertontonkan, manusia dapat tergoda untuk melakukan kebaikan bukan hanya karena kebaikan itu baik, tetapi karena kebaikan tersebut memiliki nilai sosial ketika dilihat orang. Kita mulai sulit membedakan antara ingin menginspirasi dan ingin mendapatkan pengakuan.

Padahal Al-Qur’an sudah lama mengingatkan bahwa nilai amal tidak berhenti pada bentuk luarnya, sebab manusia juga berhadapan dengan persoalan niat yang tersembunyi dari mata manusia.

Perubahan sosial juga mengubah cara kita memandang kesalehan publik. Dahulu seseorang dikenal saleh karena orang-orang yang hidup dekat dengannya merasakan akhlaknya: tetangga mengenal perilakunya, keluarga merasakan kelembutannya, dan masyarakat mengetahui apakah ia dapat dipercaya.

Sekarang seseorang dapat dikenal jutaan orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Ironisnya, semakin jauh jarak sosial itu, semakin mudah citra menggantikan pengalaman nyata. Kita dapat menganggap seseorang bijaksana hanya karena ia pandai berbicara, menganggap seseorang saleh karena simbol-simbol yang ia tampilkan, atau menganggap seseorang layak diikuti karena algoritma telah berkali-kali membawa wajahnya ke hadapan kita.

Akibatnya, kuasa dan pengaruh perlahan menjadi bahasa baru bagi kesalehan. Orang yang memiliki banyak pengikut dianggap lebih penting daripada orang yang memiliki banyak kebijaksanaan, padahal keduanya tidak selalu sama.

Seorang yang mampu menggerakkan ribuan orang belum tentu mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia mungkin sangat pandai membuat orang lain patuh, tetapi belum tentu mampu membuat orang lain merasa dihargai.

Di tengah budaya yang memuja pengaruh, kita perlu mengingat kembali bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang bisa mengumpulkan massa, tetapi juga manusia yang bisa menjaga suasana agar tidak semakin gaduh.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika perubahan itu masuk ke dalam cara kita memperlakukan perbedaan. Media sosial memberi manusia kesempatan menemukan orang-orang yang sepemikiran dengannya dalam jumlah yang sangat besar.

Kita kemudian hidup dalam ruang yang terasa nyaman karena hampir semua orang di sekitar kita mengatakan hal yang sama, sampai akhirnya perbedaan terdengar seperti ancaman.

Dalam agama, politik, kebudayaan, bahkan ilmu pengetahuan, kita semakin mudah membentuk kelompok yang saling menguatkan keyakinannya sendiri dan semakin jarang berjumpa dengan sesuatu yang benar-benar menggugat diri.

Padahal masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua orangnya berpikir sama. Orang Jawa memiliki kata rukun, dan rukun tidak berarti seragam. Rukun justru menjadi penting karena manusia berbeda; ia adalah kemampuan menjaga kehidupan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Dalam ungkapan memayu hayuning bawana, ada kesadaran bahwa manusia mempunyai tugas untuk merawat kehidupan, bukan sekadar memperbesar dirinya sendiri.

Mungkin kebijaksanaan semacam ini terasa semakin penting sekarang, ketika kemampuan berbicara jauh lebih cepat berkembang daripada kemampuan mendengarkan.

Perubahan zaman tidak selalu harus kita lawan. Kita tidak perlu memusuhi teknologi, menolak media sosial, atau menganggap masa lalu selalu lebih baik daripada masa kini.

Yang perlu kita pertanyakan adalah manusia macam apa yang sedang dibentuk oleh perubahan itu. Jika pengetahuan semakin luas tetapi kesombongan juga semakin besar, jika pengaruh semakin kuat tetapi kebijaksanaan semakin tipis, jika agama semakin sering dibicarakan tetapi manusia semakin mudah saling membenci, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.

Sebab kemajuan seharusnya tidak hanya membuat manusia semakin cepat, tetapi juga semakin matang. Pengetahuan seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa yang belum kita ketahui jauh lebih banyak daripada yang kita ketahui.

Pengaruh semestinya membuat kita semakin berhati-hati, bukan semakin haus pengakuan. Dan agama, jika benar-benar hidup, barangkali tidak pertama-tama membuat kita sibuk menunjukkan bahwa kita benar, tetapi membuat kita semakin mampu menahan diri untuk tidak merendahkan orang lain.

Mungkin persoalan kita hari ini bukan karena manusia berubah terlalu cepat, melainkan karena perubahan itu sering terjadi lebih cepat daripada kemampuan kita untuk merenungkannya. Kita sudah memiliki teknologi untuk berbicara kepada jutaan manusia, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan untuk memilih apa yang pantas dikatakan.

Kita mampu mengetahui kehidupan banyak orang, tetapi semakin jarang benar-benar mengenal diri sendiri. Kita dapat menjadi sangat terkenal, tetapi belum tentu menjadi manusia yang berarti bagi kehidupan orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Barangkali karena itu, di tengah dunia yang terus menyuruh kita menjadi lebih besar, kita perlu sesekali belajar menjadi cukup. Bukan berhenti tumbuh, melainkan berhenti menjadikan pertumbuhan sebagai alasan untuk membenci keadaan diri sendiri.

Bukan berhenti mencari ilmu, melainkan membiarkan ilmu itu membuat kita lebih rendah hati. Dan bukan berhenti memperjuangkan kebenaran, melainkan memastikan bahwa ketika kita merasa benar, kita masih memiliki cukup kebijaksanaan untuk tetap menjadi manusia yang teduh.[]

Ahmad Dahri
Author: Ahmad Dahri

Pelayan Teras di Nerassuara.com

Avatar Ahmad Dahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *