Nerassuara.com – Saya dan Muktamar NU ke 35 di Jombang (Catatan Ringan dan Terakhir) Sudah dua pekan berlalu. Rasa-rasanya, jiwa ini masih berkeliling di sekitar lokasi Muktamar NU ke 35 itu. Semacam mengalami residu, pengendapan jejak toh walaupun tidaklah lama ketika saya berada di Tambakberas itu. Mengapa?
Satu, mungkin oleh karena memang saya baru pertama kalinya ke Tambakberas yang berdiri dan mengakar sebuah pesantren yang memiliki sejarah panjang tentang mata rantai keilmuan.
Dua, untuk pertama kalinya juga saya dapat hadir langsung ke lokasi Muktamar NU–yang barangkali untuk Muktamar berikutnya tidak di Jawa Timur, bahkan luar Jawa dan berpotensi tidak bisa hadir, kecuali atas kehendak-Nya. Sekalipun pada Muktamar tahun 2015 berada di Tebuireng, Jombang, saya juga tidak bisa hadir. Dan hanya bisa mengetahui dari media. Pun Muktamar di Lampung tahun 2021. Selebihnya, catatan atau kabar tentang Muktamar dapat diperoleh dari buku atau media digital yang merekamnya.
Tiga, saya bersyukur pula bisa keliling ke pesarean-pesarean Ulama di Jombang. Napak tilas dengan mendengarkan obrolan orang-orang sekitar pesarean. Bahkan dikiranya saya ini sedang ‘laku atau tirakatan’ sampai ada seseorang kemudian memberitahu saya, saat di pesarean KH. Asy’ari, yang merekomendasikan beristirahat sekaligus memberikan petunjuk lokasi masjid, yang dulunya dijadikan tempat ngaji oleh ayahanda Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama itu.
“Nanti kalau sudah sampai di lokasi, sampean ke belakang kamar mandi masjid itu. Ada sumur disitu. Sampean bisa minum. Konon itu, sumur yang dibangun Kiai Asy’ari,” kata seseorang yang mengenakan kaus oblong, mengenakan blangkon, dan sesekali mengepulkan asap, saat berbincang dengan saya.
Saya iyakan semua petunjuk itu. Bahkan di siang hari Kamis, 27 September 2026 itu, saya beristirahat sekitar satu jam di Masjid yang konon menjadi lokasi Kiai Asy’ari mengajar ngaji.
Ngapunten Mbah. kulo kodho, masjid e malah damel istirahat.
Selesai.


Tinggalkan Balasan